Langsung ke konten utama

Rain

Sore kemarin, hujan turun. Tidak deras, tidak juga gerimis. Secukupnya. Aku langsung rebah dikursi yang ada di Ruang Tamu rumahku. Memandang titik air yang dengan sukarela menjatuhkan diri dari langit, dan menggenang di pelataran teras rumahku. Hujan kali ini tanpa gemuruh marah dewa Zeus. Dan aku suka. Rasanya sunyi menjadi tempat istirahat yang baik. Mataku terpejam. Menikmati suasana yang sudah agak susah kudapat ini. Ritme hujan, sunyinya rumah, dengan sedikit tarikan nafas Danilla, memenuhi ruang singgahku kali ini. Ah. Indah.

Mataku terpekur melihat notifikasi Line pagi kemarin. Kamu muncul disana. Muncul kembali. Entah tujuannya apa. Aku bimbang. Meragu. Haruskah kuterima kamu kembali? Sedang rasaku telah meluap pada seseorang diluar sana. Meskipun tak tersampaikan, tapi aku tak ingin munafik, rasa ini ada untuk dia.

Hingga, akhirnya aku terima kamu. Bukan untuk kembali. Hanya untuk mempertegas, rasaku sudah bukan lagi untukmu. Begitulah pikirku.

Kamu berkata pagi ini, padaku, semoga aku diberkahi dengan yang layak untukku. Dan aku aamiin-i. Seraya kubalas doa baikmu. Jika itu memang baik.

Rain.

Aku sadar, aku bukanlah lagi sesuatu itu. Sejak saat, aku melihat senyummu yang begitu bahagia digandeng perempuan itu. Tak mengapa, aku paham betul. Pembelaaan apapun yang kamu katakan padaku, aku anggap tak berlaku. Kenapa? Karena senyummu tak mampu berbohong. Aku perempuan. Aku lebih mengandalkan perasaan ketimbang logika ku. Bagaimana aku tahu kamu benar jika yang kulihat justru sebaliknya?

Tapi aku tak menyalahkan kamu. Pun dia. Kalian berdua serasi, kudoakan semesta mengamini.

Me dear...

Kembali kukatakan padamu, rasaku ini telah kuberi dengan sukarela pada seseorang disana. Bait-bait puisiku tak lagi berbicara tentangmu. Tapi tentangnya. Karena, kutemukan makna dibalik hadirnya.

Pesan yang kukirim padamu berkali, tak satupun kamu balas. Membuatku gundah. Dan tak mampu berharap banyak. Jadi kuikhlas kan kamu. Dan segala perasaan ku.

Waktu menjawab.

Aku mengenal, seseorang yang akupun tak tahu. Tak mengerti. Tak khatam. Tapi aku ingini dia.

Kuharap kamu mengerti, sekalipun rasa ini searah, aku tetap tak menyesal.

Semoga bahagia. Dengannya. Pun dengan siapapun.

Selamat tinggal.

-bisikHujanKemarinSore

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bilamana

Pada suatu malam yang kudus, aku melepas penatku dipelukmu. Peluh membanjir, kita berenang dalam kesunyian. Bibir kita gemetar, meliuk saling merengut tak ingin lepas. Sementara mata kita kunci untuk tetap terpejam. Agar? Nafas liar kita semakin memburu! Kupekerjakan kamu, supaya badanku tetap hangat. Kubiarkan kamu melenguh dan menikmati. Tapi tak kubiarkan kamu melayang. Kujaga tetap pada aturannya. Biar kudapati tanya di wajahmu. Aku senang bikin kamu bingung. Langit dimalam itu mendung, bekas hujan tadi sore masih menyelinap di jendela. Memberi kamar kita yang sepetak kedinginan yang luar biasa. Itulah mengapa aku rapatkan badanku padamu. Dan itulah alasan kamu menjadi lebih liar daripada biasa. Kita diatas, kita dibawah. Saling mencumbu, saling tersenyum. Lucu. Saat kulihat wajahmu yang penuh peluh tetap bersikukuh untuk menyerang. Kubiarkan kamu berbuat sesuka. Ini malam kita. Malam yang mungkin tak dapat kita temui lagi. Semakin cepat kau bergerak semakin keras lenguhanku. G...

Serendipity

Hari ini, aku selesai menonton suatu film yang sejak malam tak sempat aku selesaikan. Serendipity. Atau dalam bahasa Indonesia nya, Kebetulan. Filmnya menarik, bikin baper. Hahaha. Makna yang aku dapat dari film tersebut adalah, selalu ada cara. Even  kemungkinannya sangat kecil dan hampir tidak mungkin. Tapi, itulah takdir. Sebetulnya dalam pemikiranku, kebetulan itu tidak ada. Takdir adalah sesuatu yang mutlak yang telah dirancang Tuhan dengan indahnya. Ya... Sesederhana dan serumit itu.  Well,  lupakan film itu. Blog ini bukan tukang review  film ko hahaha. Merujuk pada kata kebetulan. Aku selalu merasa kecil kala merenung bagaimana Tuhan mempertemukan aku dengan setiap orang hadir di hidupku. Entah untuk tinggal atau hanya mampir. Kebetulan aku bertemu dengannya. Kebetulan aku berkenalan dengannya. Dan kebetulan kita saling menyakiti. Hahahaha. Itu salah. Itu bukan kebetulan deh. Aku pernah merasakan suatu kebetulan yang amat sangat menyenangkan. Dimana ...

Smile

Today, as I woke up (due to my fever, I sleep a lot ehe) I checked on my phone. Wondering if I get your message. But nothing. So I check on Instagram. And... that's it. Now I know the reason behind all of it. I'm not mad at you nor blame you. It's me. I know it. Finally, you could set yourself free. I smiled. I supposed to feel broken right? But I am not. I am happy for you. Seeing you smile like that with her kinda make me reminisce about us. Yes. We only existed in the past.  Jangan tanya kenapa aku tak mengirimimu pesan, aku cukup sadar diri untuk tidak merusak kebahagiaan mu. Tulisan ini bahkan aku tulis dengan perasaan yang bersalah pada special lady  mu. Sampaikan maafku padanya jika suatu saat nanti kamu membacanya. Rindu? benar, aku rindu. Kamu pun cukup sering kan aku ganggu dengan pesan marahku karena kamu tak pernah mengabariku? Sekarang aku punya alasan mengapa aku tak boleh menghubungi mu lagi. Tolong. Buat aku untuk tidak menghubungimu, apapun yang terjad...