Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Head Full Of Stars

Aku bosan sama dia. Dia berisik! Terlalu manja dan menggantungkan hidupnya padaku. Awalnya aku kasihan padanya. Dia seperti manusia yang tak memiliki siapapun, selalu kesepian. Mungkin sekarang aku tahu alasan mereka meninggalkannya. Dia terlalu kekanakan! Aku lupa sedikit mengabarinya, dia akan marah. Aku lagi asyik main permainan gawai, dia akan kesal. Maunya dikabarin terus. Maunya dimanjain terus. Aku lama-lama muak menghadapi sifatnya. Keterlaluan. Nah kan aku bilang apa, dia mengirimiku banyak pesan dan meninggalkan belasan telepon tak terjawab hanya karena aku sedang ada yang dikerjakan. Ah. Aku kesal! Kutinggalkan saja dia. Bodo amat, pikirku. Aku jenuh dengan segala rupa tentang dia. Aku ga ingin lagi dengar omongannya. Biarin. Mau dia marah kek, mau dia kesal kek, aku juga butuh waktu ku sendiri. Privasiku. Sekalipun dia kekasihku, tak patut dia memperlakukanku bagai buronannya. Kesal. Kumatikan saja telepon genggam ini. Biar saja dia menangis. Sekali-kali dia harus bis...

Bunga

Layu. Bunga tlah layu. Hilang sudah. Mau bagaimana lagi? Bunga tak mampu tahan! Siapa yang patut disalahkan? Semua bungkam! Terkunci rapat mulut mereka. Sedang pemilik merasa ironi. Tak kurang kasih dan sayang ia siramkan. Jiwanya guncang. Saat sang bunga melayu mati. Semua nyinyir. Bunga masa depannya hancur. Karena ia jatuh pada kumbang yang salah. Karena ia serahkan jiwanya pada angin yang tak tepat. Karena ia cinta pada bulan yang tak berinya apapun. Semua salah bunga. Dan mereka sepakat. . . . . . Bunga melepas luas peluknya. Karena ia lebih pilih tanah tuk sisa waktunya. Dan bunga bahagia. Dalam matinya.

Star-Crossed Lovers

Aku pernah mencinta. Sangat cinta. Mungkin cinta mati. Atau mungkin juga cinta hidup. Entah. Pun, aku tak tahu bagaimana rasanya padaku. Bagaimana caranya memandangku. Pun, bagaimana caranya menginginiku. Atau sejujurnya dia tak pernah ingini aku? Entah. Mungkin, aku yang terlalu banyak harap dan imaji padanya. Sehingga meminta semesta raya mengamini serta merta semua puji-pujianku padanya. Atau juga... Kita saling rasa sesuatu yang tak pernah bisa kita genggam sama-sama. Kita saling mengaminkan semua kejujuran diri tanpa pernah saling tatap karena keterbatasan waktu, ruang, dan tempat? Kita saling menjanji untuk seiya dan sekata meski tak pernah terucap satu pun lain? Entah. Yang ku tahu, rasaku, sedikit sulit untuk dilupa. Sangat sebetulnya jika harus ku katakan. Ingin aku berlari mengejarnya, tak peduli dengan carut dan marut keadaan. Hanya saja, aku siapanya dia? Bagaimana, kalo selama ini ternyata aku yang rasa? Hmmmmm... Kenalku pertama kali, entah bagaimana. Aku tak ingat...

Tuhan Lebih Tahu

Pagi ini, dingin mendera ku. Rasanya aku nyaman sekali berselimut. Tanpa tahu apa yang akan terjadi, pagi ini aku mengucap syukur dan terima kasih pada Tuhanku. Atas hidup yang masih bisa kujalani. Siang ini, tangisku tak berhenti. Rasanya, aku kehilangan arahku lagi. Kata-kata yang kudengar dari seseorang yang amat kukasihi, berputar di kepalaku. Menjadi semacam anthem di kepalaku. Aku tersenyum dalam tangisku. Berharap bahwa ini hanya mimpi, atau beliau sedang mengerjaiku lewat acara Jebakan Betmen. Haha. Harapan hanya harapan. Disini aku diam, merebahkan tubuhku dikursi menghadap langit. Air mataku terus mengalir tanpa bisa ku berbuat. Tangisku sudah sedikit reda. Namun timbul sesak yang menghambat di paru ku. Aku tertegun. Ingin ku bertanya, ingin ku mengadu, ingin ku ... Ah sudahlah... Mataku kembali basah. Namun ku redam. Biarlah sesak. Tak mengapa. Sekejap lagi, derita ku usai sudah. Tuhan, kau lebih tahu kenapa aku memilih ini.

