I wish that I could Photoshop
All our bad memories
'Cause the flashbacks, oh, the flashbacks
Won't leave me alone
All our bad memories
'Cause the flashbacks, oh, the flashbacks
Won't leave me alone
If you come back to me, I'll be all that you need
Baby, come back to me
Let me make up for what happened in the past
Baby, come back to me
Let me make up for what happened in the past
Come back, baby, come back to me
Come back, I'll be everything you need
Come back, baby, come back to me
Come back, boy, you're one in a million
Come back, I'll be everything you need
Come back, baby, come back to me
Come back, boy, you're one in a million
Utada Hikaru - Come Back to Me
Iya. Malam ini Mbak Utada membuatku sangat tersinggung. Amat sangat tersinggung. Pasalnya aku sedang menginginkan seseorang untuk kembali tapi juga tak setega itu untuk mengganggu kebahagiannya. You know what it feels lyk rite?
Dia... dia seperti imaji didalam puisiku. Tak bisa aku berhenti untuk menggambarkan semua tentangnya. Tak bisa aku berhenti mencita segala tentangnya. Aku bukan pecinta yang handal. Aku sangat lemah dalam urusan cinta-mencinta. Namun dia mampu merengkuh segalaku tanpa percuma. Dia menjadikan aku ada. Bagaimana bisa aku sampai kehilangannya? Aku yang bersalah. Kini, aku tak lagi memiliki inspirasi. Dia telah pergi. Telah tiada. Telah bersama bahagianya.
Memang salahku, yang selalu menganggap bahwa dia akan selalu mengejarku. Merasa aku selalu benar dan tak peduli akan salah, hanya karena kebaikan hatinya. Akhirnya, dia pergi membawa serpihan lukanya. Semua usahanya selalu tak aku acuhkan. Hingga dia jengah dan memilih gadis yang lebih bisa mencintanya. Maaf. Kini sembilu yang kupakai untuk melukai mu berbalik melukai ku. Karma memang sedekat nadi.
Dia... pergi dengan segenap luka yang aku toreh. Luka lamanya yang belum benar pulih harus aku bubuhi garam. Pikirku dia harus merasakan sakitnya hatiku, padahal bukan dia yang melukaiku. Dia berlalu setelah segala pamit yang tak terucap. Suaranya hilang ditelan perih yang ia tahan. Yang tersisa disini hanya aku dan segala penyesalan. Ah. Seandainya penyesalan selalu ada diawal. Eh. Sebenarnya aku sudah tahu bahwa aku akan menyesal dengan sikapku. Aku hanya ingin dia pergi, agar dia bisa lebih bahagia. Lantas kenapa setelah ia pergi, malah aku yang tersiksa?
Terkadang, sesuatu memang terjadi tak seperti rencana. Rencana awalku adalah membuat dia merasakan sakit yang luar biasa agar terbiasa dengan segala sikapku. Tapi Tuhan berkata lain, dibalik hatinya agar dia mundur dariku. Terimakasih Tuhanku. Semoga dengan ini ia bisa bahagia dan aku tak perlu merasa bersalah lagi.
Dan untuk yang terakhir kalinya... Aku bahagia pernah dicintai sedemikian rupa hingga lupa wujud benci. Terima kasih. Dan jangan kembali. Berbahagialah.
Komentar
Posting Komentar