Langsung ke konten utama

Head Full Of Stars

Aku bosan sama dia. Dia berisik! Terlalu manja dan menggantungkan hidupnya padaku. Awalnya aku kasihan padanya. Dia seperti manusia yang tak memiliki siapapun, selalu kesepian. Mungkin sekarang aku tahu alasan mereka meninggalkannya. Dia terlalu kekanakan! Aku lupa sedikit mengabarinya, dia akan marah. Aku lagi asyik main permainan gawai, dia akan kesal. Maunya dikabarin terus. Maunya dimanjain terus. Aku lama-lama muak menghadapi sifatnya. Keterlaluan.

Nah kan aku bilang apa, dia mengirimiku banyak pesan dan meninggalkan belasan telepon tak terjawab hanya karena aku sedang ada yang dikerjakan.

Ah.

Aku kesal!

Kutinggalkan saja dia. Bodo amat, pikirku. Aku jenuh dengan segala rupa tentang dia. Aku ga ingin lagi dengar omongannya. Biarin. Mau dia marah kek, mau dia kesal kek, aku juga butuh waktu ku sendiri. Privasiku. Sekalipun dia kekasihku, tak patut dia memperlakukanku bagai buronannya.

Kesal.

Kumatikan saja telepon genggam ini. Biar saja dia menangis. Sekali-kali dia harus bisa mandiri tanpa aku.

Ya.

-

"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif...."

Kenapa? Apa salahku? Kenapa begini? Apa yang harus kuperbuat? Pada siapa lagi aku bisa mengadu? Apa memang aku tak sepantas itu untuk dicintai? Iya kah? Kenapa semua orang akhirnya meninggalkan ku? Aku semenyebalkan itu?

Ah...

Baiklah...

Mungkin aku memang terlalu manja, terlalu cerewet dan memuakan.

Maafkan aku...

Maafkan aku...

Aku minta maaf...

Tolong...

Tolong...

To....ll...o...nggg

-

Ya. Aku akhirnya mendapatkan ketenangan itu. Dia tak pernah menggangguku lagi. Aku bisa melakukan semua semauku sekarang. Dia hanya mengirimiku pesan sesekali. Kalaupun aku telat balas dia tak pernah marah lagi. Aku senang. Aku tenang.

AKU BEBAS!

-

Ya, mungkin aku rasa aku rindu dia. Sedikit. Ingin melihat senyumnya. Tumben seharian ini dia ga ngechat? Mungkin akhirnya dia paham bahwa dunia kita sekalipun bersama tetap ada batasannya? Yeah, syukurlah. Mungkin dia belajar kali ini.

-

Sudah dua hari aku tak mendapat pesan darinya. Aku kirimi pesan mu tak terkirim. Kemana anak itu? Apa dia mau balas dendam? Cih. Segitunya. Dia belum belajar apapun ya?

-

Okay, ini keterlaluan. 5 hari tanpa kabar. Dia pikir dia siapa bisa berbuat seperti ini? Apa harus kutanya keluarganya? Cih, gamau. Ngapain. Malu-maluin. Besok-besok juga paling balik lagi.

-

Seminggu, aku mulai rindu padanya. Dia dimana ya sekarang? Semua sosial medianya tak memberikan pembaharuan. Sepertinya dia tak lagi bermain dengan akunnya. Kemana dia?

-

Sayang... Kamu dimana? Aku rindu senyum manjamu. Saat aku sedang bersedih kamu pasti panik karena jauh dariku. Saat aku sedang jatuh kamu akan selalu berusaha menguatkanku. Aku rindu. Rindu lembut nafasmu yang terlelap dalam pelukku. Rindu sekali. Kecupanmu saat mengucapkan selamat pagi sambil memelukku dan bersembunyi dari sinar matahari yang mulai terbit. Pelukanmu yang hangat sewaktu kita sedang berkendara. Tatapan polosmu kalau menanyakan sesuatu. Keluhmu akan keluarga dan problematika hidupmu. Rindu suara manjamu. Kamu kemana sayang? Ko ga ngabarin aku? Aku disini nungguin tau! Semua pesanku ga nyampe, ditelpon pun ga aktif. Kamu marah? Aku sempat datang ke rumahmu tapi tak satupun yang membuka pintu. Sayang... Aku rindu. Kemana harus kucari kamu? Ah... Aku lagi di kafe yang dulu nih. Kamu mau kesini ga?

-

Sayangku, maaf atas semua kesalahanku. Kamu perempuan yang baik. Paling baik yang pernah menjadi milikku. Kamu selalu merangkul semua kekuranganku. Mengisinya dengan kelebihanmu. Senyummu yang manis, pipimu yang tembam, rambutmu yang halus, kamu si manja!

Aku tahu kamu dimana sekarang. Maaf. Maaf aku telat mencarimu. Maaf. Maaf aku ternyata tak bisa menjagamu. Maaf aku pernah sebal karena sifatmu. Padahal kamu hanya khawatir. Aku menyesal. Sangat. Amat sangat menyesal.