Untukmu, Untuk Kalian

Aku ingin melupa. Pernah menjadi bagian manis dalam pahit ini. Tolong... Biarkan saja aku tidur. Biar... Tak ada aku pun semua normal, bukan? Lalu kali ini, aku merasa dirampas. Peganganku... Pedomanku... Semua hilang tak berbejak... Lelahku tak jadi penat kalian... Tapi sakit mu menjadi luka yang menganga di benakku. Bilamana, aku memang tak dibiarkan ingin... Tak mengapa, biar saja aku tidur. Toh aku memang lebih suka tidur. Dalam tidurku, aku bisa menjadi siapa aku mau. Sekalipun akhir ini, mimpi ku selalu busuk. Tak apa. Setidaknya. Sakitku dimimpi tak berbekas, pun aku kan lupa ketika mimpi yang manis hadir. Jadi... Ingin kalian kan penuh... Aku hanya akan tidur. Tak usah risau. Kalian lebih senang ketika aku tak ganggu kan? Tidur. Tidurlah.

Sebiji Pisah

Kubisikkan pada malam, kutitipkan, rindu, bahwasanya mulai detik ini tugasku telah usai. Kuikhlaskan. Aku yakin aku telah amat sangat menyakitinya. Tapi itu untuk kebaikannya. Ku doa pada Tuhan, beri ia seseorang yang patut mencintanya sepantasnya. Jangan biar ia merasa sepi barang senapas pun. Bahagia nya bagaimanapun telah, adalah, dan tetap menjadi bahagia ku. Selalu, dan selalu. Berbahagialah. Cinta. Rindu ini semakin menjemu. Daya ku tak berupaya. Peluhku telah beku dengan dingin yang memabukkan. Aku merindunya. Merindu terlelap dalam dekap hangatnya. Menatap lentik bulu yang berderet rapi di matanya. Merasakan lembut dengkurnya. Dan mengecup bibirnya yang tertelungkup. Mencuri cium yang melenakan jiwaku. Jika tak begini, aku akan selalu tuntut ia berubah menjadi mau ku. Padahal di tubuhnya ada jiwa dan pemikiran bebas yang selalu ia liarkan. Jika tak begini, aku akan selalu ingin diamkan ia supaya selaras dengan tuturku. Padahal di hatinya ada cinta yang tak perlu ditakluk unt...

Losing

I have lost. To my own battle. I've lost you. And on this wasteland. I keep on searching. For your traces. Under realization, I'm the one who left. And on this traumatic road. I keep on shouting how hurt I am. Without hesitation. That I may hurt you already. And on this suburban town. I kept on hitting my chest. As it won't stop bleeding. In hope you know the truth. I have lost. I have been lost. And I tried to draw you back. From the grave I threw you in. I have lost. I have been lost. And I try to miss you back. In the moment I fell in love with you.

10 April 2018

Selamat Ulang Tahun! Semoga di umur yang semakin tua ini, semua menjadi lebih jelas untukku. Menjadi pacuan bahwa aku dikejar waktu untuk menikah. Hahaha. Tahun ini, sama seperti tahun sebelumnya. Tak ada kue dan lilin yang bisa kutiup. Tak ada surprise yang benar-benar mengejutkan untukku. Dan tentu, air mata tetap mengalir, sayangnya bukan karena bahagia. Ya, seperti tahun-tahun yang telah lewat. Inginku, hanya sederhana, meniup kue ulang tahun seperti perayaan ulang tahun pada lazimnya. Namun apa daya, tak ada seorangpun yang ingin direpotkan membeli kue untukku. Haha. Setidak-tidaknya, tahun ini, aku tak dirumah dan nelangsa karena tak satupun ingat ulang tahun ku. Setidak-tidaknya, tahun ini, ada seseorang yang menepati janjinya untuk mengucapkan ulang tahun padaku. Setidak-tidaknya, tahun ini, aku tak lagi jadi gadis cengeng yang berharap lebih. Ya, lebih kepada penerimaan diri. Jadi, sebelum waktu berlalu, aku buat ini untukku sendiri. Sebagai pengingat, siapa diriku dima...

