Langsung ke konten utama

Setengah

Lampu itu tetap tergantung di dinding kamarku. Memberikan pendar hangat yang senantiasa membuat tentram malam yang dingin ini. Aku menatapnya, memastikan lampu itu nyala satu-persatu. Dan berhenti di tengah sebelum lintasan lampunya selesai. Mengapa? Entah, rasanya, ada yang menarik hatiku. Jadi malam itu, aku habiskan untuk menatap lampu satu-persatu lalu tetap berhenti di tengah. Ucapannya siang itu masih terngiang "Aku pergi dari hidup kamu. Bukan aku yang ingin, tapi kamu yang memaksaku". Padahal, sejujurnya aku tak pernah memaksa dia untuk bertahan atau untuk pergi.

Dia, aku memanggilnya dengan sebutan uda. Iya. Sebutan khas untuk lelaki yang tinggal di Padang. Setahuku begitu. Dia salah satu kakak tingkat di kampusku. Beda jurusan. Begitupun fakultasnya. Dia bilang, wajahku mirip dengan mantan kekasihnya. Maka dari itu, dia selalu berusaha untuk membantuku, takut-takut aku adalah reinkarnasi kasihnya dulu. Padahal, mantannya saja masih hidup. Dasar modus!

Uda, baik. Tapi aku tak mampu menganggapnya lebih dari sekedar teman. Atau lebih dari sekedar adik kepada kakak nya. Sedang dia, meminta aku menjadi tambatan hatinya tanpa ingin menjadikannya secara resmi. Macam mana pula kan? Akhirnya hubungan kita terombang-ambing. Sisi satu ingin begini, yang lain ingin begitu. Tak memiliki pemikiran yang sama akhirnya kita saling melepas. Tapi kamu bilang ini aku yang salah. Kamu bilang, aku kasih kamu harapan tapi lalu menjadi manusia yang tak berperasaan. Sejatinya, aku hanya ingin menjadi teman yang baik. Lalu berakhir dengan umpatan. Tak mengapa. God knows I tried.

Jadi, kami hilang. Aku dan dia tak pernah berusaha saling menghubungi. Selayak kita kembali menjadi asing. Tak mengapa, ku bilang. Aku tak ingin menyakiti hati milik orang, dan seolah memberinya harapan. Jadi, aku memutuskan untuk memberinya ruang yang memang selama ini tercipta diantara kita.

Selang lama, dia kembali. Berkata rindu menjejal dihatinya. Namun kubilang, aku tak ingin memberimu rasa yang lain. Dia bersikeras, ingin tahu apa yang terjadi dengan batu dihatiku. Kamu mencari celah, menelusup kepada setiap pori yang ada. Aku berkali menjauhkanmu, tak ingin kamu terluka. Dan tak ingin merasa tanggung jawab ada di benakku. Cukup masa lalu yang menjadikan kita sebatas kenal. Dengan segala dayamu, kamu akhirnya berhadapan denganku. Pikirmu aku akan berubah pikiran kala melihat sayu matamu atas reaksi ku melihat wujudmu? Tidak uda, aku tetap pada pendirianku. Aku ingin menjadi aku yang tak perlu kamu kejar. Aku ingin menjadi aku yang segala upaya untukku sendiri. Aku ingin menjadi aku yang tak untuk siapapun. Aku lelah. For people only taking me for granted. Jadi... Biarkan aku dengan segala caraku, mendamba luka menyesap sepi. Tak usah kamu berlelah memahami setiap luka yang tertoreh ditubuhku. Tak ingin aku kamu tahu betapa berat apa yang harus aku jalani. Biarkan, biarkan aku sendiri dan menjadi diriku.

Masih kuingat, lagu nya mbak Utada Hikaru, Simple and Clean mengalun tepat ketika kamu melangkah keluar dari ruanganku. Tidak, pergimu tak menyisakan luka di sunyiku. Tak juga menimbulkan perih di malamku. Semoga, suatu saat kamu mengerti, bahwa hidup tak sesederhana itu.

Sila, pergi dan tak usah kembali. Jalan kita yang baru setengah tak usah kita lanjut kembali. Hanya sakit yang tertimbul dalam alunannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bilamana

Pada suatu malam yang kudus, aku melepas penatku dipelukmu. Peluh membanjir, kita berenang dalam kesunyian. Bibir kita gemetar, meliuk saling merengut tak ingin lepas. Sementara mata kita kunci untuk tetap terpejam. Agar? Nafas liar kita semakin memburu! Kupekerjakan kamu, supaya badanku tetap hangat. Kubiarkan kamu melenguh dan menikmati. Tapi tak kubiarkan kamu melayang. Kujaga tetap pada aturannya. Biar kudapati tanya di wajahmu. Aku senang bikin kamu bingung. Langit dimalam itu mendung, bekas hujan tadi sore masih menyelinap di jendela. Memberi kamar kita yang sepetak kedinginan yang luar biasa. Itulah mengapa aku rapatkan badanku padamu. Dan itulah alasan kamu menjadi lebih liar daripada biasa. Kita diatas, kita dibawah. Saling mencumbu, saling tersenyum. Lucu. Saat kulihat wajahmu yang penuh peluh tetap bersikukuh untuk menyerang. Kubiarkan kamu berbuat sesuka. Ini malam kita. Malam yang mungkin tak dapat kita temui lagi. Semakin cepat kau bergerak semakin keras lenguhanku. G...

CodeName

Hur många gånger måste jag berätta för dig? Om det inte är med mitt kodnamn. Då är historien inte rätt. Jag låter dig veta det hela tiden. Det är därför jag använder mitt kodnamn, kanske förstår du det. Du vet historien bakom namnet. Du frågar mig vad skulle jag ha? Jag vill inte ha någonting. Det gör bara ont för att veta det faktum. Att jag inte visste vad du ville ha. Vad du vet. Som om du inte ville ha mig, men du fortsätter att dra mig. Jag vet att vi inte kunde vara tillsammans. Eftersom detta bara är ensidigt. Men vad vill du ha? Jag saknar dig. Jag gör verkligen. - SeRa

Pernikahan

Marriage. Aku kadang ngeri mendengar kata ini. Bagiku pernikahan bukanlah suatu tujuan. Karena, dalam pikiranku, pernikahan adalah sesuatu yang tidak sesakral itu. Kenapa? Mungkin karena aku ada didalam sesuatu yang mereka sebut perceraian. Didalam artiku, pernikahan yang se-kramat itu bisa hancur hanya karena pihak lain yang mungkin dirasa lebih menggoda. Jadi, untuk apa menikah jika kita tetap menganut pada prinsip "jodoh siapa yang tahu"? Sampai sekarang, aku masih tidak mengerti kenapa teman-teman ku bersikeras ingin menikah muda. Pasalnya, untuk menikah, buatku, bukan hanya perkara menghalalkan pacaran. Bukan hanya menghalalkan "ena-ena". Bukan hanya menghalalkan kontak fisik yang selama ini mereka damba. Lebih dari itu, sesiap apa kamu untuk mengurus orang lain yang katanya kamu sayangi? Salut, pada mereka yang memutuskan untuk menikah muda. Berani sekali. Di usia yang bisa dibilang belum matang berpikir dan pengalaman berkomunikasi yang pastinya sedikit leb...