Pada suatu malam yang kudus, aku melepas penatku dipelukmu. Peluh membanjir, kita berenang dalam kesunyian. Bibir kita gemetar, meliuk saling merengut tak ingin lepas. Sementara mata kita kunci untuk tetap terpejam. Agar? Nafas liar kita semakin memburu!
Kupekerjakan kamu, supaya badanku tetap hangat. Kubiarkan kamu melenguh dan menikmati. Tapi tak kubiarkan kamu melayang. Kujaga tetap pada aturannya. Biar kudapati tanya di wajahmu. Aku senang bikin kamu bingung.
Langit dimalam itu mendung, bekas hujan tadi sore masih menyelinap di jendela. Memberi kamar kita yang sepetak kedinginan yang luar biasa. Itulah mengapa aku rapatkan badanku padamu. Dan itulah alasan kamu menjadi lebih liar daripada biasa.
Kita diatas, kita dibawah. Saling mencumbu, saling tersenyum. Lucu. Saat kulihat wajahmu yang penuh peluh tetap bersikukuh untuk menyerang. Kubiarkan kamu berbuat sesuka. Ini malam kita. Malam yang mungkin tak dapat kita temui lagi.
Semakin cepat kau bergerak semakin keras lenguhanku. Gigiku bergemeretak, menahan rasa yang bercampur di ubunku. Segala apa yang menanti kita, seakan lenyap ketika aku dan kamu berpadu. Masalah keluarga, tunggakan, pekerjaan, studi, teman, bahkan cinta, tak lagi jadi prioritas kita. Yang kupikir hanya bagaimana caranya aku bisa terus bersamamu. Dan yang kau pikir adalah bagaimana caranya agar kita tak perlu memikirkan masa depan kita.
Kasurmu sudah semakin basah, spreinya berantakan disana sini, bantalnya sudah kulempar entah kemana, gulingnya mungkin jatuh didekat meja, selimutnya terserak dibelakang tubuhmu. Dan kita tetap bergerak. Mengalun. Seirama nafas yang makin tersenggal.
Terus...
Bergerak...
Terus...
Semakin lama...
Semakin cepat...
Berakhir sudah.
Kita tersenyum. Saling mengecup. Dan bersulang. Atas kemenangan. Atas kematian.
Mereka mendapati kita tak bernyawa lagi. Dengan peluk dan peluh.
Dan kita bahagia.
-Cerita Berakhir
Komentar
Posting Komentar