Langsung ke konten utama

To The Stranger

Aku terbiasa menelan luka sendiri. Membiarkan nya kering oleh angin dan memeluk sakitnya sendiri. Aku terbiasa menikmati rasa perih sendiri. Tenang, bahagia ku akan selalu kubagikan. Sebagian orang hanya kubiarkan melihat senyumku. Tak banyak yang berlutut membangunkan jatuhku.

Aku terbiasa menikmati hujan sendiri, berjalan perlahan membiarkan kuyup setubuh. Hujan menyamarkan tangisku, pun lukaku. Kebanyakan orang bingung menerka itu senyum entah tangis. Dan aku tak ingin repot menjelaskan apa yang kurasa. Tak banyak orang yang ingin repot mendengarkan dan mengatakan bahwa semua akan baik saja.

Jadi ketika aku berusaha menggoreskan kepingan silet pisau cukur ke tanganku, atau berusaha mencari alasan pembenaran diri atas apa yang kurasakan. Tak ada seorangpun yang berusaha meraihku dan memelukku. Mereka hanya berkata aku ga bersyukur dan ga beribadah, kurang dekat dengan Tuhan. Ya... Aku memang manusia yang masih jauh dari Tuhannya, ibadahku pun belum sesempurna para Nabi. Tapi bisakah kalian setidaknya menatap mataku dan berkata bahwa kalian pun sama sepertiku? Ah... Kalian memang berbeda denganku.

Jadi aku menemukan mereka suatu hari, orang-orang baik hati yang mau direpotkan mendengarkan keluhanku. Tak banyak, tapi aku bahagia memiliki mereka. Ah bukan memiliki, mengenal mereka. Suatu malam, saat aku hilang arah dan kendali atas hidupku. Seseorang menarikku dan berbicara padaku. Tidak, dia tidak memelukku. Dia hanya disana tapi entah dimana dan mendengarkan dan berbicara. Dia berbicara seakan dia sedang berhadapan dengan teman lamanya. Belum pernah aku merasa se-dikhawatirkan ini seumur hidupku.

Jadi untuk itu, aku berterima kasih padamu yang sudah berbaik hati mendengarkan semua kesah dan keluhku. Terima kasih, tanpa mu mungkin malam itu aku sudah melakukannya. Maaf, jika selama ini aku selalu merepotkanmu dengan segala masalahku. Semoga, kamu bahagia selalu. Begitupun semua yang ada disana, titip mereka untukku.


-Aulia-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bilamana

Pada suatu malam yang kudus, aku melepas penatku dipelukmu. Peluh membanjir, kita berenang dalam kesunyian. Bibir kita gemetar, meliuk saling merengut tak ingin lepas. Sementara mata kita kunci untuk tetap terpejam. Agar? Nafas liar kita semakin memburu! Kupekerjakan kamu, supaya badanku tetap hangat. Kubiarkan kamu melenguh dan menikmati. Tapi tak kubiarkan kamu melayang. Kujaga tetap pada aturannya. Biar kudapati tanya di wajahmu. Aku senang bikin kamu bingung. Langit dimalam itu mendung, bekas hujan tadi sore masih menyelinap di jendela. Memberi kamar kita yang sepetak kedinginan yang luar biasa. Itulah mengapa aku rapatkan badanku padamu. Dan itulah alasan kamu menjadi lebih liar daripada biasa. Kita diatas, kita dibawah. Saling mencumbu, saling tersenyum. Lucu. Saat kulihat wajahmu yang penuh peluh tetap bersikukuh untuk menyerang. Kubiarkan kamu berbuat sesuka. Ini malam kita. Malam yang mungkin tak dapat kita temui lagi. Semakin cepat kau bergerak semakin keras lenguhanku. G...

CodeName

Hur många gånger måste jag berätta för dig? Om det inte är med mitt kodnamn. Då är historien inte rätt. Jag låter dig veta det hela tiden. Det är därför jag använder mitt kodnamn, kanske förstår du det. Du vet historien bakom namnet. Du frågar mig vad skulle jag ha? Jag vill inte ha någonting. Det gör bara ont för att veta det faktum. Att jag inte visste vad du ville ha. Vad du vet. Som om du inte ville ha mig, men du fortsätter att dra mig. Jag vet att vi inte kunde vara tillsammans. Eftersom detta bara är ensidigt. Men vad vill du ha? Jag saknar dig. Jag gör verkligen. - SeRa

Pernikahan

Marriage. Aku kadang ngeri mendengar kata ini. Bagiku pernikahan bukanlah suatu tujuan. Karena, dalam pikiranku, pernikahan adalah sesuatu yang tidak sesakral itu. Kenapa? Mungkin karena aku ada didalam sesuatu yang mereka sebut perceraian. Didalam artiku, pernikahan yang se-kramat itu bisa hancur hanya karena pihak lain yang mungkin dirasa lebih menggoda. Jadi, untuk apa menikah jika kita tetap menganut pada prinsip "jodoh siapa yang tahu"? Sampai sekarang, aku masih tidak mengerti kenapa teman-teman ku bersikeras ingin menikah muda. Pasalnya, untuk menikah, buatku, bukan hanya perkara menghalalkan pacaran. Bukan hanya menghalalkan "ena-ena". Bukan hanya menghalalkan kontak fisik yang selama ini mereka damba. Lebih dari itu, sesiap apa kamu untuk mengurus orang lain yang katanya kamu sayangi? Salut, pada mereka yang memutuskan untuk menikah muda. Berani sekali. Di usia yang bisa dibilang belum matang berpikir dan pengalaman berkomunikasi yang pastinya sedikit leb...