Aku menekuni kamu selama hidup, sekali aku tak mengenalmu. Menjanji abdi pada segalamu, aku gadaikan waktuku menggapaimu. Mendamba, memanggil, mencari, menemukan, kamu tak berubah... Atau mungkin belum. Semoga tidak. Inginku kamu tetap begitu.
Mungkin, Tuhanku bosan mendengarku meminta kamu. Tak mengapa, Tuhanku mengerti. Kamu tak keberatan bukan? Aku takkan memintamu jadi milikku, tak mampu. Berbicara denganmu saja sudah lebih dari cukup bagiku untuk mencintamu. Maafkan aku, aku memang pengecut. Tapi ketahuilah, aku hanya tak ingin membebani hidupmu. Terkecuali kamu juga memiliki perasaan padaku, boleh lah aku mulai menggentayangi pikiranmu.
Segala tentangmu, banyak yang abu. Aku tak banyak tahu apa-apa yang menjadi prinsipmu. Satu yang aku tahu, kamu baik. Tolonglah berkaca, kamu itu sangat baik. Beruntung sekali siapapun hati yang telah kamu jatuhkan pelukmu. Sungguh. Aku iri pada sesiapapun itu. Tapi aku akan selalu bahagia untukmu. Bukan syair lagu, tapi begitulah perasaanku untukmu. Boleh jadi kamu mungkin sebenarnya tahu, pada siapa aku menggantungkan harap, dan kamu memilih untuk menutup pintu itu. Tak mengapa. Sungguh. Aku tetap bahagia untukmu.
Satu hal, mencintai atau dicintai itu sama menyenangkan nya. Jikapun ada yang menyakitkan, sama-sama menyakitkan. Hanya waktunya yang berbeda. Jika sekarang aku mendapatkan kesakitkan karena tak dapat balasanmu, aku tetap senang karena kamu masih mau mendengarkan, pun membalas ceritaku. Cintaku, sesederhana itu kok. Pernah kubilang bukan, perasaanku urusanku? Jadi, sekalipun kamu tak membalasnya. Aku masih memiliki kesempatan untuk menyimpannya.
Tersenyumlah. Bahagialah.
Denganku. Pun dengannya.
:)
(Judul diambil dari salah satu adegan film IT)
Komentar
Posting Komentar