2022, sudah sekian lama semenjak terakhir kali aku bercerita disini. Dunia sudah berubah. Aku sudah berubah. Benarkah? Kadang aku bertanya, mengapa semua sekarang terasa berbeda. Aku kah yang berubah, atau dunia kah yang tak sama. Atau semua sama saja sebenarnya hanya aku yang menjadi terlalu perasa? Entahlah, biarkan semua berjalan semestinya. 2022 Banyak sekali yang terjadi, pahit maupun manis ataupun asam semua kutelan sendiri. Tiada tempat berbagi maupun bercerita. Aku memang manusia gagal sosial. Aku terlalu banyak merepotkan kolegaku dengan masalahku. Tandanya, aku adalah seorang manusia yang gagal. Menyedihkan. Blog ini bangkit dari mati suri, tapi akan kembali mati. Hanya sekedar menyapa tuk terakhir kalinya kepada pembaca setia (yang sudah tak setia lagi). Kita ikhlaskan blog ini untuk terbengkalai, sehingga menjadi relik (dih sok penting). Hahaha. Aku masih terjebak, tak tahu cara keluar dan tak tahu cara terlepas. Masih dalam benang kusut sama yang semakin mengikat dan semak...
Aku bosan sama dia. Dia berisik! Terlalu manja dan menggantungkan hidupnya padaku. Awalnya aku kasihan padanya. Dia seperti manusia yang tak memiliki siapapun, selalu kesepian. Mungkin sekarang aku tahu alasan mereka meninggalkannya. Dia terlalu kekanakan! Aku lupa sedikit mengabarinya, dia akan marah. Aku lagi asyik main permainan gawai, dia akan kesal. Maunya dikabarin terus. Maunya dimanjain terus. Aku lama-lama muak menghadapi sifatnya. Keterlaluan. Nah kan aku bilang apa, dia mengirimiku banyak pesan dan meninggalkan belasan telepon tak terjawab hanya karena aku sedang ada yang dikerjakan. Ah. Aku kesal! Kutinggalkan saja dia. Bodo amat, pikirku. Aku jenuh dengan segala rupa tentang dia. Aku ga ingin lagi dengar omongannya. Biarin. Mau dia marah kek, mau dia kesal kek, aku juga butuh waktu ku sendiri. Privasiku. Sekalipun dia kekasihku, tak patut dia memperlakukanku bagai buronannya. Kesal. Kumatikan saja telepon genggam ini. Biar saja dia menangis. Sekali-kali dia harus bis...