Langsung ke konten utama

Larung Lara

Sedih, kecewa, marah, semua berpadu sore itu. Lelah juga. Perjalanan ku dari rumah ke kota yang berbeda lalu pergi lagi ke kota yang berbeda sungguh melelahkan. Namun apa yang aku dapati? Kamu tertidur, melupa semua juangku. Awalnya aku masih menanti dengan sabar. Berharap kamu terjaga dan memelukku yang sedari tadi memerhatimu dan temanmu terlelap. Tapi tak kunjung jua kau mengerjap. Hingga penat kepalaku. Akhirnya kuputus tuk pergi ditengah hujan yang bergerimis. Kamu menahanku setengah sadar. Dapat kulihat marah dikedua matamu. Lenganmu mencengkram kuat pergelangan tanganku. Hingga merah membekas dan sakit dipegang. Tapi aku tak menangis. Aku sudah muak! Kukatakan padamu aku akan pulang. Kau tanya bukankah kamu adalah pulang ku? Namun aku hanya tersenyum sesinis mungkin. Berusaha untuk meluka hatimu sedalam mungkin. Dan aku pun berlalu dengan kendaraan yang menjemput.

Setengah menahan emosi, aku berpikir sepanjang banjir yang kulewati. Aku merasa malu. Apa yang telah kuperbuat? Padahal semua bisa saja aku lewati dengan lebih sabar. Pilihanku hanya ada dua kala itu. Memutuskan untuk pulang ke rumah dan tak pernah temuimu lagi. Atau menunggumu dan perbaiki semua yang carut marut antara kita. Setengah ragu, akhirnya aku memutuskan untuk mendatangi sebuah pusat perbelanjaan. Disana, aku pergi ke bioskop. Pasang-berpasangan manusia lalu lalang. Apa yang membuatku semakin bisa menjernihkan pikiran adalah kala sepasang tua sedang "kencan" mingguan mereka. Terlihat manis tanpa dibuat, semuanya alami. Dan aku tersenyum mengangguk. Seraya melayang ke tiga bulan yang telah usai.

Pertama melihatmu, senyum tersungging di wajahmu. Walau hujan kala itu, kamu rela melaju demi bertemu denganku. Aku menyambutmu hangat, dan kita memarkirkan motormu dipelataran sebuah cafe. Sembari melihat menu, kamu bertanya apa yang kuingingkan. Aku menantangmu untuk memilihkan sesuatu yang cocok untukku. Dan pilihanmu, jatuh pada minuman latte hangat. Kamu bilang untuk pemula ini saja dulu. Lalu aku tertawa. Kita banyak bercerita, silih berganti, selayak kawan lama. Tertawa, saling memerhati, saling kagum, dan kita memutuskan untuk bertemu kembali. Esok. Aku iya kan ketika kita sampai di parkiran rumah kost ku. Kamu pamit, pun aku segera berlari masuk gerbang yang sudah dibukakan bapak penjaga kost. Kamu kirimi aku pesan tepat ketika aku sudah selesai membenahi diri. Yang segera kubalas agar kamu tak menunggu lama. Esoknya, sesuai janji, kita bertemu kembali. Kali ini, tiada canggung. Kamu dan aku sepaham bahwa kita telah diikat rasa tak terlihat. Kamu memegang erat tanganku setelah kita turun dari eskalator pusat perbelanjaan itu. Aku sangat yakin pipiku memerah, dan kubalas genggamanmu. Aku tersenyum.

Malam itu, kita habiskan untuk bersenda lalu bergurau. Seakan kita tak ingin kehabisan waktu untuk saling mengenal. Matamu dan mataku tak saling lepas. Sampai waktu berakhir, kita kembali pada dunia saling masing.

Lusa, umurmu bertambah. Kamu memintaku untuk datang ke tempatmu, yang ku aamiini. Kita bersua kembali. Dengan tatap penuh rindu. Malam itu, kita berterus terang. Kita saling suka. Cinta semakin mengakar, menguat. Siapkah kami untuk berkomitmen? Dan itu yang menjadi tanda tanya besar bagi ku pun kamu. Mereka yang berada di sisimu selama ini bertanya, akan kamu bawa kemana aku dan hubungan kita? Yang dengan tegas kamu jawab, bahwa kamu jatuh padaku. Pilihanmu telah mantap. Begitupun aku.

Kamu menemukan aku yang terluka, kamu menemukan aku yang tengah menahan tangis, kamu melihat hatiku berkeping. Dan kamu rengkuh lantas kamu ambil. Kukira, hanya itu saja yang akan kamu lakukan. Diluar dugaan, kamu memberiku kejutan. Kamu memberikan hatimu sebagai ganti hatiku yang telah rapuh. Kamu bilang akan merawatnya sebaik-baik kamu rawat hatimu sendiri. Aku terpana. Setelag mendengar semua ceritamu, selama itu kamu berjuang sendiri dengan semua perempuan yang berusaha tarik perhatianmu, kamu memberikan hatimu untukku yang belum lama kamu pahami? Ada rasa ragu. Tentu. Dengan sejarahmu bersama perempuan di masa silam. Aku khawatir kamu akan melakukan hal yang sama. Kamu buat jatuh lalu kamu tinggal. Aku amat sangat ragu kala itu. Belum lagi, dia yang pernah selama itu mengemban tugas menjagaku dan lalai berusaha memilikiku kembali. Pilihanku kala itu berat. Haruskah aku kembali padanya dan menjalani hari-hari penuh jengah dengan segala kelakuannya yang gemar membuatku memeluk luka? Atau haruskah aku memulai sesuatu yang baru, dengan kamu, yang memiliki sejarah seperti itu, hingga temanmu mewanti ku untuk berhati padamu?