Monster

Pernahkah kamu merasa, bahwa kamu tak sendiri, tapi selalu merasa kesepian? Kesepian itu, temanku sejak dahulu. Sekalipun ada beberapa yang mengaku menjadi temanku, aki tak pernah benar-benar merasa ditemani. Karena pada dasarnya, kesepian bukanlah berarti kami sendiri. Namun jika harus memilih, aku lebih memilih sendiri dan sepi, daripada berteman namun tetap kesepian. Hehehe. Sedari kecil, aku selalu diajarkan untuk tak menunjukkan emosiku. Semarah apapun aku tak boleh mengekspresikannya. Sesedih apapun aku tak boleh menangis. Ibuku akan selalu melarangnya. Dan aku selalu mencoba menahannya. Akhirnya, aku selalu tumbang saat malam menjelang. Kala sunyi, tetes air selalu meleleh disudur mataku. Membasahi pipiku. Saat-saat seperti itu, aku harus menahan suaraku agar tak didengar siapapun, terlebih Ibyku, aku takut dimarahi lagi. Itu beranjak sampai sekarang. Aku tak pernah benar-benar menunjukkan emosiku pada siapapun. Aku menjadi seseorang yang sangat manipulatif. Ketika aku marah d...

Pernikahan

Marriage. Aku kadang ngeri mendengar kata ini. Bagiku pernikahan bukanlah suatu tujuan. Karena, dalam pikiranku, pernikahan adalah sesuatu yang tidak sesakral itu. Kenapa? Mungkin karena aku ada didalam sesuatu yang mereka sebut perceraian. Didalam artiku, pernikahan yang se-kramat itu bisa hancur hanya karena pihak lain yang mungkin dirasa lebih menggoda. Jadi, untuk apa menikah jika kita tetap menganut pada prinsip "jodoh siapa yang tahu"? Sampai sekarang, aku masih tidak mengerti kenapa teman-teman ku bersikeras ingin menikah muda. Pasalnya, untuk menikah, buatku, bukan hanya perkara menghalalkan pacaran. Bukan hanya menghalalkan "ena-ena". Bukan hanya menghalalkan kontak fisik yang selama ini mereka damba. Lebih dari itu, sesiap apa kamu untuk mengurus orang lain yang katanya kamu sayangi? Salut, pada mereka yang memutuskan untuk menikah muda. Berani sekali. Di usia yang bisa dibilang belum matang berpikir dan pengalaman berkomunikasi yang pastinya sedikit leb...

How to find a Light?

So here I am. Crying myself out. Ruining my mascara. Of course, my eyeliner already worn out. It's a rainy day. When I found myself crumbling. My hands is shaking. And my spine is shivering. I couldn't think any way out. Am just sitting there. Blank space. I'm trying to ask Google Maps, where to go. But they can't give me any clue. So I'm stuck there. Nailing my point nowhere. 3 am. The worst time. You know why? Because it's the time. For a monster to be awake inside myself. Moreover. I am the monster. Monster of myself. Blacked out. I hate darkness. But I don't fit lights well. Where should I stay?

Puisi untuk AKU

Tandus. Tak ada yang lebih mewakili itu untuk aku. Sesat. Begitulah sehariku menjalani waktu. Aku terkatung mencari apa ujudku. Menolak ini itu yang menjadi pilihanku. Meyakini apa-apa yang mereka ingini aku menjadi. Lalu aku disini. Menangisi sesuatu yang membuat dadaku terasa nyeri kala menghela. Apa itu? Entah. Ingin kurobek sesuatu didadaku ini. Biar perih tak setia tinggal disana. Biar luka tak perlu menganga di gelap sana. Biar. Biar aku menjadi manusia tak berjiwa. Jika itu mau mereka. Aku. Lelah. Aku. Lelap.

Larung Lara

Sedih, kecewa, marah, semua berpadu sore itu. Lelah juga. Perjalanan ku dari rumah ke kota yang berbeda lalu pergi lagi ke kota yang berbeda sungguh melelahkan. Namun apa yang aku dapati? Kamu tertidur, melupa semua juangku. Awalnya aku masih menanti dengan sabar. Berharap kamu terjaga dan memelukku yang sedari tadi memerhatimu dan temanmu terlelap. Tapi tak kunjung jua kau mengerjap. Hingga penat kepalaku. Akhirnya kuputus tuk pergi ditengah hujan yang bergerimis. Kamu menahanku setengah sadar. Dapat kulihat marah dikedua matamu. Lenganmu mencengkram kuat pergelangan tanganku. Hingga merah membekas dan sakit dipegang. Tapi aku tak menangis. Aku sudah muak! Kukatakan padamu aku akan pulang. Kau tanya bukankah kamu adalah pulang ku? Namun aku hanya tersenyum sesinis mungkin. Berusaha untuk meluka hatimu sedalam mungkin. Dan aku pun berlalu dengan kendaraan yang menjemput. Setengah menahan emosi, aku berpikir sepanjang banjir yang kulewati. Aku merasa malu. Apa yang telah kuperbuat? Pad...

