Langsung ke konten utama

Cinta Bagiku

Hari ini, aku membaca sebuah artikel. Dengan judul "Perlukah cinta untuk diungkapkan?".  Ingin aku menjawab "tentu saja perlu!" tapi aku sadar, sebenarnya semua kembali pada bentuk cinta itu sendiri. Bentuk cinta? Memang ada? Ada dong! Hahaha

Bagiku, Cinta tetaplah Cinta whether kamu ungkapkan atau tidak.  Apa yang lantas menjadikan cinta kurang maknanya ketika tidak diungkapkan? Diungkapkan pun tidak berarti Cinta menjadi berbalas. Tapi, ada suatu perasaan yang melegakan ketika Cinta terungkapkan. Juga, ada tanggung jawab besar yang harus kita pikul ketika Cinta itu terungkap.

Sedangkan aku, aku adalah manusia yang senang mencintai dalam diam. Bukan, bukan aku tak memiliki keberanian untuk mengungkapkan. Namun, Cinta bagiku adalah sesuatu yang personal. Sesuatu yang tak perlu mendapatkan balasan agar menjadi lengkap. Karena, cinta adalah perasaan yang hadir dalam diri, dan hanya diri sendiri mampu merasakan. Aku lebih senang mendamba seseorang dan menghadiahinya doa kepada Tuhanku. Terlepas dia milikku atau bukan. Karena, perasaan tak hanya untuk apa yang kita miliki bukan?

Temanku sering berkata "kamu mah enak, banyak yang deketin ga perlu galau" dan aku sering kesal. Aku justru bingung harus bagaimana untuk bersikap dengan mereka yang mendekatiku. Ketika aku berusaha ramah, mereka malah merasa aku memberikan harapan untuk kehidupan percintaan mereka. Ketika aku berusaha menghindar, mereka mengumpat aku akan mendapatkan karma atas apa yang aku lakukan. Really? Kan lucu. Padahal perasaan itu kan urusan masing-masing, kenapa aku harus menanggung tanggung jawab atas perasaan yang orang miliki padaku?

Untuk itu, aku memutuskan bahwa, perasaan adalah hal personal yang tak perlu membebani orang lain. Terlebih pada orang yang kita cinta. Cukup aku dan Tuhanku yang tahu. Mungkin nanti ada keajaiban dari Tuhan, siapa yang tahu kan? Bukan, sudah kubilang bukan berarti aku tak ingin berusaha memilikinya. Aku hanya tak ingin membebaninya dengan perasaan yang aku miliki. Ini perasaanku, tanggung jawab ku untuk menyelesaikan bagaimana perasaanku akan berlangsung. Cukup kamu nikmati semua perhatianku padamu, syukur-syukur kamu juga suka sama aku. Ehe.

Jadi, masih perlukah cinta diungkapkan?

Sudah kubilang, itu semua tergantung pada bagaimana bentuk cinta itu sendiri. Sejatinya, Cinta sejati memang tak perlu memiliki. Even mencintai dalam diam itu menyesakkan. Lebih menyesakkan mana melihat orang yang kamu cintai merasa sedih karena tak mampu membalas perasaanmu?

Semoga... Cinta kalian selalu terbalas :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bilamana

Pada suatu malam yang kudus, aku melepas penatku dipelukmu. Peluh membanjir, kita berenang dalam kesunyian. Bibir kita gemetar, meliuk saling merengut tak ingin lepas. Sementara mata kita kunci untuk tetap terpejam. Agar? Nafas liar kita semakin memburu! Kupekerjakan kamu, supaya badanku tetap hangat. Kubiarkan kamu melenguh dan menikmati. Tapi tak kubiarkan kamu melayang. Kujaga tetap pada aturannya. Biar kudapati tanya di wajahmu. Aku senang bikin kamu bingung. Langit dimalam itu mendung, bekas hujan tadi sore masih menyelinap di jendela. Memberi kamar kita yang sepetak kedinginan yang luar biasa. Itulah mengapa aku rapatkan badanku padamu. Dan itulah alasan kamu menjadi lebih liar daripada biasa. Kita diatas, kita dibawah. Saling mencumbu, saling tersenyum. Lucu. Saat kulihat wajahmu yang penuh peluh tetap bersikukuh untuk menyerang. Kubiarkan kamu berbuat sesuka. Ini malam kita. Malam yang mungkin tak dapat kita temui lagi. Semakin cepat kau bergerak semakin keras lenguhanku. G...

Serendipity

Hari ini, aku selesai menonton suatu film yang sejak malam tak sempat aku selesaikan. Serendipity. Atau dalam bahasa Indonesia nya, Kebetulan. Filmnya menarik, bikin baper. Hahaha. Makna yang aku dapat dari film tersebut adalah, selalu ada cara. Even  kemungkinannya sangat kecil dan hampir tidak mungkin. Tapi, itulah takdir. Sebetulnya dalam pemikiranku, kebetulan itu tidak ada. Takdir adalah sesuatu yang mutlak yang telah dirancang Tuhan dengan indahnya. Ya... Sesederhana dan serumit itu.  Well,  lupakan film itu. Blog ini bukan tukang review  film ko hahaha. Merujuk pada kata kebetulan. Aku selalu merasa kecil kala merenung bagaimana Tuhan mempertemukan aku dengan setiap orang hadir di hidupku. Entah untuk tinggal atau hanya mampir. Kebetulan aku bertemu dengannya. Kebetulan aku berkenalan dengannya. Dan kebetulan kita saling menyakiti. Hahahaha. Itu salah. Itu bukan kebetulan deh. Aku pernah merasakan suatu kebetulan yang amat sangat menyenangkan. Dimana ...

Smile

Today, as I woke up (due to my fever, I sleep a lot ehe) I checked on my phone. Wondering if I get your message. But nothing. So I check on Instagram. And... that's it. Now I know the reason behind all of it. I'm not mad at you nor blame you. It's me. I know it. Finally, you could set yourself free. I smiled. I supposed to feel broken right? But I am not. I am happy for you. Seeing you smile like that with her kinda make me reminisce about us. Yes. We only existed in the past.  Jangan tanya kenapa aku tak mengirimimu pesan, aku cukup sadar diri untuk tidak merusak kebahagiaan mu. Tulisan ini bahkan aku tulis dengan perasaan yang bersalah pada special lady  mu. Sampaikan maafku padanya jika suatu saat nanti kamu membacanya. Rindu? benar, aku rindu. Kamu pun cukup sering kan aku ganggu dengan pesan marahku karena kamu tak pernah mengabariku? Sekarang aku punya alasan mengapa aku tak boleh menghubungi mu lagi. Tolong. Buat aku untuk tidak menghubungimu, apapun yang terjad...