Aku bosan sama dia. Dia berisik! Terlalu manja dan menggantungkan hidupnya padaku. Awalnya aku kasihan padanya. Dia seperti manusia yang tak memiliki siapapun, selalu kesepian. Mungkin sekarang aku tahu alasan mereka meninggalkannya. Dia terlalu kekanakan! Aku lupa sedikit mengabarinya, dia akan marah. Aku lagi asyik main permainan gawai, dia akan kesal. Maunya dikabarin terus. Maunya dimanjain terus. Aku lama-lama muak menghadapi sifatnya. Keterlaluan. Nah kan aku bilang apa, dia mengirimiku banyak pesan dan meninggalkan belasan telepon tak terjawab hanya karena aku sedang ada yang dikerjakan. Ah. Aku kesal! Kutinggalkan saja dia. Bodo amat, pikirku. Aku jenuh dengan segala rupa tentang dia. Aku ga ingin lagi dengar omongannya. Biarin. Mau dia marah kek, mau dia kesal kek, aku juga butuh waktu ku sendiri. Privasiku. Sekalipun dia kekasihku, tak patut dia memperlakukanku bagai buronannya. Kesal. Kumatikan saja telepon genggam ini. Biar saja dia menangis. Sekali-kali dia harus bis...
An extraordinary-rare-differentthinker-young girl. Eremophobia.