Aku pernah mencinta. Sangat cinta. Mungkin cinta mati. Atau mungkin juga cinta hidup. Entah. Pun, aku tak tahu bagaimana rasanya padaku. Bagaimana caranya memandangku. Pun, bagaimana caranya menginginiku. Atau sejujurnya dia tak pernah ingini aku?
Entah.
Mungkin, aku yang terlalu banyak harap dan imaji padanya. Sehingga meminta semesta raya mengamini serta merta semua puji-pujianku padanya.
Atau juga...
Kita saling rasa sesuatu yang tak pernah bisa kita genggam sama-sama. Kita saling mengaminkan semua kejujuran diri tanpa pernah saling tatap karena keterbatasan waktu, ruang, dan tempat? Kita saling menjanji untuk seiya dan sekata meski tak pernah terucap satu pun lain?
Entah.
Yang ku tahu, rasaku, sedikit sulit untuk dilupa. Sangat sebetulnya jika harus ku katakan. Ingin aku berlari mengejarnya, tak peduli dengan carut dan marut keadaan. Hanya saja, aku siapanya dia? Bagaimana, kalo selama ini ternyata aku yang rasa? Hmmmmm...
Kenalku pertama kali, entah bagaimana. Aku tak ingat. Yang jelas, dia menjadi satu dalam jalan ku mengorbit. Aku menyanjung sesuatu yang tak pernah ku jumpa. Aku memang selalu begitu. Jatuh cinta pada seseorang yang tak pasti. Kerap teman melarang, namun apa daya kala cinta meradang?
Dia bilang hobinya nonton-in bintang, sama mantannya. Kukira itu bagus. Setidaknya hobinya lebih berfaedah daripada aku yang hanya senang tersenyum membaca percakapan lawasku dengannya. Ya. Aku se-menyedihkan itu.
Pernah ku ungkap rasaku, tapi nyatanya dia tak pernah menjawabnya. Ah. Mungkin pernah. Tapi aku sangkal. Karena aku memang mengingininya. Aku menolak penolakannya. Dan tetap berusaha mengejar dia dalam halusinasiku.
Aku selalu berandai, bahwa kita sebetulnya saling rasa. Hanya keadaan menguji kita untuk saling menahan diri. Tapi, aku tahu, aku delusional. Maafkan aku.
Aku tetap cinta.
Tetap.
Dan sekarang rindu padanya.
Hah.
-SeRa
Komentar
Posting Komentar