Langsung ke konten utama

Salju di bulan Juni

Aku terus mengira bahwa aku akan selalu mencintanya. Menyesap wangi yang selalu hadir dikala ia berada dekat denganku. Aku terus mengira bahwa ia akan selalu ada untukku. Memeluk setiap lukaku dan mengaguminya selayak aku adalah karya seni.

Tapi, Aku salah sayangku. Senyatanya aku dijatuh cintakan pada sosok lain. Begitupun kamu yang dengan cepat meninggalkanku untuk kasihnya. Aku tak menyalahkan kamu, atau dia, atau aku sendiri. Tak ada yang patut disalahkan. Jadi, kita hanya saling berusaha melupakan dan berlari. Mengejar hati yang lain agar hati kita dapat utuh kembali. Kebiasaan yang selalu dilakukan oleh manusia.

Kita berlari, mencari, melemah, menguat, membesar, mengecil, melebar, menyempit, diatas, dibawah. Despite, Love is worth the pain, Right? Sekalipun kita harus berdarah untuk mendapatkan cinta, tetap kita mengejarnya. Meski tiada jaminan untuk balasan cinta.

Beberapa waktu lalu aku dihadapkan pada sebuah situasi. Mencintai seseorang yang tidak mencintai kita. Ah. Lebih tepatnya, Mencintai seseorang yang berpura-pura mencintai kita. Dia bilang dia mencintaiku, tapi pada kenyataannya bukan aku yang dia cintai. Aku hanya pelarian dari dia yang tak menyambut cintanya. Menyedihkan? Tidak. Aku sudah terbiasa dengan hal itu. Awalnya aku akan merasa aku dicintai. Tapi, lambat laun aku sadar bukan aku yang dicintainya.

Aku juga sempat menghadapi suatu keadaaan, dimana semua orang mendekatiku hanya untuk apa yang mereka lihat dari tampilan luarku. Bukan. Aku bukan sedang membanggakan tampangku. Aku sedang merasa patah hati, sepatah itu. Ternyata, hanya itu alasan orang menyukaiku. Padahal aku berharap ada yang menyayangiku untuk semua sifat kekanakanku, atau untuk semua luka yang ada dibalik senyumku. Bukan tatapan kasihan ketika mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi ketika aku terbangun sendiri pada pukul tiga malam. Aku hanya bisa tersenyum ketika mereka mulai mundur saat tahu kalau aku akan mencari cara untuk melukai diriku sendiri saat aku kehilangan arah. Dan berterima kasih pada Tuhan bahwa aku tak perlu kerepotan untuk memiliki mereka. They don't deserve my best when they can't handle my worst, ever heard? Hal konyol itu yang selalu kupikirkan untuk membuat aku merasa diinginkan. Padahal, senyatanya... Aku kesepian. Aku butuh seseorang yang aku butuhkan, juga membutuhkan aku. Andai aku bisa berkata sejujurnya.

Aku ingin memeluk kamu disaat aku memang tak bisa memilikimu. Aku menginginkan kamu diaat kamu tak pernah membutuhkan ku. Aku ingin mengulas senyum disaat yang aku lakukan hanya menyakitimu. Aku ingin berlari darimu disaat aku memang menyayangimu. Aku ingin memilihmu disaat kamu sudah memilihnya.

Aku tetap mencintai kamu, disaat kamu sudah bahagia dengannya.

Dan kamu pun tahu bahwa cinta takkan pernah bisa dipaksakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bilamana

Pada suatu malam yang kudus, aku melepas penatku dipelukmu. Peluh membanjir, kita berenang dalam kesunyian. Bibir kita gemetar, meliuk saling merengut tak ingin lepas. Sementara mata kita kunci untuk tetap terpejam. Agar? Nafas liar kita semakin memburu! Kupekerjakan kamu, supaya badanku tetap hangat. Kubiarkan kamu melenguh dan menikmati. Tapi tak kubiarkan kamu melayang. Kujaga tetap pada aturannya. Biar kudapati tanya di wajahmu. Aku senang bikin kamu bingung. Langit dimalam itu mendung, bekas hujan tadi sore masih menyelinap di jendela. Memberi kamar kita yang sepetak kedinginan yang luar biasa. Itulah mengapa aku rapatkan badanku padamu. Dan itulah alasan kamu menjadi lebih liar daripada biasa. Kita diatas, kita dibawah. Saling mencumbu, saling tersenyum. Lucu. Saat kulihat wajahmu yang penuh peluh tetap bersikukuh untuk menyerang. Kubiarkan kamu berbuat sesuka. Ini malam kita. Malam yang mungkin tak dapat kita temui lagi. Semakin cepat kau bergerak semakin keras lenguhanku. G...

CodeName

Hur många gånger måste jag berätta för dig? Om det inte är med mitt kodnamn. Då är historien inte rätt. Jag låter dig veta det hela tiden. Det är därför jag använder mitt kodnamn, kanske förstår du det. Du vet historien bakom namnet. Du frågar mig vad skulle jag ha? Jag vill inte ha någonting. Det gör bara ont för att veta det faktum. Att jag inte visste vad du ville ha. Vad du vet. Som om du inte ville ha mig, men du fortsätter att dra mig. Jag vet att vi inte kunde vara tillsammans. Eftersom detta bara är ensidigt. Men vad vill du ha? Jag saknar dig. Jag gör verkligen. - SeRa

Pernikahan

Marriage. Aku kadang ngeri mendengar kata ini. Bagiku pernikahan bukanlah suatu tujuan. Karena, dalam pikiranku, pernikahan adalah sesuatu yang tidak sesakral itu. Kenapa? Mungkin karena aku ada didalam sesuatu yang mereka sebut perceraian. Didalam artiku, pernikahan yang se-kramat itu bisa hancur hanya karena pihak lain yang mungkin dirasa lebih menggoda. Jadi, untuk apa menikah jika kita tetap menganut pada prinsip "jodoh siapa yang tahu"? Sampai sekarang, aku masih tidak mengerti kenapa teman-teman ku bersikeras ingin menikah muda. Pasalnya, untuk menikah, buatku, bukan hanya perkara menghalalkan pacaran. Bukan hanya menghalalkan "ena-ena". Bukan hanya menghalalkan kontak fisik yang selama ini mereka damba. Lebih dari itu, sesiap apa kamu untuk mengurus orang lain yang katanya kamu sayangi? Salut, pada mereka yang memutuskan untuk menikah muda. Berani sekali. Di usia yang bisa dibilang belum matang berpikir dan pengalaman berkomunikasi yang pastinya sedikit leb...