Pernahkah kamu merasa, bahwa kamu tak sendiri, tapi selalu merasa kesepian?
Kesepian itu, temanku sejak dahulu. Sekalipun ada beberapa yang mengaku menjadi temanku, aki tak pernah benar-benar merasa ditemani. Karena pada dasarnya, kesepian bukanlah berarti kami sendiri. Namun jika harus memilih, aku lebih memilih sendiri dan sepi, daripada berteman namun tetap kesepian. Hehehe.
Sedari kecil, aku selalu diajarkan untuk tak menunjukkan emosiku. Semarah apapun aku tak boleh mengekspresikannya. Sesedih apapun aku tak boleh menangis. Ibuku akan selalu melarangnya. Dan aku selalu mencoba menahannya. Akhirnya, aku selalu tumbang saat malam menjelang. Kala sunyi, tetes air selalu meleleh disudur mataku. Membasahi pipiku. Saat-saat seperti itu, aku harus menahan suaraku agar tak didengar siapapun, terlebih Ibyku, aku takut dimarahi lagi. Itu beranjak sampai sekarang. Aku tak pernah benar-benar menunjukkan emosiku pada siapapun. Aku menjadi seseorang yang sangat manipulatif. Ketika aku marah dan terluka, aku akan bersikap biasa saja, namun menyiksa lawan bicaraku dengan gerak tubuhku, membuat mereka merasa amat sangat bersalah dan meminta maaf padaku. Aku seperti monster. Aku terkadang takut dengan diriku sendiri.
Jadi kukatakan ini padamu, jangan biarkan seseorang menekan perasaannya. Siapapun itu yang kamu temui, biarkan dia mengeluarkan apa yang dia rasa. Berhentilah membuat monster disetiap dada manusia manapun yang kamu temui. Jika kamu tak mampu memberinya saran. Cukup dengarkan saja. Dan hibur ia. Katakan padanya bahwa ia berharga. Katakan padanya bahwa kamu sangat menyayanginya. Berbaik hatilah sekalipun kamu disakiti.
Jangan biarkan ada monster monster lain sepertiku.
Komentar
Posting Komentar