Langsung ke konten utama

Thunder

Siang telah berlalu, malam kembali hadir untuk menemaniku yang selalu saja kepayahan untuk terlelap. 22.20 WIB. Sudah selarut ini dan aku masih belum menemukan diriku merasakan kantuk. Sudah kucoba segala cara untuk membuat mataku terpejam lebih cepat. Berolah raga sebelum tidur, menghindari makan beberapa waktu sebelum tidur, meminum segelas susu hangat, menghitung mantan eh domba maksudnya, mendengarkan suara hujan, mematikan gawai. Tetap. Mata ku seakan bebal dengan tidur. Ah. Harus bagaimana caranya untuk membuat mataku lelah.

Jadi malam ini kuputuskan untuk menulis saja. Tak apa kan? Kumohon jangan lelah untuk mendengarkan semua kesahku. Aku tak tahu selain pada Tuhan dan kamu, pada siapa lagi aku bisa mengadu. Semoga, selesai aku menulis aku bisa mengalahkan kantuk!

Malam ini hujan masih turun dengan deras saat aku mengetik tulisan ini, tadi sempat reda. Tapi hanya sesaat. Iya. Sesaat. Kaya perasaan gebetan itu yang sukanya cuman sesaat (Curcol dah hahaha) Musik yang mengalun sangat lembut. Aku memilih musik secara random di Youtube. Ternyata I Took a Pill in Ibiza milik Mike Posner yang terpilih. Tidak mengecewakan. Haha.

Hujan masih menjatuhkan dirinya dengan sukarela pada tanah. Aku seringkali membayangkan bahwa hujan adalah mantannya awan. Dimana saat awan sudah tak cinta lagi, ia mengusir hujan dari kehidupannya yang mengakibatkan hujan patah hati dan turun membantingkan dirinya keatas tanah dan lenyap. Padahal sebenarnya bukan itu yang terjadi haha hanya otak saya yang terlalu delusional. Petir sesekali bersahutan diatas sana, membuat aku dan tubuhku gemetar. Ingin menangis rasanya ditengah hujan dan malam, petir harus bergabung. Aku tak pernah menyukai petir bagaimanapun orang sekitarku menasehatiku bahwa petir takkan menyakitiku. The fact is petir memang sudah menyakitiku dengan hadirnya. Mereka bertanya kenapa aku sangat menghindari petir padahal sangat suka dengan lagunya Boys Like Girls yang Thunder? Aku tak mampu menjawab. Aku hanya tak suka petir. Petir seolah mengisyaratkan bahwa aku adalah makhluk paling menyendiri yang pernah ada di muka bumi. Petir selalu memberikan kejutan yang tak aku sukai. Suaranya yang bergemuruh itu "ga selow" kalo kata Kids jaman now mah haha. Tak peduli bagaimana pun orang meyakinkan aku untuk tetap tenang ditengah suara petir yang menggelegar, aku selalu menemukan diriku gemetar dan menangis setiap kali petir muncul dalam hidupku. Maafkan aku Tuhan, Aku sangat membenci ciptaan mu yang satu ini.

Thunder. Aku dulu memanggil seseorang dengan sebutan thunder. Dia adalah lelaki pertama yang mengajarkanku bahwa seseorang itu worth to fight for. Mungkin karena kehilangan dia juga lah aku merasa sekarang aku membenci petir.

Dia, bagaimana ya aku menjelaskan tentang si thunder ini? Dia itu... Baiknya tidak terdefinisi lagi. Dia adalah seorang sahabat yang ternyata kita saling memiliki rasa yang lebih tapi terikat dengan pasangan masing-masing. Iya. Kita dulu bersahabat dan kita masing-masing telah memiliki pasangan. Akan tetapi, pasangan kita sama-sama membenci kedekatan kita. Mereka mengekang kita berdua untuk tidak saling berdekatan sekalipun kita sahabat. Itulah yang membuat kita sepakat memutuskan pasangan masing-masing demi sahabat. Karena, bagaimanapun, sahabat akan selalu ada buat kita saat kita butuhkan.

Setelah sekian lama bersahabat, dia akhirnya memutuskan untuk menyatakan perasaannya padaku. Awalnya aku bingung, dan akhirnya aku juga sadar bahwa aku memiliki perasaan yang lebih kepadanya. Tapi ternyata, peralihan status sahabat ke pacar itu tidak selalu baik. Kami malah jadi merasa canggung dan kaku. Hingga akhirnya, aku memutuskan dia karena merasa tidak nyaman dengan perasaan ini. Terlebih, thunder ini adalah saudara dari sahabat perempuanku. Namun, sahabat perempuanku ini ternyata mendekati mantanku. Ah, rumit da. Pusing aku pun. Hahaha. Intinya aku meninggalkan dia dikala dia sedang sangat mencintaiku. Yang membuatku sakit dan membenci petir? Adalah bagian dimana diriku mulai merasa kehilangan dia. Dan dia yang merasa tersakiti mulai menghindariku. Aku berusaha mengejar dan dia tak pernah membalas satupun pesanku. Malah, dia sudah mulai mengejar perempuan lain. Ternyata, Sakit hati itu seperti ini ya? Itu pikirku dulu.

