Kembali. Kutulis tentangmu... Tanganku gatal ingin menumpahkan semua yang ada dibenakku. Entah kenapa, jarak selalu berhasil membawa rindu kembali menjerit. Iya. Hatiku memang masih merindumu. Kamu keberatan?
Jalanan macet kali ini, kepalaku pusing melihat lalu lalang kendaraan berikut orang yang berjalan keseberang. Kukencangkan lagu yang sedang mengalun. Dan bernyanyi sepenuh jiwaku. Biar gundah tak betah. Lalu kubuka notifikasi yang biasa ku biarkan. Kulihat kamu berbincang. Lalu aku penasaran. Dan aku terluka mengetahuimu memeluk dusta. Ya. Ternyata, perasaan tak semudah itu menguap.
Sisa malam ini, kutulis tentang luka yang perih kau rasa. Membayang apa yang harus kamu alami, tanpa aku bisa berbuat apa. Pikirku harus tetap jernih, selama aku hanya mampu berempati, beginilah doaku.
Kudoakan senyummu selalu tersungging, senang pun susah. Aku tahu, kamu jiwa yang tak sepatah itu untuk merapuh. Sekali boleh saja. Kamu manusia. Menangis tak mengapa. Lelaki boleh begitu. Hanya untuk kamu tahu, perihal air mata, sesiapapun, disahkan untuk menyalurkannya. Hanya, untuk kamu tahu, kamu, boleh menangis dan memilih untuk bangkit atau tetap menetap pada hati yang lena. Itu pilihanmu.
Kudoakan kamu, hatimu semakin kuat. Tapi, jangan menutup diri. Banyak yang peduli padamu, banyak yang sayang padamu, termasuk aku. Hehe. Tapi jangan dijadikan beban. Biar semua mengalir selayak waktu. Sesiapapun, punya hak untuk dicinta, pun mencinta. Dan kamu bukan pengecualian. Tegarlah. Peluk lelahmu, nikmati sakitmu, lalu berlarilah. Sampai kamu lelah, sampai kamu merasa rusak. Sampai kamu, paham bahwa kamu sekuat itu untuk menikmati bintang jatuh.
Jadilah dirimu sendiri, dia, kamu, sesiapapun pantas bahagia dan berbangga atas kamu. Atas pilihan kamu.
Bernafaslah. Tersenyumlah. Berbahagialah.
Aku menyayangimu.
Dan selalu begitu.
Masih merindumu juga.
Hadirlah kembali, dalam mimpiku.
-SeRa
Komentar
Posting Komentar