Aku sudah tak mampu berpikir apapun. Selain bersujud menyimpuh padamu. Meminta maaf dan meminta waktu yang telah kubuang sia. Mau kan sayang? Mau kan kamu kembali menjadi milikku? Sayaaang, sini panggil aku lagi. Kamu boleh memarahiku kalau aku telat balas. Kamu boleh meninggalkan jutaan telepon tak terjawab di nomorku. Kamu boleh. Ayo sayang. Aku mohon. Ya? Kembali padaku ya? Jangan pergi dan meninggalkan luka untukku. Aku belum siap. Takkan siap. Gamau siap.

Perempuanku, ayoo, kita menjelajah peninggalan relik tua yang selalu kamu idamkan itu! Aku tak sabar lagi. Ayo kita beri nama anak kita sesuai maumu, aku tak peduli! Ayo kita makan semua makanan kesukaanmu. Kita pergi ke tempat-tempat yang kamu mau. Kita bertualang berdua! Atau kita hanya berbaring di kamar kita, mengeluarkan semua apa yang ada di benakmu dan di benakku. Kita coba hal-hal yang baru bagi kita seperti dahulu! Aku senang menjelajah pikiranmu. Unik. Kadang tak pernah bisa kutebak. Kamu perempuan paling unik yang pernah Tuhan ciptakan. Serasi denganku, manusia dengan pikiran paling aneh yang teman-temanku pernah jumpai. Ayo sayang!

--

Maaf kak, kami tak sempat menghubungi kakak. Kami terlalu sibuk. Dan gawai kakakku tak lagi berfungsi saat kami temukan. Saat itu kami sibuk menyembuhkannya. Namun kami tak bisa. Maaf... Ikhlas ya kak...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bilamana

Pada suatu malam yang kudus, aku melepas penatku dipelukmu. Peluh membanjir, kita berenang dalam kesunyian. Bibir kita gemetar, meliuk saling merengut tak ingin lepas. Sementara mata kita kunci untuk tetap terpejam. Agar? Nafas liar kita semakin memburu! Kupekerjakan kamu, supaya badanku tetap hangat. Kubiarkan kamu melenguh dan menikmati. Tapi tak kubiarkan kamu melayang. Kujaga tetap pada aturannya. Biar kudapati tanya di wajahmu. Aku senang bikin kamu bingung. Langit dimalam itu mendung, bekas hujan tadi sore masih menyelinap di jendela. Memberi kamar kita yang sepetak kedinginan yang luar biasa. Itulah mengapa aku rapatkan badanku padamu. Dan itulah alasan kamu menjadi lebih liar daripada biasa. Kita diatas, kita dibawah. Saling mencumbu, saling tersenyum. Lucu. Saat kulihat wajahmu yang penuh peluh tetap bersikukuh untuk menyerang. Kubiarkan kamu berbuat sesuka. Ini malam kita. Malam yang mungkin tak dapat kita temui lagi. Semakin cepat kau bergerak semakin keras lenguhanku. G...

Serendipity

Hari ini, aku selesai menonton suatu film yang sejak malam tak sempat aku selesaikan. Serendipity. Atau dalam bahasa Indonesia nya, Kebetulan. Filmnya menarik, bikin baper. Hahaha. Makna yang aku dapat dari film tersebut adalah, selalu ada cara. Even  kemungkinannya sangat kecil dan hampir tidak mungkin. Tapi, itulah takdir. Sebetulnya dalam pemikiranku, kebetulan itu tidak ada. Takdir adalah sesuatu yang mutlak yang telah dirancang Tuhan dengan indahnya. Ya... Sesederhana dan serumit itu.  Well,  lupakan film itu. Blog ini bukan tukang review  film ko hahaha. Merujuk pada kata kebetulan. Aku selalu merasa kecil kala merenung bagaimana Tuhan mempertemukan aku dengan setiap orang hadir di hidupku. Entah untuk tinggal atau hanya mampir. Kebetulan aku bertemu dengannya. Kebetulan aku berkenalan dengannya. Dan kebetulan kita saling menyakiti. Hahahaha. Itu salah. Itu bukan kebetulan deh. Aku pernah merasakan suatu kebetulan yang amat sangat menyenangkan. Dimana ...

Smile

Today, as I woke up (due to my fever, I sleep a lot ehe) I checked on my phone. Wondering if I get your message. But nothing. So I check on Instagram. And... that's it. Now I know the reason behind all of it. I'm not mad at you nor blame you. It's me. I know it. Finally, you could set yourself free. I smiled. I supposed to feel broken right? But I am not. I am happy for you. Seeing you smile like that with her kinda make me reminisce about us. Yes. We only existed in the past.  Jangan tanya kenapa aku tak mengirimimu pesan, aku cukup sadar diri untuk tidak merusak kebahagiaan mu. Tulisan ini bahkan aku tulis dengan perasaan yang bersalah pada special lady  mu. Sampaikan maafku padanya jika suatu saat nanti kamu membacanya. Rindu? benar, aku rindu. Kamu pun cukup sering kan aku ganggu dengan pesan marahku karena kamu tak pernah mengabariku? Sekarang aku punya alasan mengapa aku tak boleh menghubungi mu lagi. Tolong. Buat aku untuk tidak menghubungimu, apapun yang terjad...