Langsung ke konten utama

Hujan tanpa Petir

Malam ini hujan turun dengan sangat deras, merontokkan segala peluh yang ada. Menggigil. Angin dingin menyelisik di jendela. Memberi sensasi dingin pada aku yang tengah kesepian. Hanya ada alunan lagu yang gaduh di gawaiku. Aku menatap sekeliling, dan menyadari betapa berantakannya kamarku. Biarkan saja begini adanya, hatiku sedang tidak utuh juga. Aku sedang berteman dengan kehidupan.

Mata ku terpaku pada kelip lampu di dinding kamarku. Nafasku terhela. Sebutir bulir air terurai dari sudut mataku. Tetiba hatiku terasa nyeri. Entah apa. Entah kenapa. Entah bagaimana. Entah kapan. Aku mulai menangis sesenggukan. Hujan memang selalu mampu melelehkan air mataku. Beruntung. Hujan kali ini tiada disertai gemuruh petir. Aku selalu takut dengan petir, sifatku memang selalu kekanakan. 

Suara halus Sam Smith menemani malam ku yang diguyur hujan. Seharian ini aku selalu berurusan dengan hujan. Sigh... Malam begini, aku beranjak dari kasurku menuju lemari. Disana kutemui berbagai cemilan, pulang ke rumah memang selalu menjadi hal yang tepat. Aku mengambil satu bungkus makanan ringan dan duduk di kursi. Menekuri sebuah novel yang tergeletak. Sambil mengunyah, lelehan air mata kembali membasahi pipi. Entah. Apa lagi yang diinginkan oleh jiwa lelah ini. Akhirnya aku teringat kejadian di Bus tadi ketika hendak kembali ke kostan. Aku melihat sepasang suami istri dengan seorang gadis kecil yang belum genap setahun naik Bus. Karena penuh, mereka duduk terpisah. Ibunya duduk di kursi sebelah ku dan Ayah beserta anaknya duduk di kursi seberang. Anaknya menangis, Sang Ibu dengan naluri keibuannya hendak menggendong gadis kecilnya, lalu Ayahnya menolak dengan halus seraya berkata "Gapapa bunda, biar ayah yang urus adek. Bunda istirahat aja ya, semalem bunda kan ga tidur nungguin adek" dengan senyum tulus di wajahnya. Ibu tersebut tersenyum seraya menyandarkan dirinya di kursi. Dengan sudut mataku aku melihat Ayah tersebut mengangkat anaknya lebih tinggi dari kepalanya seraya memanggil nama bayi tersebut dan tersenyum manis sekali. Gadisnya perlahan terdiam dan tertawa mengikuti ayahnya. Damai sekali melihatnya.

Tidak. Aku tidak cemburu ataupun merasa sirik. Yang aku rasakan hanya hampa. Kosong. Seolah aku memang tak bisa merasakan apa-apa lagi. Ada sesuatu yang mencelos hatiku. Entah karena sakit ini sudah terlalu menyakitkan sehingga membuatku tak dapat merasakan apa-apa lagi. Entah karena aku memang sudah tidak memiliki perasaan. 

Apakah mungkin sebenarnya yang kucari selama ini adalah kasih sayang seperti yang didapat gadis itu, dari mereka yang selama ini telah aku patahkan hatinya? Ah. Bagaimana cara aku untuk menjelaskannya? Ah. Entahlah. Malam ini aku beruntung. Hujan. Tanpa Petir. Seperti hidup ini. Terasa damai namun ada yang kurang. Apakah itu?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bilamana

Pada suatu malam yang kudus, aku melepas penatku dipelukmu. Peluh membanjir, kita berenang dalam kesunyian. Bibir kita gemetar, meliuk saling merengut tak ingin lepas. Sementara mata kita kunci untuk tetap terpejam. Agar? Nafas liar kita semakin memburu! Kupekerjakan kamu, supaya badanku tetap hangat. Kubiarkan kamu melenguh dan menikmati. Tapi tak kubiarkan kamu melayang. Kujaga tetap pada aturannya. Biar kudapati tanya di wajahmu. Aku senang bikin kamu bingung. Langit dimalam itu mendung, bekas hujan tadi sore masih menyelinap di jendela. Memberi kamar kita yang sepetak kedinginan yang luar biasa. Itulah mengapa aku rapatkan badanku padamu. Dan itulah alasan kamu menjadi lebih liar daripada biasa. Kita diatas, kita dibawah. Saling mencumbu, saling tersenyum. Lucu. Saat kulihat wajahmu yang penuh peluh tetap bersikukuh untuk menyerang. Kubiarkan kamu berbuat sesuka. Ini malam kita. Malam yang mungkin tak dapat kita temui lagi. Semakin cepat kau bergerak semakin keras lenguhanku. G...

Serendipity

Hari ini, aku selesai menonton suatu film yang sejak malam tak sempat aku selesaikan. Serendipity. Atau dalam bahasa Indonesia nya, Kebetulan. Filmnya menarik, bikin baper. Hahaha. Makna yang aku dapat dari film tersebut adalah, selalu ada cara. Even  kemungkinannya sangat kecil dan hampir tidak mungkin. Tapi, itulah takdir. Sebetulnya dalam pemikiranku, kebetulan itu tidak ada. Takdir adalah sesuatu yang mutlak yang telah dirancang Tuhan dengan indahnya. Ya... Sesederhana dan serumit itu.  Well,  lupakan film itu. Blog ini bukan tukang review  film ko hahaha. Merujuk pada kata kebetulan. Aku selalu merasa kecil kala merenung bagaimana Tuhan mempertemukan aku dengan setiap orang hadir di hidupku. Entah untuk tinggal atau hanya mampir. Kebetulan aku bertemu dengannya. Kebetulan aku berkenalan dengannya. Dan kebetulan kita saling menyakiti. Hahahaha. Itu salah. Itu bukan kebetulan deh. Aku pernah merasakan suatu kebetulan yang amat sangat menyenangkan. Dimana ...

Smile

Today, as I woke up (due to my fever, I sleep a lot ehe) I checked on my phone. Wondering if I get your message. But nothing. So I check on Instagram. And... that's it. Now I know the reason behind all of it. I'm not mad at you nor blame you. It's me. I know it. Finally, you could set yourself free. I smiled. I supposed to feel broken right? But I am not. I am happy for you. Seeing you smile like that with her kinda make me reminisce about us. Yes. We only existed in the past.  Jangan tanya kenapa aku tak mengirimimu pesan, aku cukup sadar diri untuk tidak merusak kebahagiaan mu. Tulisan ini bahkan aku tulis dengan perasaan yang bersalah pada special lady  mu. Sampaikan maafku padanya jika suatu saat nanti kamu membacanya. Rindu? benar, aku rindu. Kamu pun cukup sering kan aku ganggu dengan pesan marahku karena kamu tak pernah mengabariku? Sekarang aku punya alasan mengapa aku tak boleh menghubungi mu lagi. Tolong. Buat aku untuk tidak menghubungimu, apapun yang terjad...