Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2018

Losing

I have lost. To my own battle. I've lost you. And on this wasteland. I keep on searching. For your traces. Under realization, I'm the one who left. And on this traumatic road. I keep on shouting how hurt I am. Without hesitation. That I may hurt you already. And on this suburban town. I kept on hitting my chest. As it won't stop bleeding. In hope you know the truth. I have lost. I have been lost. And I tried to draw you back. From the grave I threw you in. I have lost. I have been lost. And I try to miss you back. In the moment I fell in love with you.

10 April 2018

Selamat Ulang Tahun! Semoga di umur yang semakin tua ini, semua menjadi lebih jelas untukku. Menjadi pacuan bahwa aku dikejar waktu untuk menikah. Hahaha. Tahun ini, sama seperti tahun sebelumnya. Tak ada kue dan lilin yang bisa kutiup. Tak ada surprise yang benar-benar mengejutkan untukku. Dan tentu, air mata tetap mengalir, sayangnya bukan karena bahagia. Ya, seperti tahun-tahun yang telah lewat. Inginku, hanya sederhana, meniup kue ulang tahun seperti perayaan ulang tahun pada lazimnya. Namun apa daya, tak ada seorangpun yang ingin direpotkan membeli kue untukku. Haha. Setidak-tidaknya, tahun ini, aku tak dirumah dan nelangsa karena tak satupun ingat ulang tahun ku. Setidak-tidaknya, tahun ini, ada seseorang yang menepati janjinya untuk mengucapkan ulang tahun padaku. Setidak-tidaknya, tahun ini, aku tak lagi jadi gadis cengeng yang berharap lebih. Ya, lebih kepada penerimaan diri. Jadi, sebelum waktu berlalu, aku buat ini untukku sendiri. Sebagai pengingat, siapa diriku dima...

Monster

Pernahkah kamu merasa, bahwa kamu tak sendiri, tapi selalu merasa kesepian? Kesepian itu, temanku sejak dahulu. Sekalipun ada beberapa yang mengaku menjadi temanku, aki tak pernah benar-benar merasa ditemani. Karena pada dasarnya, kesepian bukanlah berarti kami sendiri. Namun jika harus memilih, aku lebih memilih sendiri dan sepi, daripada berteman namun tetap kesepian. Hehehe. Sedari kecil, aku selalu diajarkan untuk tak menunjukkan emosiku. Semarah apapun aku tak boleh mengekspresikannya. Sesedih apapun aku tak boleh menangis. Ibuku akan selalu melarangnya. Dan aku selalu mencoba menahannya. Akhirnya, aku selalu tumbang saat malam menjelang. Kala sunyi, tetes air selalu meleleh disudur mataku. Membasahi pipiku. Saat-saat seperti itu, aku harus menahan suaraku agar tak didengar siapapun, terlebih Ibyku, aku takut dimarahi lagi. Itu beranjak sampai sekarang. Aku tak pernah benar-benar menunjukkan emosiku pada siapapun. Aku menjadi seseorang yang sangat manipulatif. Ketika aku marah d...