Langsung ke konten utama

Sepotong Cokelat dan Segenggam Turquoise

Pagi ini aku memulai hari dengan biasa. Membuka mata, mengecek gawai, meminum segelas air putih, membereskan tempat tidur, membuka tirai, pergi ke kamar mandi dan memakan cereal bar yang ibu berikan di kantong makanan sewaktu dirumah. Ya. Dan perasaanku masih saja sama. Hampa. Skip. Aku segera membuka laptop yang ada di sebelah kasurku. Setelah menyalakan tombol power dan menekan beberapa tombol, aku mendengarkan The Bird and The Worm nya Owl City. Yesshhhh, pagi ini aku merasa sangat bersemangat. Tapi entah untuk apa.

Aku sedang membuka gawaiku saat ada satu pesan masuk di LINE. Aku segera membukanya. Ternyata seseorang yang di masa laluku pernah memberikan ku dua cokelat batangan. Ya. Lagi-lagi masa lalu. Kenapa aku tidak bisa hidup untuk masa depan saja sih? Atau setidaknya untuk masa sekarang. Rasanya hidupku terkungkung di masa lalu. Begitu kan yang sering aku ceritakan padamu? Akhirnya aku membuka pesan itu, pesan yang berisi "Boleh ga aku nanyain kabar aul?". Yang ujungnya aku baca saja. Aku tak ingin membalasnya. Boleh kan?

Lupakan lelaki itu, aku tidak sedang ingin merasakan luka. Jadi hari ini aku pergi membeli sebuah barang untuk dijadikan kado ulang tahun. Ya. Adikku satu-satunya akan segera beranjak dewasa. Dia berulang tahun ke 17 tanggal 3 November nanti, namun karena dia sedang ada kegiatan di kampus jadi dia tidak akan pulang tepat saat ulang tahunnya sehingga mengharuskan aku mempercepat pembelian kado untuknya. Aku tak pernah merasa keberatan melakukan hal yang bisa membuat adikku bahagia.

Skip lagi.

Tadi sewaktu aku sedang menunggu kado untuk adikku dibungkus, ternyata ada seorang laki-laki yang dengan gugupnya mencari kertas kado yang cocok untuk kekasihnya. Raut wajahnya terlihat sangat bahagia sekaligus bingung memilih. Entah kenapa aku senang melihat ekspresi laki-laki tersebut, berulang kali ia meminta bantuan temannya untuk memilih. Temannya hanya diam dan sama bingungnya. Sampai karena sudah lelah, dia tiba-tiba mengajakku berbicara dan meminta bantuanku. Aku tanya bagaimana cara berpakaian perempuan itu, warna apa yang sering ia pakai. Si laki-laki tersebut menjawab kekasihnya senang memakai baju blouse dan warna yang sering ia pakai adalah merah dan merah muda. Akhirnya aku memilihkan ia sebuah kertas kado dengan warna merah dan corak bunga berwarna merah muda. Sangat perempuan. Dia terlihat puas dan segera meminta mbak yang berjaga di toko itu untuk segera membungkuskan kadonya dan berulang kali mengucapkan terima kasih padaku. Dia bilang itu pertama kalinya ia memberikan kado kepada seseorang yang dia sayangi hingga bingung memilihkan yang terbaik. Aku hanya tersenyum. Dan ikut merasa bahagia melihat laki-laki itu dengan kikuk memilihkan semua yang terbaik untuk kekasihnya. Selamat Ulang Tahun by the way buat kekasih laki-laki tadi.

Selesai membungkus hadiah untuk adikku, aku pergi ke supermarket yang ada di lantai bawah tempat perbelanjaan itu. Sambil mencari apa yang akan aku beli, pandanganku tertuju pada sebaris cokelat yang terjejer rapi di salah satu sudut supermarket. Aku berjalan kesana dan kulihat seorang laki-laki (lagi) sedang kebingungan (lagi) memilih cokelat untuk tambatan hatinya. Melihatku berjalan ke arah cokelat itu dia tersenyum dan bertanya dengan sangat sopan, cokelat apa yang biasanya disukai oleh para perempuan. Aku menunjuk salah satu cokelat yang biasanya aku dan temanku beli untuk memanjakan diri. Dia tersenyum dan mengambil beberapa batang cokelat yang kutunjuk seraya berterima kasih lalu pergi meninggalkan aku yang terdiam didepan cokelat. Aku mengurungkan niatku untuk membeli cokelat. Dan pergi ke bagian lain dari supermarket tersebut.