Lalu

Kuputuskan untuk memilihmu. Aku ingin kamu. Kamu ingin aku. Dan aku tak mau memeluk luka yang sama setiap harinya. Dan, begitulah aku menemukan sedikit harap padamu. Yang kini, kamu, adalah orang yang dengan senantiasa memasang badannya untuk menjagaku. Yang kini, kamu, adalah orang yang rela memakan masakan yang kubuat penuh payah dengan rasa yang belum tentu kamu suka. Yang kini, kamu, adalah orang yang tenangkan jiwaku saat petir bergemuruh membuatku layu. Yang kini, kamu, adalah orang yang selalu memakaikan ku helm sebelum kita bepergian, memastikan aku aman sampai tujuan. Yang kini, kamu, adalah orang yang dengan penuh tanggung jawab membagi waktumu untukku juga kerjamu.

Dan aku, seakan telah lupa dengan hal itu. Hal yang membuatku jatuh cinta padamu. Maafkan aku. Tapi sungguh, aku masih mencintamu. Dan kujaga untuk sampai nanti.

Terima kasih, karena malam itu kamu segera meluncur ke tempat aku berada dan memberiku arti bahwa. Cinta sesederhana kita saling berjuang. Bukan hanya aku atau kamu yang berjuang. Tapi kita.

Terima kasih, karena telah menyempurnakan hidupku dengan kasihmu. Aku, takkan mampu temukan seorang yang sejiwa denganku, sepertimu.

Aku mencintaimu.

Dengan sungguh.

-NovemberMenjadiArti

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bilamana

Pada suatu malam yang kudus, aku melepas penatku dipelukmu. Peluh membanjir, kita berenang dalam kesunyian. Bibir kita gemetar, meliuk saling merengut tak ingin lepas. Sementara mata kita kunci untuk tetap terpejam. Agar? Nafas liar kita semakin memburu! Kupekerjakan kamu, supaya badanku tetap hangat. Kubiarkan kamu melenguh dan menikmati. Tapi tak kubiarkan kamu melayang. Kujaga tetap pada aturannya. Biar kudapati tanya di wajahmu. Aku senang bikin kamu bingung. Langit dimalam itu mendung, bekas hujan tadi sore masih menyelinap di jendela. Memberi kamar kita yang sepetak kedinginan yang luar biasa. Itulah mengapa aku rapatkan badanku padamu. Dan itulah alasan kamu menjadi lebih liar daripada biasa. Kita diatas, kita dibawah. Saling mencumbu, saling tersenyum. Lucu. Saat kulihat wajahmu yang penuh peluh tetap bersikukuh untuk menyerang. Kubiarkan kamu berbuat sesuka. Ini malam kita. Malam yang mungkin tak dapat kita temui lagi. Semakin cepat kau bergerak semakin keras lenguhanku. G...

Serendipity

Hari ini, aku selesai menonton suatu film yang sejak malam tak sempat aku selesaikan. Serendipity. Atau dalam bahasa Indonesia nya, Kebetulan. Filmnya menarik, bikin baper. Hahaha. Makna yang aku dapat dari film tersebut adalah, selalu ada cara. Even  kemungkinannya sangat kecil dan hampir tidak mungkin. Tapi, itulah takdir. Sebetulnya dalam pemikiranku, kebetulan itu tidak ada. Takdir adalah sesuatu yang mutlak yang telah dirancang Tuhan dengan indahnya. Ya... Sesederhana dan serumit itu.  Well,  lupakan film itu. Blog ini bukan tukang review  film ko hahaha. Merujuk pada kata kebetulan. Aku selalu merasa kecil kala merenung bagaimana Tuhan mempertemukan aku dengan setiap orang hadir di hidupku. Entah untuk tinggal atau hanya mampir. Kebetulan aku bertemu dengannya. Kebetulan aku berkenalan dengannya. Dan kebetulan kita saling menyakiti. Hahahaha. Itu salah. Itu bukan kebetulan deh. Aku pernah merasakan suatu kebetulan yang amat sangat menyenangkan. Dimana ...

Smile

Today, as I woke up (due to my fever, I sleep a lot ehe) I checked on my phone. Wondering if I get your message. But nothing. So I check on Instagram. And... that's it. Now I know the reason behind all of it. I'm not mad at you nor blame you. It's me. I know it. Finally, you could set yourself free. I smiled. I supposed to feel broken right? But I am not. I am happy for you. Seeing you smile like that with her kinda make me reminisce about us. Yes. We only existed in the past.  Jangan tanya kenapa aku tak mengirimimu pesan, aku cukup sadar diri untuk tidak merusak kebahagiaan mu. Tulisan ini bahkan aku tulis dengan perasaan yang bersalah pada special lady  mu. Sampaikan maafku padanya jika suatu saat nanti kamu membacanya. Rindu? benar, aku rindu. Kamu pun cukup sering kan aku ganggu dengan pesan marahku karena kamu tak pernah mengabariku? Sekarang aku punya alasan mengapa aku tak boleh menghubungi mu lagi. Tolong. Buat aku untuk tidak menghubungimu, apapun yang terjad...