Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2018

Pernikahan

Marriage. Aku kadang ngeri mendengar kata ini. Bagiku pernikahan bukanlah suatu tujuan. Karena, dalam pikiranku, pernikahan adalah sesuatu yang tidak sesakral itu. Kenapa? Mungkin karena aku ada didalam sesuatu yang mereka sebut perceraian. Didalam artiku, pernikahan yang se-kramat itu bisa hancur hanya karena pihak lain yang mungkin dirasa lebih menggoda. Jadi, untuk apa menikah jika kita tetap menganut pada prinsip "jodoh siapa yang tahu"? Sampai sekarang, aku masih tidak mengerti kenapa teman-teman ku bersikeras ingin menikah muda. Pasalnya, untuk menikah, buatku, bukan hanya perkara menghalalkan pacaran. Bukan hanya menghalalkan "ena-ena". Bukan hanya menghalalkan kontak fisik yang selama ini mereka damba. Lebih dari itu, sesiap apa kamu untuk mengurus orang lain yang katanya kamu sayangi? Salut, pada mereka yang memutuskan untuk menikah muda. Berani sekali. Di usia yang bisa dibilang belum matang berpikir dan pengalaman berkomunikasi yang pastinya sedikit leb...

How to find a Light?

So here I am. Crying myself out. Ruining my mascara. Of course, my eyeliner already worn out. It's a rainy day. When I found myself crumbling. My hands is shaking. And my spine is shivering. I couldn't think any way out. Am just sitting there. Blank space. I'm trying to ask Google Maps, where to go. But they can't give me any clue. So I'm stuck there. Nailing my point nowhere. 3 am. The worst time. You know why? Because it's the time. For a monster to be awake inside myself. Moreover. I am the monster. Monster of myself. Blacked out. I hate darkness. But I don't fit lights well. Where should I stay?

Puisi untuk AKU

Tandus. Tak ada yang lebih mewakili itu untuk aku. Sesat. Begitulah sehariku menjalani waktu. Aku terkatung mencari apa ujudku. Menolak ini itu yang menjadi pilihanku. Meyakini apa-apa yang mereka ingini aku menjadi. Lalu aku disini. Menangisi sesuatu yang membuat dadaku terasa nyeri kala menghela. Apa itu? Entah. Ingin kurobek sesuatu didadaku ini. Biar perih tak setia tinggal disana. Biar luka tak perlu menganga di gelap sana. Biar. Biar aku menjadi manusia tak berjiwa. Jika itu mau mereka. Aku. Lelah. Aku. Lelap.

Larung Lara

Sedih, kecewa, marah, semua berpadu sore itu. Lelah juga. Perjalanan ku dari rumah ke kota yang berbeda lalu pergi lagi ke kota yang berbeda sungguh melelahkan. Namun apa yang aku dapati? Kamu tertidur, melupa semua juangku. Awalnya aku masih menanti dengan sabar. Berharap kamu terjaga dan memelukku yang sedari tadi memerhatimu dan temanmu terlelap. Tapi tak kunjung jua kau mengerjap. Hingga penat kepalaku. Akhirnya kuputus tuk pergi ditengah hujan yang bergerimis. Kamu menahanku setengah sadar. Dapat kulihat marah dikedua matamu. Lenganmu mencengkram kuat pergelangan tanganku. Hingga merah membekas dan sakit dipegang. Tapi aku tak menangis. Aku sudah muak! Kukatakan padamu aku akan pulang. Kau tanya bukankah kamu adalah pulang ku? Namun aku hanya tersenyum sesinis mungkin. Berusaha untuk meluka hatimu sedalam mungkin. Dan aku pun berlalu dengan kendaraan yang menjemput. Setengah menahan emosi, aku berpikir sepanjang banjir yang kulewati. Aku merasa malu. Apa yang telah kuperbuat? Pad...