Langsung ke konten utama

Sebiji Pisah

Kubisikkan pada malam, kutitipkan, rindu, bahwasanya mulai detik ini tugasku telah usai. Kuikhlaskan.

Aku yakin aku telah amat sangat menyakitinya. Tapi itu untuk kebaikannya. Ku doa pada Tuhan, beri ia seseorang yang patut mencintanya sepantasnya. Jangan biar ia merasa sepi barang senapas pun. Bahagia nya bagaimanapun telah, adalah, dan tetap menjadi bahagia ku. Selalu, dan selalu. Berbahagialah. Cinta.

Rindu ini semakin menjemu. Daya ku tak berupaya. Peluhku telah beku dengan dingin yang memabukkan. Aku merindunya. Merindu terlelap dalam dekap hangatnya. Menatap lentik bulu yang berderet rapi di matanya. Merasakan lembut dengkurnya. Dan mengecup bibirnya yang tertelungkup. Mencuri cium yang melenakan jiwaku.

Jika tak begini, aku akan selalu tuntut ia berubah menjadi mau ku. Padahal di tubuhnya ada jiwa dan pemikiran bebas yang selalu ia liarkan. Jika tak begini, aku akan selalu ingin diamkan ia supaya selaras dengan tuturku. Padahal di hatinya ada cinta yang tak perlu ditakluk untuk membalas.

Jika kau tanya aku cinta padanya, aku akan jawab kamu buta. Kenapa? Kenapa tak bisa kau lihat perasaan yang meluap menolak dilupa tak terbendung ini? Tidakkah kau cium haus kasih ku yang meronta mengingini jiwanya untuk ku telan sepenuh-penuhnya agar dia hanya menjadi milikku sendiri?

Jadi ku lepas ia pergi menjauh. Ah. Tidak. Kutinggal ia sendiri disana. Agar ia benci dan tak lagi berusaha cari aku karena aku telah robek jiwa nya lebih-lebih dari yang pernah ia pikul. Agar ia tak merasa bersalah jika ia ingin lakukan apapun yang dia kehendaki. Aku tak ingin menjadi penghalang dari semua cipta kreasinya. Aku menyayanginya lebih banyak dari aku menyayangi aku.

Cinta. Kuatlah. Tegarlah. Berjalanlah. Maafkanlah aku yang semauku berbuat. Percayalah. Ini agar kamu dapat cinta yang seharusnya.

Kasih.

Aku sudah merindumu.

Maafkan semua kekasaranku yang dibuat-buat. Maafkan aku yang tak pernah bisa layak menjadi teman hidupmu.

Tolong...

Jagalah dirimu.

Doa. Cinta. Kasih. Sayang. Rindu. Semua milikku. Akan tetap menjadi kamu seorang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bilamana

Pada suatu malam yang kudus, aku melepas penatku dipelukmu. Peluh membanjir, kita berenang dalam kesunyian. Bibir kita gemetar, meliuk saling merengut tak ingin lepas. Sementara mata kita kunci untuk tetap terpejam. Agar? Nafas liar kita semakin memburu! Kupekerjakan kamu, supaya badanku tetap hangat. Kubiarkan kamu melenguh dan menikmati. Tapi tak kubiarkan kamu melayang. Kujaga tetap pada aturannya. Biar kudapati tanya di wajahmu. Aku senang bikin kamu bingung. Langit dimalam itu mendung, bekas hujan tadi sore masih menyelinap di jendela. Memberi kamar kita yang sepetak kedinginan yang luar biasa. Itulah mengapa aku rapatkan badanku padamu. Dan itulah alasan kamu menjadi lebih liar daripada biasa. Kita diatas, kita dibawah. Saling mencumbu, saling tersenyum. Lucu. Saat kulihat wajahmu yang penuh peluh tetap bersikukuh untuk menyerang. Kubiarkan kamu berbuat sesuka. Ini malam kita. Malam yang mungkin tak dapat kita temui lagi. Semakin cepat kau bergerak semakin keras lenguhanku. G...

Serendipity

Hari ini, aku selesai menonton suatu film yang sejak malam tak sempat aku selesaikan. Serendipity. Atau dalam bahasa Indonesia nya, Kebetulan. Filmnya menarik, bikin baper. Hahaha. Makna yang aku dapat dari film tersebut adalah, selalu ada cara. Even  kemungkinannya sangat kecil dan hampir tidak mungkin. Tapi, itulah takdir. Sebetulnya dalam pemikiranku, kebetulan itu tidak ada. Takdir adalah sesuatu yang mutlak yang telah dirancang Tuhan dengan indahnya. Ya... Sesederhana dan serumit itu.  Well,  lupakan film itu. Blog ini bukan tukang review  film ko hahaha. Merujuk pada kata kebetulan. Aku selalu merasa kecil kala merenung bagaimana Tuhan mempertemukan aku dengan setiap orang hadir di hidupku. Entah untuk tinggal atau hanya mampir. Kebetulan aku bertemu dengannya. Kebetulan aku berkenalan dengannya. Dan kebetulan kita saling menyakiti. Hahahaha. Itu salah. Itu bukan kebetulan deh. Aku pernah merasakan suatu kebetulan yang amat sangat menyenangkan. Dimana ...

Smile

Today, as I woke up (due to my fever, I sleep a lot ehe) I checked on my phone. Wondering if I get your message. But nothing. So I check on Instagram. And... that's it. Now I know the reason behind all of it. I'm not mad at you nor blame you. It's me. I know it. Finally, you could set yourself free. I smiled. I supposed to feel broken right? But I am not. I am happy for you. Seeing you smile like that with her kinda make me reminisce about us. Yes. We only existed in the past.  Jangan tanya kenapa aku tak mengirimimu pesan, aku cukup sadar diri untuk tidak merusak kebahagiaan mu. Tulisan ini bahkan aku tulis dengan perasaan yang bersalah pada special lady  mu. Sampaikan maafku padanya jika suatu saat nanti kamu membacanya. Rindu? benar, aku rindu. Kamu pun cukup sering kan aku ganggu dengan pesan marahku karena kamu tak pernah mengabariku? Sekarang aku punya alasan mengapa aku tak boleh menghubungi mu lagi. Tolong. Buat aku untuk tidak menghubungimu, apapun yang terjad...