Langsung ke konten utama

Sesap

Hanya ada disudut ini, menatap, meliput, merekam. Segala apa yang terjadi. Maju mundur manusia yang berlalu lalang di hadapku. Ada yang tersenyum, ada yang melamun, ada yang tertawa, ada yang bekerja, ada yang menganggur, ada yang sekedar duduk dan menyesap sebatang rokok dengan bara yang menyala, ada yang memasak, ada yang sibuk dengan gawai yang mereka pegang, ada yang hanya sekedar numpang bernapas. Banyak.

Lalu, aku hanya disini. Masih disini, disudut. Dengan kabel yang tercolok ke gawaiku. Memperhatikan. Setiap-setiap mata yang berkerut, setiap-setiap mulut yang bersuara, setiap-setiap tangan yang bercengkrama. Dunia ini, bukan milikku. Aku hanya menumpang disini. Menumpang apa? Menitipkan hati. Hati siapa? Hatiku tentunya. Pada siapa? Pada dia. Yang tengah duduk dengan gawainya. Pada dia yang dengan semua kerendahan hatinya mau menerima serpihan jiwaku. Pada dia yang dengan segala kebaikannya merengkuh semua rapuhku. Lalu sekarang dia sedang tersenyum saat dia dapati aku memandang lekat posturnya.

Mereka bertanya, tidakkah aku terlalu cepat membuka hati untuknya, sedang dia yang pernah lama mengisi hatiku belum juga seikhlas aku melepas dia? Aku bilang, tak ada yang terlalu cepat pun terlalu lambat. Semuanya sudah ada waktunya. Sekalipun mata yang berkedip, sudah ada waktunya. Mereka bertanya lagi, yakinkah aku dengan semua keabuan yang dia pendarkan bahwa aku akan bahagia memilihnya daripada kembali pada dia yang sudah benar-benar mengenal buruk jeleknya aku? Aku tersenyum, bahagia ataupun tidak itu tetap aku yang memutuskan, hanya saja aku percaya padanya, bahwa ia takkan lukai aku, bahwa ia akan menjaga aku dengan segala aku. Dan mereka terdiam. Lantas memberkatiku dengan segala pilihanku.

For The First Time nya The Script mengalun dengan lembut. Mata kami langsung bertautan, dan senyum menyungging di kedua wajah kami. Lagu ini, selalu menjadi penguat kami. Disaat segala menjadi terasa berat untuk kami. Disaat aku selalu berusaha untuk melepasnya. Disaat aku selalu berpikiran untuk menyerah saja, pada kami, padanya. Dan dia selalu disana, dengan tatapannya yang sedikit nanar dan berharap bahwa aku merubah pikiranku. Dengan tangis, aku selalu tak bisa menolak untuk kembali memeluknya. Dan dengan erat, dia akan merangkulku.


...Oh these times are hard,
Yeah, they're making us crazy
Don't give up on me baby...

For The First Time - The Script


(Kudedikasikan ini, untuk seseorang, yang sangat penting bagi saya)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bilamana

Pada suatu malam yang kudus, aku melepas penatku dipelukmu. Peluh membanjir, kita berenang dalam kesunyian. Bibir kita gemetar, meliuk saling merengut tak ingin lepas. Sementara mata kita kunci untuk tetap terpejam. Agar? Nafas liar kita semakin memburu! Kupekerjakan kamu, supaya badanku tetap hangat. Kubiarkan kamu melenguh dan menikmati. Tapi tak kubiarkan kamu melayang. Kujaga tetap pada aturannya. Biar kudapati tanya di wajahmu. Aku senang bikin kamu bingung. Langit dimalam itu mendung, bekas hujan tadi sore masih menyelinap di jendela. Memberi kamar kita yang sepetak kedinginan yang luar biasa. Itulah mengapa aku rapatkan badanku padamu. Dan itulah alasan kamu menjadi lebih liar daripada biasa. Kita diatas, kita dibawah. Saling mencumbu, saling tersenyum. Lucu. Saat kulihat wajahmu yang penuh peluh tetap bersikukuh untuk menyerang. Kubiarkan kamu berbuat sesuka. Ini malam kita. Malam yang mungkin tak dapat kita temui lagi. Semakin cepat kau bergerak semakin keras lenguhanku. G...

Serendipity

Hari ini, aku selesai menonton suatu film yang sejak malam tak sempat aku selesaikan. Serendipity. Atau dalam bahasa Indonesia nya, Kebetulan. Filmnya menarik, bikin baper. Hahaha. Makna yang aku dapat dari film tersebut adalah, selalu ada cara. Even  kemungkinannya sangat kecil dan hampir tidak mungkin. Tapi, itulah takdir. Sebetulnya dalam pemikiranku, kebetulan itu tidak ada. Takdir adalah sesuatu yang mutlak yang telah dirancang Tuhan dengan indahnya. Ya... Sesederhana dan serumit itu.  Well,  lupakan film itu. Blog ini bukan tukang review  film ko hahaha. Merujuk pada kata kebetulan. Aku selalu merasa kecil kala merenung bagaimana Tuhan mempertemukan aku dengan setiap orang hadir di hidupku. Entah untuk tinggal atau hanya mampir. Kebetulan aku bertemu dengannya. Kebetulan aku berkenalan dengannya. Dan kebetulan kita saling menyakiti. Hahahaha. Itu salah. Itu bukan kebetulan deh. Aku pernah merasakan suatu kebetulan yang amat sangat menyenangkan. Dimana ...

Smile

Today, as I woke up (due to my fever, I sleep a lot ehe) I checked on my phone. Wondering if I get your message. But nothing. So I check on Instagram. And... that's it. Now I know the reason behind all of it. I'm not mad at you nor blame you. It's me. I know it. Finally, you could set yourself free. I smiled. I supposed to feel broken right? But I am not. I am happy for you. Seeing you smile like that with her kinda make me reminisce about us. Yes. We only existed in the past.  Jangan tanya kenapa aku tak mengirimimu pesan, aku cukup sadar diri untuk tidak merusak kebahagiaan mu. Tulisan ini bahkan aku tulis dengan perasaan yang bersalah pada special lady  mu. Sampaikan maafku padanya jika suatu saat nanti kamu membacanya. Rindu? benar, aku rindu. Kamu pun cukup sering kan aku ganggu dengan pesan marahku karena kamu tak pernah mengabariku? Sekarang aku punya alasan mengapa aku tak boleh menghubungi mu lagi. Tolong. Buat aku untuk tidak menghubungimu, apapun yang terjad...