Tuk... Tuk.. Tuk... Kembali kulihat jam yang betah menempel di dinding. Waktu semakin larut, begitupula aku, yang semakin larut meluruh padamu. Semakin kukencangkan genggamanku pada jemarimu, takut-takut terlepas. Asap yang kau kepulkan dari mulutmu menyerbuku, yang serta merta kamu kibas ke sudut lain. Dengan jemarimu, kamu cubit pipiku sebelah, yang kanan. Lalu tersenyum. Lalu aku jatuh. Ya. Jatuh semakin jatuh pada pelukmu.
Selama berbulan ini, sengaja kuhabiskan waktu denganmu banyak-banyak. Tak peduli jika aku harus rebutan kursi di Damri, jika itu bisa membuatku melena disisimu. Tak peduli jika harus kutahan kantukku, jika itu bisa menemanimu sedetik lebih lama. Tak peduli jika harus ku abaikan pulangku, jika itu bisa menabung rinduku. Iya. Kamu. Yang akhir-akhir ini buat pikirku tak lepas dari sosokmu.
Segala hal kecil yang kamu perbuat. Entah minuman kesukaanku yang selalu sengaja kau beli dari minimarket. Atau step motor yang segera kamu turunkan sebelum kita melintasi rayanya jalanan. Atau helm yang selalu balap-balapan kamu pakaikan, sampai mamang parkir komentar kamu romantis. Lalu kamu bertanya, apakah kamu memang romantis? Dan kujawab belum. Biar kamu makin romantis. Hehehe.
Tuk... Tuk... Tuk...
Kulihat kembali jam yang asyik bercengkrama dengan cicak. Hiy. Aku ga suka cicak, dia pernah dengan cabulnya masuk ke bajuku. Membuatku menggelinjang geli tak karuan dan enggan memakai baju kesayanganku lagi, takut-takut dia tandai lalu dia masuk suatu saat nanti. Lamunan ku segera kamu ganggu. Ih dasar pencemburu! Dengan cicak saja aku tak boleh nostalgia. Ya ya ya, kamu memang sudah memenangkan hatiku. Dan kamu sudah berhasil membuatku jadi milikmu. Kamu juga berhasil menarik semua anganku kedalammu, dan membaca seluruh sel didalam tubuhku. Dasar cenayang. Sudah cukup puas kamu memilikiku? Belum? Kamu masih ingin yang lain? Oh? Aku jadi malu. Suatu saat nanti ya, aku berjanji akan lahirkan cucu untuk ibu bapakmu. Buat ibu bapakku juga. Tapi itu nanti, kalo kamu sudah menikahiku. Hehehe.
Tuk... Tuk... Tuk...
Lagi-lagi kudapati diri menatap jam dinding yang sekarang kesepian karena hanya ada beberapa pasang nyamuk yang sedang memadu kasih. Hih dasar jomblo. Eh. Maaf ya jam. Tak bermaksud.
Kutatap wajahnya yang sedang tertidur. Tanganku masih digenggamnya. Temanmu tanya, kenapa lagi kau. Kujawab, galau mau berpisah. Dan mereka tertawa. Begitupula kamu yang tetiba terbangun dari alam bawah sadarmu dan menarikku kedalam pelukmu. Sambil mengusap punggungku dan mengacak rambutku.
Tuk... Tuk... Tuk...
Lalu kamu melepasku pulang. Ah bukan pulang. Ku revisi. Lalu kamu melepasku bertualang. Karena pulangku, adalah kamu. Sejauh apapun jarakku dan kamu, hati kita telah padu, harapku. Janji kita, adalah hutang seumur hidup kita. Jangan sampai kamu tidak bisa membayarnya. Kupastikan hutangku kan lunas, saat nanti, kamu datang ke rumahku dan bawakan aku mahar serta merta keluarga besarmu. Aku tunggu.
Tuk... Tuk... Tuk...
Kulihat jam di gawaiku. Sial. Aku cuma tahan 3 jam ga kangen kamu :(
Komentar
Posting Komentar