Langsung ke konten utama

Antara

Jadi, kamu masih berusaha untuk mengejarku. Memintaku kembali menjadi seseorang yang dulu kamu kenal. Menjadi aku, yang dulu bisa kamu atur semaumu. Menjadi aku, yang dulu mati-matian mencintaimu dan berusaha sebisaku mempertahankan kamu tetap bersamaku. Aku tertawa. Licik. Itu yang kupikirkan tentangmu. Aku merasa kenapa aku bisa sebodoh itu, menjatuhkan diriku untukmu? Tapi itu dulu, sekarang pikiran itu tak pernah ada lagi. Justru aku berterimakasih padamu, karena mu aku tahu bahwa ada beberapa hal yang memang tidak akan bisa kita miliki sekuat apapun kita berusaha dan berdoa. Ada ketentuan-ketentuan Tuhan yang tak bisa kita, sebagai manusia, hanya manusia, kita langgar. Aku jadi belajar untuk lebih menghargai diriku sendiri, mencinta diriku sendiri, agar orang juga tahu, seberapa berharganya diriku.

Kamu berteriak, seakan aku manusia paling jahat karena telah memalingkan wajahku darimu. Telah melangkahkan kakiku menjauhimu. Telah memutuskan untuk melepas tali yang mengikat, diantara kita. Kamu selalu menyudutkan aku, yang dengan santainya pergi dari hidupmu. Membawa semua perasaanku, dan tinggalkan luka dalam-dalam di jiwamu. Aku terima. Memang. Aku yang pergi. Aku yang memutuskan. Aku yang menjauh. Tak perlu kukatakan lagi alasannya, kan?

Dan kini, kamu pertanyakan kemana perasaanku. Aku hanya tersenyum, seraya mempertanyakan hal yang sama. Kau kemanakan perasaanku yang dulu begitu giat kujaga? Tak mungkin kan aku tetiba menghindar jika kamu, perlakukan aku dengan benar?

Dan kini, kamu utarakan penyesalanmu. Yang tak mampu siapkan hati akan kepergianku. Yang tak mampu pertahankan aku yang kini tak lagi milikmu. Kamu bertanya, apa rasanya hidup tak denganmu. Aku jawab "sama saja. Kamu tak pernah ada untukku. Malah-malah asyik kenalan dengan yang lain. Justru aku sekarang merasa jadi diriku sendiri lagi. Yang tak perlu izin ini itu ketika harus pergi, atau ada teman lelaki yang menyapa" lalu kamu hanya tersenyum. Getir.

Aku takkan meminta maaf, pun memyuruhmu meminta maaf padaku. Bagiku rasanya sekarang kita impas. Jika kamu merasa, sekarang rasamu padaku lebih besar dari saat pertama kamu memintaku menjadi pasanganmu. Ya... Itu urusanmu. Bukan urusanku. Sebagaimana aku telah mengurus perasaanku sendiri.

Tolong, jangan halangi aku untuk mencinta seseorang yang bukan kamu. Sekalipun, aku tak mendapat balasan darinya, itu bukan urusanmu. Bukan pula urusannya. Rasaku ini milik pribadi. Tak perlu kamu menghujat, mencari pembelaan, membandingkan dirimu dengannya. Aku mencintainya. Dan aku punya hak itu, selama itu tak mengganggunya.

Jadi, mari... Kita urus urusan masing-masing saja :)

-PadaSeseorangDiMasaLampau

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bilamana

Pada suatu malam yang kudus, aku melepas penatku dipelukmu. Peluh membanjir, kita berenang dalam kesunyian. Bibir kita gemetar, meliuk saling merengut tak ingin lepas. Sementara mata kita kunci untuk tetap terpejam. Agar? Nafas liar kita semakin memburu! Kupekerjakan kamu, supaya badanku tetap hangat. Kubiarkan kamu melenguh dan menikmati. Tapi tak kubiarkan kamu melayang. Kujaga tetap pada aturannya. Biar kudapati tanya di wajahmu. Aku senang bikin kamu bingung. Langit dimalam itu mendung, bekas hujan tadi sore masih menyelinap di jendela. Memberi kamar kita yang sepetak kedinginan yang luar biasa. Itulah mengapa aku rapatkan badanku padamu. Dan itulah alasan kamu menjadi lebih liar daripada biasa. Kita diatas, kita dibawah. Saling mencumbu, saling tersenyum. Lucu. Saat kulihat wajahmu yang penuh peluh tetap bersikukuh untuk menyerang. Kubiarkan kamu berbuat sesuka. Ini malam kita. Malam yang mungkin tak dapat kita temui lagi. Semakin cepat kau bergerak semakin keras lenguhanku. G...

CodeName

Hur många gånger måste jag berätta för dig? Om det inte är med mitt kodnamn. Då är historien inte rätt. Jag låter dig veta det hela tiden. Det är därför jag använder mitt kodnamn, kanske förstår du det. Du vet historien bakom namnet. Du frågar mig vad skulle jag ha? Jag vill inte ha någonting. Det gör bara ont för att veta det faktum. Att jag inte visste vad du ville ha. Vad du vet. Som om du inte ville ha mig, men du fortsätter att dra mig. Jag vet att vi inte kunde vara tillsammans. Eftersom detta bara är ensidigt. Men vad vill du ha? Jag saknar dig. Jag gör verkligen. - SeRa

Pernikahan

Marriage. Aku kadang ngeri mendengar kata ini. Bagiku pernikahan bukanlah suatu tujuan. Karena, dalam pikiranku, pernikahan adalah sesuatu yang tidak sesakral itu. Kenapa? Mungkin karena aku ada didalam sesuatu yang mereka sebut perceraian. Didalam artiku, pernikahan yang se-kramat itu bisa hancur hanya karena pihak lain yang mungkin dirasa lebih menggoda. Jadi, untuk apa menikah jika kita tetap menganut pada prinsip "jodoh siapa yang tahu"? Sampai sekarang, aku masih tidak mengerti kenapa teman-teman ku bersikeras ingin menikah muda. Pasalnya, untuk menikah, buatku, bukan hanya perkara menghalalkan pacaran. Bukan hanya menghalalkan "ena-ena". Bukan hanya menghalalkan kontak fisik yang selama ini mereka damba. Lebih dari itu, sesiap apa kamu untuk mengurus orang lain yang katanya kamu sayangi? Salut, pada mereka yang memutuskan untuk menikah muda. Berani sekali. Di usia yang bisa dibilang belum matang berpikir dan pengalaman berkomunikasi yang pastinya sedikit leb...