Langsung ke konten utama

Stargazing

Kembali. Kutulis tentangmu... Tanganku gatal ingin menumpahkan semua yang ada dibenakku. Entah kenapa, jarak selalu berhasil membawa rindu kembali menjerit. Iya. Hatiku memang masih merindumu. Kamu keberatan?

Jalanan macet kali ini, kepalaku pusing melihat lalu lalang kendaraan berikut orang yang berjalan keseberang. Kukencangkan lagu yang sedang mengalun. Dan bernyanyi sepenuh jiwaku. Biar gundah tak betah. Lalu kubuka notifikasi yang biasa ku biarkan. Kulihat kamu berbincang. Lalu aku penasaran. Dan aku terluka mengetahuimu memeluk dusta. Ya. Ternyata, perasaan tak semudah itu menguap.

Sisa malam ini, kutulis tentang luka yang perih kau rasa. Membayang apa yang harus kamu alami, tanpa aku bisa berbuat apa. Pikirku harus tetap jernih, selama aku hanya mampu berempati, beginilah doaku.

Kudoakan senyummu selalu tersungging, senang pun susah. Aku tahu, kamu jiwa yang tak sepatah itu untuk merapuh. Sekali boleh saja. Kamu manusia. Menangis tak mengapa. Lelaki boleh begitu. Hanya untuk kamu tahu, perihal air mata, sesiapapun, disahkan untuk menyalurkannya. Hanya, untuk kamu tahu, kamu, boleh menangis dan memilih untuk bangkit atau tetap menetap pada hati yang lena. Itu pilihanmu.

Kudoakan kamu, hatimu semakin kuat. Tapi, jangan menutup diri. Banyak yang peduli padamu, banyak yang sayang padamu, termasuk aku. Hehe. Tapi jangan dijadikan beban. Biar semua mengalir selayak waktu. Sesiapapun, punya hak untuk dicinta, pun mencinta. Dan kamu bukan pengecualian. Tegarlah. Peluk lelahmu, nikmati sakitmu, lalu berlarilah. Sampai kamu lelah, sampai kamu merasa rusak. Sampai kamu, paham bahwa kamu sekuat itu untuk menikmati bintang jatuh.

Jadilah dirimu sendiri, dia, kamu, sesiapapun pantas bahagia dan berbangga atas kamu. Atas pilihan kamu.

Bernafaslah. Tersenyumlah. Berbahagialah.

Aku menyayangimu.

Dan selalu begitu.

Masih merindumu juga.

Hadirlah kembali, dalam mimpiku.

-SeRa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bilamana

Pada suatu malam yang kudus, aku melepas penatku dipelukmu. Peluh membanjir, kita berenang dalam kesunyian. Bibir kita gemetar, meliuk saling merengut tak ingin lepas. Sementara mata kita kunci untuk tetap terpejam. Agar? Nafas liar kita semakin memburu! Kupekerjakan kamu, supaya badanku tetap hangat. Kubiarkan kamu melenguh dan menikmati. Tapi tak kubiarkan kamu melayang. Kujaga tetap pada aturannya. Biar kudapati tanya di wajahmu. Aku senang bikin kamu bingung. Langit dimalam itu mendung, bekas hujan tadi sore masih menyelinap di jendela. Memberi kamar kita yang sepetak kedinginan yang luar biasa. Itulah mengapa aku rapatkan badanku padamu. Dan itulah alasan kamu menjadi lebih liar daripada biasa. Kita diatas, kita dibawah. Saling mencumbu, saling tersenyum. Lucu. Saat kulihat wajahmu yang penuh peluh tetap bersikukuh untuk menyerang. Kubiarkan kamu berbuat sesuka. Ini malam kita. Malam yang mungkin tak dapat kita temui lagi. Semakin cepat kau bergerak semakin keras lenguhanku. G...

Serendipity

Hari ini, aku selesai menonton suatu film yang sejak malam tak sempat aku selesaikan. Serendipity. Atau dalam bahasa Indonesia nya, Kebetulan. Filmnya menarik, bikin baper. Hahaha. Makna yang aku dapat dari film tersebut adalah, selalu ada cara. Even  kemungkinannya sangat kecil dan hampir tidak mungkin. Tapi, itulah takdir. Sebetulnya dalam pemikiranku, kebetulan itu tidak ada. Takdir adalah sesuatu yang mutlak yang telah dirancang Tuhan dengan indahnya. Ya... Sesederhana dan serumit itu.  Well,  lupakan film itu. Blog ini bukan tukang review  film ko hahaha. Merujuk pada kata kebetulan. Aku selalu merasa kecil kala merenung bagaimana Tuhan mempertemukan aku dengan setiap orang hadir di hidupku. Entah untuk tinggal atau hanya mampir. Kebetulan aku bertemu dengannya. Kebetulan aku berkenalan dengannya. Dan kebetulan kita saling menyakiti. Hahahaha. Itu salah. Itu bukan kebetulan deh. Aku pernah merasakan suatu kebetulan yang amat sangat menyenangkan. Dimana ...

Smile

Today, as I woke up (due to my fever, I sleep a lot ehe) I checked on my phone. Wondering if I get your message. But nothing. So I check on Instagram. And... that's it. Now I know the reason behind all of it. I'm not mad at you nor blame you. It's me. I know it. Finally, you could set yourself free. I smiled. I supposed to feel broken right? But I am not. I am happy for you. Seeing you smile like that with her kinda make me reminisce about us. Yes. We only existed in the past.  Jangan tanya kenapa aku tak mengirimimu pesan, aku cukup sadar diri untuk tidak merusak kebahagiaan mu. Tulisan ini bahkan aku tulis dengan perasaan yang bersalah pada special lady  mu. Sampaikan maafku padanya jika suatu saat nanti kamu membacanya. Rindu? benar, aku rindu. Kamu pun cukup sering kan aku ganggu dengan pesan marahku karena kamu tak pernah mengabariku? Sekarang aku punya alasan mengapa aku tak boleh menghubungi mu lagi. Tolong. Buat aku untuk tidak menghubungimu, apapun yang terjad...