Jadi, kamu masih berusaha untuk mengejarku. Memintaku kembali menjadi seseorang yang dulu kamu kenal. Menjadi aku, yang dulu bisa kamu atur semaumu. Menjadi aku, yang dulu mati-matian mencintaimu dan berusaha sebisaku mempertahankan kamu tetap bersamaku. Aku tertawa. Licik. Itu yang kupikirkan tentangmu. Aku merasa kenapa aku bisa sebodoh itu, menjatuhkan diriku untukmu? Tapi itu dulu, sekarang pikiran itu tak pernah ada lagi. Justru aku berterimakasih padamu, karena mu aku tahu bahwa ada beberapa hal yang memang tidak akan bisa kita miliki sekuat apapun kita berusaha dan berdoa. Ada ketentuan-ketentuan Tuhan yang tak bisa kita, sebagai manusia, hanya manusia, kita langgar. Aku jadi belajar untuk lebih menghargai diriku sendiri, mencinta diriku sendiri, agar orang juga tahu, seberapa berharganya diriku.
Kamu berteriak, seakan aku manusia paling jahat karena telah memalingkan wajahku darimu. Telah melangkahkan kakiku menjauhimu. Telah memutuskan untuk melepas tali yang mengikat, diantara kita. Kamu selalu menyudutkan aku, yang dengan santainya pergi dari hidupmu. Membawa semua perasaanku, dan tinggalkan luka dalam-dalam di jiwamu. Aku terima. Memang. Aku yang pergi. Aku yang memutuskan. Aku yang menjauh. Tak perlu kukatakan lagi alasannya, kan?
Dan kini, kamu pertanyakan kemana perasaanku. Aku hanya tersenyum, seraya mempertanyakan hal yang sama. Kau kemanakan perasaanku yang dulu begitu giat kujaga? Tak mungkin kan aku tetiba menghindar jika kamu, perlakukan aku dengan benar?
Dan kini, kamu utarakan penyesalanmu. Yang tak mampu siapkan hati akan kepergianku. Yang tak mampu pertahankan aku yang kini tak lagi milikmu. Kamu bertanya, apa rasanya hidup tak denganmu. Aku jawab "sama saja. Kamu tak pernah ada untukku. Malah-malah asyik kenalan dengan yang lain. Justru aku sekarang merasa jadi diriku sendiri lagi. Yang tak perlu izin ini itu ketika harus pergi, atau ada teman lelaki yang menyapa" lalu kamu hanya tersenyum. Getir.
Aku takkan meminta maaf, pun memyuruhmu meminta maaf padaku. Bagiku rasanya sekarang kita impas. Jika kamu merasa, sekarang rasamu padaku lebih besar dari saat pertama kamu memintaku menjadi pasanganmu. Ya... Itu urusanmu. Bukan urusanku. Sebagaimana aku telah mengurus perasaanku sendiri.
Tolong, jangan halangi aku untuk mencinta seseorang yang bukan kamu. Sekalipun, aku tak mendapat balasan darinya, itu bukan urusanmu. Bukan pula urusannya. Rasaku ini milik pribadi. Tak perlu kamu menghujat, mencari pembelaan, membandingkan dirimu dengannya. Aku mencintainya. Dan aku punya hak itu, selama itu tak mengganggunya.
Jadi, mari... Kita urus urusan masing-masing saja :)
-PadaSeseorangDiMasaLampau
Komentar
Posting Komentar