Aku terbiasa menelan luka sendiri. Membiarkan nya kering oleh angin dan memeluk sakitnya sendiri. Aku terbiasa menikmati rasa perih sendiri. Tenang, bahagia ku akan selalu kubagikan. Sebagian orang hanya kubiarkan melihat senyumku. Tak banyak yang berlutut membangunkan jatuhku. Aku terbiasa menikmati hujan sendiri, berjalan perlahan membiarkan kuyup setubuh. Hujan menyamarkan tangisku, pun lukaku. Kebanyakan orang bingung menerka itu senyum entah tangis. Dan aku tak ingin repot menjelaskan apa yang kurasa. Tak banyak orang yang ingin repot mendengarkan dan mengatakan bahwa semua akan baik saja. Jadi ketika aku berusaha menggoreskan kepingan silet pisau cukur ke tanganku, atau berusaha mencari alasan pembenaran diri atas apa yang kurasakan. Tak ada seorangpun yang berusaha meraihku dan memelukku. Mereka hanya berkata aku ga bersyukur dan ga beribadah, kurang dekat dengan Tuhan. Ya... Aku memang manusia yang masih jauh dari Tuhannya, ibadahku pun belum sesempurna para Nabi. Tapi bisa...
An extraordinary-rare-differentthinker-young girl. Eremophobia.