Hari ini, aku selesai menonton suatu film yang sejak malam tak sempat aku selesaikan. Serendipity. Atau dalam bahasa Indonesia nya, Kebetulan. Filmnya menarik, bikin baper. Hahaha. Makna yang aku dapat dari film tersebut adalah, selalu ada cara. Even kemungkinannya sangat kecil dan hampir tidak mungkin. Tapi, itulah takdir. Sebetulnya dalam pemikiranku, kebetulan itu tidak ada. Takdir adalah sesuatu yang mutlak yang telah dirancang Tuhan dengan indahnya. Ya... Sesederhana dan serumit itu.
Well, lupakan film itu. Blog ini bukan tukang review film ko hahaha. Merujuk pada kata kebetulan. Aku selalu merasa kecil kala merenung bagaimana Tuhan mempertemukan aku dengan setiap orang hadir di hidupku. Entah untuk tinggal atau hanya mampir. Kebetulan aku bertemu dengannya. Kebetulan aku berkenalan dengannya. Dan kebetulan kita saling menyakiti. Hahahaha. Itu salah. Itu bukan kebetulan deh.
Aku pernah merasakan suatu kebetulan yang amat sangat menyenangkan. Dimana mungkin aku akan bertemu dengan seseorang yang sempat memenuhi pikiranku untuk waktu yang agak lama. Sudah lama terjadi namun masih terasa baru kemarin sore. Hahaha. Pernah aku menyukai seseorang, waktu aku masih SMP. Saat itu, karena lupa tidak membawa LKS guru PKn ku mengusirku dari kelas (mohon jangan dicontoh kelakuan tidak baik ini). Jadi dengan amat sangat terpaksa aku melangkahkan kakiku dari ruangan kelas dan beranjak menuju lorong disebelah kelasku. Karena dulu aku tidak memiliki gawai, aku hanya diam tanpa ada kegiatan yang bermakna. Ternyata, lapangan yang ada di sebelah lorong kelasku sedang dipakai untuk pelajaran Olah Raga. Dan, itulah pertama kali aku melihatmu. Mengenakan setelan olahraga serta jaket hitam kamu berlari membawa bola yang baru saja kamu ambil dari ruang peralatan. Entah. Sihir apa yang kamu miliki hingga membuat aku tak berkedip menatapmu. Sejak detik itu, aku tahu bahwa aku memiliki rasa tertarik terhadapmu. Sayang, aku tak tahu namamu saat itu.
Takdir memang aneh, setelah itu aku sering kali dipertemukan denganmu entah itu di kantin. Atau di ruang guru, pernah juga melihatmu yang sedang berjalan beberapa meter dari aku yang sedang berjalan pulang menuju rumah. Aku dengan sengaja mengatur langkah kakiku agar tidak menyusulmu. Rasanya, melihatmu secara kebetulan itu suatu hal yang amat sangat menyenangkan. Aku belum juga mengetahui siapa namamu. Dan aku sudah perlahan melupakan kamu sampai, teman ku di kelas tiba-tiba mengirimiku permintaan pertemanan di Facebook yang mana langsung aku terima. Karena iseng, aku melihat profil temanku, dan melihat temanku mengunggah foto bersamamu. Patah hati. Aku melihat kalian berangkulan sangat akrab. Kulihat temanku menandaimu dalam foto tersebut. Dan, ternyata kalian adalah saudara. Entah, Takdir memang aneh. Akhirnya aku mengetahui namamu. Tapi hanya sekedar itu, kita tak pernah bertukar sapa. Perpisahan SMP pun tiba. Kita dilupakan waktu dan zaman sampai pada ketika kita kelas 3 SMA. Takdir kembali mempertemukan kita. Kita menjadi teman sekelas. Dan selama dua semester itu aku harus berhadapan dengan kamu setiap senin-sabtu. Aku selalu menutup rapat perasaanku, kalau-kalau kamu sadar dan berubah membenci aku. Kita duduk berjauhan. Aku duduk tepat di bangku ketiga sebelah kiri dekat dengan jendela dan kamu duduk tepat di banku ketiga sebelah kanan dekat dengan jendela. Kebetulan lagi?
Kebetulan lainnya adalah, kita seringkali mendapatkan kelompok yang sama di beberapa mata pelajaran. Mau tak mau aku harus selalu berusaha meredam detak jantungku saat dekat denganmu. Sialnya adalah, saat aku pindah duduk karena bangku yang biasa aku duduki sudah terisi oleh orang lain, aku duduk di depan bangkumu. Entah sial atau justru beruntung. Siang itu salah satu guru kita tak masuk kelas dikarenakan sakit. Karena tugas telah selesai kita kerjakan dan kita kumpulkan. Kamu dengan teman sebangkumu mengambil gitar dan mulai bernyanyi, aku sangat ingat yang kamu nyanyikan. Lagunya abang Ariel dan teman-temannya, Noah - Separuh Aku. Kamu sangat suka dengan band itu kan? Karena teman sebangku ku sedang suka juga dengan lagu itu maka dia memintamu menyanyikan lagu itu kembali saat kamu mengakhiri lirik lagu tersebut. Kamu menolaknya dengan alasan pengin ngobrol. Aku iseng, menolehkan pandanganku kebelakang dan berkata "Loh ko udahan sih, nyanyi lagi dong" kamu hanya tersenyum dan mengambil gitar yang tadi sudah kamu beri pada temanmu dan mulai menyanyikan lagu yang sama yang tadi kamu nyanyikan. Aku tersenyum seraya berkata dalam hati "bolehkan aku berharap Zam?" Selama kamu bernyanyi aku pun terus menatapmu yang juga menatapku. Senyumanku tak juga pudar hingga salah satu temanku menyadari nya dan memberikan senyum penuh arti. Ah sial, Aku ketahuan ya? Teman sebangku ku yang tadi meminta kamu untuk bernyanyi lalu menggerutu "Ih sama aku aja kamu mah gamau, giliran tieya yang minta kamu mah langsung diturutin" dan sungguh itu amat sangat membuatku berharap banyak padamu.
Namun, takdir memang aneh, kita hanya dipertemukan untuk beberapa percakapan canggung dan pandangan yang tercuri. Temanku sering memberitahuku bahwa kamu tak pernah melepas pandanganmu dariku kalau-kalau aku sedang berdiri di depan kelas untuk presentasi tugas. Dan aku juga selalu melakukan hal yang sama padamu. Atau kamu yang selalu berseru memanggil namaku saat guru meminta kamu menyampaikan pesan di kelas padahal disana banyak orang yang bisa kamu mintai tolong. Atau saat kita perpisahan SMA dan aku meminta foto berdua bersamamu. Kamu terlihat sangat canggung dan hanya menatap kamera yang sedang kamu pegang sampai aku harus menegurmu untuk setidaknya memberikan senyum. Sialnya, foto kita blur karena tangan temanku yang gemetar akibat gebetannya mau diajak foto bareng. Atau, secara kebetulan Map ijazah ku yang secara acak diberikan oleh pihak sekolah berakhir ditanganmu?
Sungguh, Takdir memang aneh.
Komentar
Posting Komentar