Langsung ke konten utama

(Jatuh) Cinta!

Jadi, begini... Aku adalah manusia yang seringkali disalah artikan. Eh. Maksudnya begini, ketika aku serius kebanyakan orang menganggap itu bercanda begitupun ketika aku sedang bercanda mereka akan menganggap aku sedang bercanda (yaiyalah ul!). Mungkin karena aku terlalu sering bercanda, kebanyakan aku gak dianggap serius, jadi susah nemu yang mau nyeriusin #curhat.

Jadi (lagi), ketika aku sedang bercanda mereka seringkali tertawa lepas. Bahagia sih bikin orang seneng karena kita, cuman repot nya adalah ketika kita beneran serius mereka seringkali menganggap kita becanda juga. Hahaha *nangis dipojokkan*

Kali ini, aku ga ingin merayu kamu dengan kata-kata puitis. Aku ga jago. Aku cuman ingin mengungkapkan tanpa membebani kamu. Ya. Aku cuman ingin mengungkapkan disini, bukan kepadamu.

Pertama kali mengenalmu, entah bagaimana aku memiliki perasaan bahwa aku akan amat sangat bergantung padamu. Aku akan mencari cara untuk bisa berbincang denganmu, seakan mengerti inginku, semesta berkonspirasi untuk membantu ku denganmu. Tapi entah. Aku hanya mampu berkira.

Hari demi hari, kita hadapi dengan bermacam cerita. Mostly aku yang cerita sih haha. Percayalah! Aku selalu mencari topik untuk dapat kuperbincangkan denganmu (kini aku tahu betapa sulit nya perjuangan para lelaki yang sedang melakukan pendekatan dengan gebetannya. LOL) Ketahuilah bahwa setiap cerita sepele yang aku ceritakan padamu adalah upayaku untuk mengambil perhatianmu. Aku senang sekali kamu selalu mengingat hal kecil tentangku (meski seringkali lupa juga).

Namun, ada perasaan bersalah yang entah bagaimana ada di dalam dadaku. Aku menyukaimu. Sungguh. Tapi aku tak bisa. Kamu milik temanku. Ah, lebih tepatnya... Temanku juga menyukaimu. Dan tak jarang dia memberikanku peringatan untuk tak mendekatimu, karena kalian memang sudah lebih lama dekat. Padahal... Siapa peduli? I mean, sekalipun kamu lebih lama dekat dengan temanku, aku masih boleh menyukai kamu kan? Perasaan itu urusan pribadi. Tak perlu lah larang melarang. Iya kan?

Hehehe

Becanda, aku tak ingin merusak pertemananku dengannya. Pun tak ingin merusak hubunganku denganmu. Sebatas ini pun aku sudah bahagia. Bagaimana kedepannya? Ah aku tak tahu. Aku tak pantas untuk berharap kamu juga akan membalas perasaanku. Cukup dekat seperti ini saja aku sudah bahagia :)

Hey!

Bolehkah aku meminta satu hal padamu? Coba kamu dengarkan lagunya mbak Danilla, Ada Di Sana 😸

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bilamana

Pada suatu malam yang kudus, aku melepas penatku dipelukmu. Peluh membanjir, kita berenang dalam kesunyian. Bibir kita gemetar, meliuk saling merengut tak ingin lepas. Sementara mata kita kunci untuk tetap terpejam. Agar? Nafas liar kita semakin memburu! Kupekerjakan kamu, supaya badanku tetap hangat. Kubiarkan kamu melenguh dan menikmati. Tapi tak kubiarkan kamu melayang. Kujaga tetap pada aturannya. Biar kudapati tanya di wajahmu. Aku senang bikin kamu bingung. Langit dimalam itu mendung, bekas hujan tadi sore masih menyelinap di jendela. Memberi kamar kita yang sepetak kedinginan yang luar biasa. Itulah mengapa aku rapatkan badanku padamu. Dan itulah alasan kamu menjadi lebih liar daripada biasa. Kita diatas, kita dibawah. Saling mencumbu, saling tersenyum. Lucu. Saat kulihat wajahmu yang penuh peluh tetap bersikukuh untuk menyerang. Kubiarkan kamu berbuat sesuka. Ini malam kita. Malam yang mungkin tak dapat kita temui lagi. Semakin cepat kau bergerak semakin keras lenguhanku. G...

Serendipity

Hari ini, aku selesai menonton suatu film yang sejak malam tak sempat aku selesaikan. Serendipity. Atau dalam bahasa Indonesia nya, Kebetulan. Filmnya menarik, bikin baper. Hahaha. Makna yang aku dapat dari film tersebut adalah, selalu ada cara. Even  kemungkinannya sangat kecil dan hampir tidak mungkin. Tapi, itulah takdir. Sebetulnya dalam pemikiranku, kebetulan itu tidak ada. Takdir adalah sesuatu yang mutlak yang telah dirancang Tuhan dengan indahnya. Ya... Sesederhana dan serumit itu.  Well,  lupakan film itu. Blog ini bukan tukang review  film ko hahaha. Merujuk pada kata kebetulan. Aku selalu merasa kecil kala merenung bagaimana Tuhan mempertemukan aku dengan setiap orang hadir di hidupku. Entah untuk tinggal atau hanya mampir. Kebetulan aku bertemu dengannya. Kebetulan aku berkenalan dengannya. Dan kebetulan kita saling menyakiti. Hahahaha. Itu salah. Itu bukan kebetulan deh. Aku pernah merasakan suatu kebetulan yang amat sangat menyenangkan. Dimana ...

Smile

Today, as I woke up (due to my fever, I sleep a lot ehe) I checked on my phone. Wondering if I get your message. But nothing. So I check on Instagram. And... that's it. Now I know the reason behind all of it. I'm not mad at you nor blame you. It's me. I know it. Finally, you could set yourself free. I smiled. I supposed to feel broken right? But I am not. I am happy for you. Seeing you smile like that with her kinda make me reminisce about us. Yes. We only existed in the past.  Jangan tanya kenapa aku tak mengirimimu pesan, aku cukup sadar diri untuk tidak merusak kebahagiaan mu. Tulisan ini bahkan aku tulis dengan perasaan yang bersalah pada special lady  mu. Sampaikan maafku padanya jika suatu saat nanti kamu membacanya. Rindu? benar, aku rindu. Kamu pun cukup sering kan aku ganggu dengan pesan marahku karena kamu tak pernah mengabariku? Sekarang aku punya alasan mengapa aku tak boleh menghubungi mu lagi. Tolong. Buat aku untuk tidak menghubungimu, apapun yang terjad...