Lampu itu tetap tergantung di dinding kamarku. Memberikan pendar hangat yang senantiasa membuat tentram malam yang dingin ini. Aku menatapnya, memastikan lampu itu nyala satu-persatu. Dan berhenti di tengah sebelum lintasan lampunya selesai. Mengapa? Entah, rasanya, ada yang menarik hatiku. Jadi malam itu, aku habiskan untuk menatap lampu satu-persatu lalu tetap berhenti di tengah. Ucapannya siang itu masih terngiang "Aku pergi dari hidup kamu. Bukan aku yang ingin, tapi kamu yang memaksaku". Padahal, sejujurnya aku tak pernah memaksa dia untuk bertahan atau untuk pergi.
Dia, aku memanggilnya dengan sebutan uda. Iya. Sebutan khas untuk lelaki yang tinggal di Padang. Setahuku begitu. Dia salah satu kakak tingkat di kampusku. Beda jurusan. Begitupun fakultasnya. Dia bilang, wajahku mirip dengan mantan kekasihnya. Maka dari itu, dia selalu berusaha untuk membantuku, takut-takut aku adalah reinkarnasi kasihnya dulu. Padahal, mantannya saja masih hidup. Dasar modus!
Uda, baik. Tapi aku tak mampu menganggapnya lebih dari sekedar teman. Atau lebih dari sekedar adik kepada kakak nya. Sedang dia, meminta aku menjadi tambatan hatinya tanpa ingin menjadikannya secara resmi. Macam mana pula kan? Akhirnya hubungan kita terombang-ambing. Sisi satu ingin begini, yang lain ingin begitu. Tak memiliki pemikiran yang sama akhirnya kita saling melepas. Tapi kamu bilang ini aku yang salah. Kamu bilang, aku kasih kamu harapan tapi lalu menjadi manusia yang tak berperasaan. Sejatinya, aku hanya ingin menjadi teman yang baik. Lalu berakhir dengan umpatan. Tak mengapa. God knows I tried.
Jadi, kami hilang. Aku dan dia tak pernah berusaha saling menghubungi. Selayak kita kembali menjadi asing. Tak mengapa, ku bilang. Aku tak ingin menyakiti hati milik orang, dan seolah memberinya harapan. Jadi, aku memutuskan untuk memberinya ruang yang memang selama ini tercipta diantara kita.
Selang lama, dia kembali. Berkata rindu menjejal dihatinya. Namun kubilang, aku tak ingin memberimu rasa yang lain. Dia bersikeras, ingin tahu apa yang terjadi dengan batu dihatiku. Kamu mencari celah, menelusup kepada setiap pori yang ada. Aku berkali menjauhkanmu, tak ingin kamu terluka. Dan tak ingin merasa tanggung jawab ada di benakku. Cukup masa lalu yang menjadikan kita sebatas kenal. Dengan segala dayamu, kamu akhirnya berhadapan denganku. Pikirmu aku akan berubah pikiran kala melihat sayu matamu atas reaksi ku melihat wujudmu? Tidak uda, aku tetap pada pendirianku. Aku ingin menjadi aku yang tak perlu kamu kejar. Aku ingin menjadi aku yang segala upaya untukku sendiri. Aku ingin menjadi aku yang tak untuk siapapun. Aku lelah. For people only taking me for granted. Jadi... Biarkan aku dengan segala caraku, mendamba luka menyesap sepi. Tak usah kamu berlelah memahami setiap luka yang tertoreh ditubuhku. Tak ingin aku kamu tahu betapa berat apa yang harus aku jalani. Biarkan, biarkan aku sendiri dan menjadi diriku.
Masih kuingat, lagu nya mbak Utada Hikaru, Simple and Clean mengalun tepat ketika kamu melangkah keluar dari ruanganku. Tidak, pergimu tak menyisakan luka di sunyiku. Tak juga menimbulkan perih di malamku. Semoga, suatu saat kamu mengerti, bahwa hidup tak sesederhana itu.
Sila, pergi dan tak usah kembali. Jalan kita yang baru setengah tak usah kita lanjut kembali. Hanya sakit yang tertimbul dalam alunannya.
Komentar
Posting Komentar