Selesai membayar belanjaanku, aku singgah di food court yang ada di lantai atas mall tersebut. Aku duduk di meja yang disediakan disana dan membuka makanan yang tadi kubeli di supermarket. Saat aku menoleh ke sekitar, ternyata tempat itu sedang ramai oleh pengunjung. Kebanyakan dari mereka pergi dengan teman, keluarga bahkan kekasih. Sedangkan aku. Aku hanya tersenyum masam dan berusaha sibuk dengan gawai ditanganku (padahal tak satupun ada pesan masuk ahahahah). Aku memutuskan untuk kembali melihat sekeliling dan membayangkan warna apa yang ada di sekitar mereka. Untuk mereka yang bersemangat saat bercerita dengan temannya kuberi warna merah. Mereka yang terlihat ceria tertawa bersama sanak saudaranya kuberi warna putih. Untuk mereka yang sedang asik berswafoto bersama kekasihnya aku beri warna pink. Dan untuk mereka yang sedang sendiri sepertiku aku beri warna toska. Kenapa toska? Karena itu warna kesukaan ku. Warna lembut dan juga seperti air yang mengalir bagiku. Turquoise. Aku melihat warna itu seperti warna yang sepi. Tapi bukan kesepian. Hanya saja, memberikan kesan yang tenang even dia sendiri. Tapi, entah kenapa... Rasanya hari ini aku amat sangat kesepian. Entah. Mungkin aku memang harusnya tak pergi ke pusat perbelanjaan sendirian karena aku amat sangat rentan terbawa perasaan. hahaha.

So... Cukup untuk postingan kali ini. Bukan postingan dengan kata-kata yang biasa ku sampaikan. Postingan kali ini lebih kepada aku yang sedang mencurahkan isi hatiku. Hahaha. Ciao!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bilamana

Pada suatu malam yang kudus, aku melepas penatku dipelukmu. Peluh membanjir, kita berenang dalam kesunyian. Bibir kita gemetar, meliuk saling merengut tak ingin lepas. Sementara mata kita kunci untuk tetap terpejam. Agar? Nafas liar kita semakin memburu! Kupekerjakan kamu, supaya badanku tetap hangat. Kubiarkan kamu melenguh dan menikmati. Tapi tak kubiarkan kamu melayang. Kujaga tetap pada aturannya. Biar kudapati tanya di wajahmu. Aku senang bikin kamu bingung. Langit dimalam itu mendung, bekas hujan tadi sore masih menyelinap di jendela. Memberi kamar kita yang sepetak kedinginan yang luar biasa. Itulah mengapa aku rapatkan badanku padamu. Dan itulah alasan kamu menjadi lebih liar daripada biasa. Kita diatas, kita dibawah. Saling mencumbu, saling tersenyum. Lucu. Saat kulihat wajahmu yang penuh peluh tetap bersikukuh untuk menyerang. Kubiarkan kamu berbuat sesuka. Ini malam kita. Malam yang mungkin tak dapat kita temui lagi. Semakin cepat kau bergerak semakin keras lenguhanku. G...

CodeName

Hur många gånger måste jag berätta för dig? Om det inte är med mitt kodnamn. Då är historien inte rätt. Jag låter dig veta det hela tiden. Det är därför jag använder mitt kodnamn, kanske förstår du det. Du vet historien bakom namnet. Du frågar mig vad skulle jag ha? Jag vill inte ha någonting. Det gör bara ont för att veta det faktum. Att jag inte visste vad du ville ha. Vad du vet. Som om du inte ville ha mig, men du fortsätter att dra mig. Jag vet att vi inte kunde vara tillsammans. Eftersom detta bara är ensidigt. Men vad vill du ha? Jag saknar dig. Jag gör verkligen. - SeRa

Pernikahan

Marriage. Aku kadang ngeri mendengar kata ini. Bagiku pernikahan bukanlah suatu tujuan. Karena, dalam pikiranku, pernikahan adalah sesuatu yang tidak sesakral itu. Kenapa? Mungkin karena aku ada didalam sesuatu yang mereka sebut perceraian. Didalam artiku, pernikahan yang se-kramat itu bisa hancur hanya karena pihak lain yang mungkin dirasa lebih menggoda. Jadi, untuk apa menikah jika kita tetap menganut pada prinsip "jodoh siapa yang tahu"? Sampai sekarang, aku masih tidak mengerti kenapa teman-teman ku bersikeras ingin menikah muda. Pasalnya, untuk menikah, buatku, bukan hanya perkara menghalalkan pacaran. Bukan hanya menghalalkan "ena-ena". Bukan hanya menghalalkan kontak fisik yang selama ini mereka damba. Lebih dari itu, sesiap apa kamu untuk mengurus orang lain yang katanya kamu sayangi? Salut, pada mereka yang memutuskan untuk menikah muda. Berani sekali. Di usia yang bisa dibilang belum matang berpikir dan pengalaman berkomunikasi yang pastinya sedikit leb...