Antara

Jadi, kamu masih berusaha untuk mengejarku. Memintaku kembali menjadi seseorang yang dulu kamu kenal. Menjadi aku, yang dulu bisa kamu atur semaumu. Menjadi aku, yang dulu mati-matian mencintaimu dan berusaha sebisaku mempertahankan kamu tetap bersamaku. Aku tertawa. Licik. Itu yang kupikirkan tentangmu. Aku merasa kenapa aku bisa sebodoh itu, menjatuhkan diriku untukmu? Tapi itu dulu, sekarang pikiran itu tak pernah ada lagi. Justru aku berterimakasih padamu, karena mu aku tahu bahwa ada beberapa hal yang memang tidak akan bisa kita miliki sekuat apapun kita berusaha dan berdoa. Ada ketentuan-ketentuan Tuhan yang tak bisa kita, sebagai manusia, hanya manusia, kita langgar. Aku jadi belajar untuk lebih menghargai diriku sendiri, mencinta diriku sendiri, agar orang juga tahu, seberapa berharganya diriku. Kamu berteriak, seakan aku manusia paling jahat karena telah memalingkan wajahku darimu. Telah melangkahkan kakiku menjauhimu. Telah memutuskan untuk melepas tali yang mengikat, dianta...

Rain

Sore kemarin, hujan turun. Tidak deras, tidak juga gerimis. Secukupnya. Aku langsung rebah dikursi yang ada di Ruang Tamu rumahku. Memandang titik air yang dengan sukarela menjatuhkan diri dari langit, dan menggenang di pelataran teras rumahku. Hujan kali ini tanpa gemuruh marah dewa Zeus. Dan aku suka. Rasanya sunyi menjadi tempat istirahat yang baik. Mataku terpejam. Menikmati suasana yang sudah agak susah kudapat ini. Ritme hujan, sunyinya rumah, dengan sedikit tarikan nafas Danilla, memenuhi ruang singgahku kali ini. Ah. Indah. Mataku terpekur melihat notifikasi Line pagi kemarin. Kamu muncul disana. Muncul kembali. Entah tujuannya apa. Aku bimbang. Meragu. Haruskah kuterima kamu kembali? Sedang rasaku telah meluap pada seseorang diluar sana. Meskipun tak tersampaikan, tapi aku tak ingin munafik, rasa ini ada untuk dia. Hingga, akhirnya aku terima kamu. Bukan untuk kembali. Hanya untuk mempertegas, rasaku sudah bukan lagi untukmu. Begitulah pikirku. Kamu berkata pagi ini, padaku...

Stargazing

Kembali. Kutulis tentangmu... Tanganku gatal ingin menumpahkan semua yang ada dibenakku. Entah kenapa, jarak selalu berhasil membawa rindu kembali menjerit. Iya. Hatiku memang masih merindumu. Kamu keberatan? Jalanan macet kali ini, kepalaku pusing melihat lalu lalang kendaraan berikut orang yang berjalan keseberang. Kukencangkan lagu yang sedang mengalun. Dan bernyanyi sepenuh jiwaku. Biar gundah tak betah. Lalu kubuka notifikasi yang biasa ku biarkan. Kulihat kamu berbincang. Lalu aku penasaran. Dan aku terluka mengetahuimu memeluk dusta. Ya. Ternyata, perasaan tak semudah itu menguap. Sisa malam ini, kutulis tentang luka yang perih kau rasa. Membayang apa yang harus kamu alami, tanpa aku bisa berbuat apa. Pikirku harus tetap jernih, selama aku hanya mampu berempati, beginilah doaku. Kudoakan senyummu selalu tersungging, senang pun susah. Aku tahu, kamu jiwa yang tak sepatah itu untuk merapuh. Sekali boleh saja. Kamu manusia. Menangis tak mengapa. Lelaki boleh begitu. Hanya untuk ...