Aku mulai membenci petir dikala hujan, karena itu akan membuatku mengingat luka yang sangat tidak aku senangi. Aku membenci petir sebagai bentuk pembelaan diriku yang telah menyakiti hati seseorang. Aku sepayah itu ya?

Damn, 22:53 WIB. It tooks me awhile to remember all those memories without my heart aching after all these years. Biasanya nulis disini gakkan selama itu namun sekarang, rasanya sulit menuliskan sesuatu yang menyakitkan tanpa mengulang luka itu kembali. Have a sweet dream.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bilamana

Pada suatu malam yang kudus, aku melepas penatku dipelukmu. Peluh membanjir, kita berenang dalam kesunyian. Bibir kita gemetar, meliuk saling merengut tak ingin lepas. Sementara mata kita kunci untuk tetap terpejam. Agar? Nafas liar kita semakin memburu! Kupekerjakan kamu, supaya badanku tetap hangat. Kubiarkan kamu melenguh dan menikmati. Tapi tak kubiarkan kamu melayang. Kujaga tetap pada aturannya. Biar kudapati tanya di wajahmu. Aku senang bikin kamu bingung. Langit dimalam itu mendung, bekas hujan tadi sore masih menyelinap di jendela. Memberi kamar kita yang sepetak kedinginan yang luar biasa. Itulah mengapa aku rapatkan badanku padamu. Dan itulah alasan kamu menjadi lebih liar daripada biasa. Kita diatas, kita dibawah. Saling mencumbu, saling tersenyum. Lucu. Saat kulihat wajahmu yang penuh peluh tetap bersikukuh untuk menyerang. Kubiarkan kamu berbuat sesuka. Ini malam kita. Malam yang mungkin tak dapat kita temui lagi. Semakin cepat kau bergerak semakin keras lenguhanku. G...

Serendipity

Hari ini, aku selesai menonton suatu film yang sejak malam tak sempat aku selesaikan. Serendipity. Atau dalam bahasa Indonesia nya, Kebetulan. Filmnya menarik, bikin baper. Hahaha. Makna yang aku dapat dari film tersebut adalah, selalu ada cara. Even  kemungkinannya sangat kecil dan hampir tidak mungkin. Tapi, itulah takdir. Sebetulnya dalam pemikiranku, kebetulan itu tidak ada. Takdir adalah sesuatu yang mutlak yang telah dirancang Tuhan dengan indahnya. Ya... Sesederhana dan serumit itu.  Well,  lupakan film itu. Blog ini bukan tukang review  film ko hahaha. Merujuk pada kata kebetulan. Aku selalu merasa kecil kala merenung bagaimana Tuhan mempertemukan aku dengan setiap orang hadir di hidupku. Entah untuk tinggal atau hanya mampir. Kebetulan aku bertemu dengannya. Kebetulan aku berkenalan dengannya. Dan kebetulan kita saling menyakiti. Hahahaha. Itu salah. Itu bukan kebetulan deh. Aku pernah merasakan suatu kebetulan yang amat sangat menyenangkan. Dimana ...

Smile

Today, as I woke up (due to my fever, I sleep a lot ehe) I checked on my phone. Wondering if I get your message. But nothing. So I check on Instagram. And... that's it. Now I know the reason behind all of it. I'm not mad at you nor blame you. It's me. I know it. Finally, you could set yourself free. I smiled. I supposed to feel broken right? But I am not. I am happy for you. Seeing you smile like that with her kinda make me reminisce about us. Yes. We only existed in the past.  Jangan tanya kenapa aku tak mengirimimu pesan, aku cukup sadar diri untuk tidak merusak kebahagiaan mu. Tulisan ini bahkan aku tulis dengan perasaan yang bersalah pada special lady  mu. Sampaikan maafku padanya jika suatu saat nanti kamu membacanya. Rindu? benar, aku rindu. Kamu pun cukup sering kan aku ganggu dengan pesan marahku karena kamu tak pernah mengabariku? Sekarang aku punya alasan mengapa aku tak boleh menghubungi mu lagi. Tolong. Buat aku untuk tidak menghubungimu, apapun yang terjad...