Aku terbiasa menelan luka sendiri. Membiarkan nya kering oleh angin dan memeluk sakitnya sendiri. Aku terbiasa menikmati rasa perih sendiri. Tenang, bahagia ku akan selalu kubagikan. Sebagian orang hanya kubiarkan melihat senyumku. Tak banyak yang berlutut membangunkan jatuhku.
Aku terbiasa menikmati hujan sendiri, berjalan perlahan membiarkan kuyup setubuh. Hujan menyamarkan tangisku, pun lukaku. Kebanyakan orang bingung menerka itu senyum entah tangis. Dan aku tak ingin repot menjelaskan apa yang kurasa. Tak banyak orang yang ingin repot mendengarkan dan mengatakan bahwa semua akan baik saja.
Jadi ketika aku berusaha menggoreskan kepingan silet pisau cukur ke tanganku, atau berusaha mencari alasan pembenaran diri atas apa yang kurasakan. Tak ada seorangpun yang berusaha meraihku dan memelukku. Mereka hanya berkata aku ga bersyukur dan ga beribadah, kurang dekat dengan Tuhan. Ya... Aku memang manusia yang masih jauh dari Tuhannya, ibadahku pun belum sesempurna para Nabi. Tapi bisakah kalian setidaknya menatap mataku dan berkata bahwa kalian pun sama sepertiku? Ah... Kalian memang berbeda denganku.
Jadi aku menemukan mereka suatu hari, orang-orang baik hati yang mau direpotkan mendengarkan keluhanku. Tak banyak, tapi aku bahagia memiliki mereka. Ah bukan memiliki, mengenal mereka. Suatu malam, saat aku hilang arah dan kendali atas hidupku. Seseorang menarikku dan berbicara padaku. Tidak, dia tidak memelukku. Dia hanya disana tapi entah dimana dan mendengarkan dan berbicara. Dia berbicara seakan dia sedang berhadapan dengan teman lamanya. Belum pernah aku merasa se-dikhawatirkan ini seumur hidupku.
Jadi untuk itu, aku berterima kasih padamu yang sudah berbaik hati mendengarkan semua kesah dan keluhku. Terima kasih, tanpa mu mungkin malam itu aku sudah melakukannya. Maaf, jika selama ini aku selalu merepotkanmu dengan segala masalahku. Semoga, kamu bahagia selalu. Begitupun semua yang ada disana, titip mereka untukku.
-Aulia-
Aku terbiasa menikmati hujan sendiri, berjalan perlahan membiarkan kuyup setubuh. Hujan menyamarkan tangisku, pun lukaku. Kebanyakan orang bingung menerka itu senyum entah tangis. Dan aku tak ingin repot menjelaskan apa yang kurasa. Tak banyak orang yang ingin repot mendengarkan dan mengatakan bahwa semua akan baik saja.
Jadi ketika aku berusaha menggoreskan kepingan silet pisau cukur ke tanganku, atau berusaha mencari alasan pembenaran diri atas apa yang kurasakan. Tak ada seorangpun yang berusaha meraihku dan memelukku. Mereka hanya berkata aku ga bersyukur dan ga beribadah, kurang dekat dengan Tuhan. Ya... Aku memang manusia yang masih jauh dari Tuhannya, ibadahku pun belum sesempurna para Nabi. Tapi bisakah kalian setidaknya menatap mataku dan berkata bahwa kalian pun sama sepertiku? Ah... Kalian memang berbeda denganku.
Jadi aku menemukan mereka suatu hari, orang-orang baik hati yang mau direpotkan mendengarkan keluhanku. Tak banyak, tapi aku bahagia memiliki mereka. Ah bukan memiliki, mengenal mereka. Suatu malam, saat aku hilang arah dan kendali atas hidupku. Seseorang menarikku dan berbicara padaku. Tidak, dia tidak memelukku. Dia hanya disana tapi entah dimana dan mendengarkan dan berbicara. Dia berbicara seakan dia sedang berhadapan dengan teman lamanya. Belum pernah aku merasa se-dikhawatirkan ini seumur hidupku.
Jadi untuk itu, aku berterima kasih padamu yang sudah berbaik hati mendengarkan semua kesah dan keluhku. Terima kasih, tanpa mu mungkin malam itu aku sudah melakukannya. Maaf, jika selama ini aku selalu merepotkanmu dengan segala masalahku. Semoga, kamu bahagia selalu. Begitupun semua yang ada disana, titip mereka untukku.
-Aulia-
Komentar
Posting Komentar