Dan (Lagi)

Harapan. Aku benci berharap. Harapanku hanya memberi luka bagiku, tak lebih. Sedih. Harapan. Aku benci berharap. Harapanku hanya membunuhku secara perlahan. Memyakitkan. Seharusnya aku tahu, aku tak bisa bersandar pada sesiapa. Kenapa dengan bodohnya aku bisa berpikir bahwa aku bisa seperti yang lainnya? Seharusnya aku sadar diri, aku tak seharusnya berharap seseorang akan mencintaiku, seperti aku mencintai mereka. Seharusnya aku mawas diri, siapa aku? Tenang, yang menyakitiku bukan kalian. Tapi harapanku sendiri. Seharusnya. Aku tak pernah berusaha membuka diri pada sesiapapun. Seharusnya aku tetap sendiri saja. Dengan segala penatku. Siapa tahu, aku takkan tersakiti lagi. Siapa tahu? Jadi, kubiarkan air membasah dimataku. Menggenang. Dan jatuh turum ke wajahku. Kubiarkan ia membasuh luka. Supaya setidaknya kering dan tak menyakitkan lagi. Kembalilah, pada dirimu sendiri. For no one could save you, except yourself.

Detuk Detik

Tuk... Tuk.. Tuk... Kembali kulihat jam yang betah menempel di dinding. Waktu semakin larut, begitupula aku, yang semakin larut meluruh padamu. Semakin kukencangkan genggamanku pada jemarimu, takut-takut terlepas. Asap yang kau kepulkan dari mulutmu menyerbuku, yang serta merta kamu kibas ke sudut lain. Dengan jemarimu, kamu cubit pipiku sebelah, yang kanan. Lalu tersenyum. Lalu aku jatuh. Ya. Jatuh semakin jatuh pada pelukmu. Selama berbulan ini, sengaja kuhabiskan waktu denganmu banyak-banyak. Tak peduli jika aku harus rebutan kursi di Damri, jika itu bisa membuatku melena disisimu. Tak peduli jika harus kutahan kantukku, jika itu bisa menemanimu sedetik lebih lama. Tak peduli jika harus ku abaikan pulangku, jika itu bisa menabung rinduku. Iya. Kamu. Yang akhir-akhir ini buat pikirku tak lepas dari sosokmu. Segala hal kecil yang kamu perbuat. Entah minuman kesukaanku yang selalu sengaja kau beli dari minimarket. Atau step motor yang segera kamu turunkan sebelum kita melintasi rayan...

Bilamana

Pada suatu malam yang kudus, aku melepas penatku dipelukmu. Peluh membanjir, kita berenang dalam kesunyian. Bibir kita gemetar, meliuk saling merengut tak ingin lepas. Sementara mata kita kunci untuk tetap terpejam. Agar? Nafas liar kita semakin memburu! Kupekerjakan kamu, supaya badanku tetap hangat. Kubiarkan kamu melenguh dan menikmati. Tapi tak kubiarkan kamu melayang. Kujaga tetap pada aturannya. Biar kudapati tanya di wajahmu. Aku senang bikin kamu bingung. Langit dimalam itu mendung, bekas hujan tadi sore masih menyelinap di jendela. Memberi kamar kita yang sepetak kedinginan yang luar biasa. Itulah mengapa aku rapatkan badanku padamu. Dan itulah alasan kamu menjadi lebih liar daripada biasa. Kita diatas, kita dibawah. Saling mencumbu, saling tersenyum. Lucu. Saat kulihat wajahmu yang penuh peluh tetap bersikukuh untuk menyerang. Kubiarkan kamu berbuat sesuka. Ini malam kita. Malam yang mungkin tak dapat kita temui lagi. Semakin cepat kau bergerak semakin keras lenguhanku. G...

Sesap

Hanya ada disudut ini, menatap, meliput, merekam. Segala apa yang terjadi. Maju mundur manusia yang berlalu lalang di hadapku. Ada yang tersenyum, ada yang melamun, ada yang tertawa, ada yang bekerja, ada yang menganggur, ada yang sekedar duduk dan menyesap sebatang rokok dengan bara yang menyala, ada yang memasak, ada yang sibuk dengan gawai yang mereka pegang, ada yang hanya sekedar numpang bernapas. Banyak. Lalu, aku hanya disini. Masih disini, disudut. Dengan kabel yang tercolok ke gawaiku. Memperhatikan. Setiap-setiap mata yang berkerut, setiap-setiap mulut yang bersuara, setiap-setiap tangan yang bercengkrama. Dunia ini, bukan milikku. Aku hanya menumpang disini. Menumpang apa? Menitipkan hati. Hati siapa? Hatiku tentunya. Pada siapa? Pada dia. Yang tengah duduk dengan gawainya. Pada dia yang dengan semua kerendahan hatinya mau menerima serpihan jiwaku. Pada dia yang dengan segala kebaikannya merengkuh semua rapuhku. Lalu sekarang dia sedang tersenyum saat dia dapati aku mem...