Langsung ke konten utama

Monster

Pernahkah kamu merasa, bahwa kamu tak sendiri, tapi selalu merasa kesepian?

Kesepian itu, temanku sejak dahulu. Sekalipun ada beberapa yang mengaku menjadi temanku, aki tak pernah benar-benar merasa ditemani. Karena pada dasarnya, kesepian bukanlah berarti kami sendiri. Namun jika harus memilih, aku lebih memilih sendiri dan sepi, daripada berteman namun tetap kesepian. Hehehe.

Sedari kecil, aku selalu diajarkan untuk tak menunjukkan emosiku. Semarah apapun aku tak boleh mengekspresikannya. Sesedih apapun aku tak boleh menangis. Ibuku akan selalu melarangnya. Dan aku selalu mencoba menahannya. Akhirnya, aku selalu tumbang saat malam menjelang. Kala sunyi, tetes air selalu meleleh disudur mataku. Membasahi pipiku. Saat-saat seperti itu, aku harus menahan suaraku agar tak didengar siapapun, terlebih Ibyku, aku takut dimarahi lagi. Itu beranjak sampai sekarang. Aku tak pernah benar-benar menunjukkan emosiku pada siapapun. Aku menjadi seseorang yang sangat manipulatif. Ketika aku marah dan terluka, aku akan bersikap biasa saja, namun menyiksa lawan bicaraku dengan gerak tubuhku, membuat mereka merasa amat sangat bersalah dan meminta maaf padaku. Aku seperti monster. Aku terkadang takut dengan diriku sendiri.

Jadi kukatakan ini padamu, jangan biarkan seseorang menekan perasaannya. Siapapun itu yang kamu temui, biarkan dia mengeluarkan apa yang dia rasa. Berhentilah membuat monster disetiap dada manusia manapun yang kamu temui. Jika kamu tak mampu memberinya saran. Cukup dengarkan saja. Dan hibur ia. Katakan padanya bahwa ia berharga. Katakan padanya bahwa kamu sangat menyayanginya. Berbaik hatilah sekalipun kamu disakiti.

Jangan biarkan ada monster monster lain sepertiku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bilamana

Pada suatu malam yang kudus, aku melepas penatku dipelukmu. Peluh membanjir, kita berenang dalam kesunyian. Bibir kita gemetar, meliuk saling merengut tak ingin lepas. Sementara mata kita kunci untuk tetap terpejam. Agar? Nafas liar kita semakin memburu! Kupekerjakan kamu, supaya badanku tetap hangat. Kubiarkan kamu melenguh dan menikmati. Tapi tak kubiarkan kamu melayang. Kujaga tetap pada aturannya. Biar kudapati tanya di wajahmu. Aku senang bikin kamu bingung. Langit dimalam itu mendung, bekas hujan tadi sore masih menyelinap di jendela. Memberi kamar kita yang sepetak kedinginan yang luar biasa. Itulah mengapa aku rapatkan badanku padamu. Dan itulah alasan kamu menjadi lebih liar daripada biasa. Kita diatas, kita dibawah. Saling mencumbu, saling tersenyum. Lucu. Saat kulihat wajahmu yang penuh peluh tetap bersikukuh untuk menyerang. Kubiarkan kamu berbuat sesuka. Ini malam kita. Malam yang mungkin tak dapat kita temui lagi. Semakin cepat kau bergerak semakin keras lenguhanku. G...

Serendipity

Hari ini, aku selesai menonton suatu film yang sejak malam tak sempat aku selesaikan. Serendipity. Atau dalam bahasa Indonesia nya, Kebetulan. Filmnya menarik, bikin baper. Hahaha. Makna yang aku dapat dari film tersebut adalah, selalu ada cara. Even  kemungkinannya sangat kecil dan hampir tidak mungkin. Tapi, itulah takdir. Sebetulnya dalam pemikiranku, kebetulan itu tidak ada. Takdir adalah sesuatu yang mutlak yang telah dirancang Tuhan dengan indahnya. Ya... Sesederhana dan serumit itu.  Well,  lupakan film itu. Blog ini bukan tukang review  film ko hahaha. Merujuk pada kata kebetulan. Aku selalu merasa kecil kala merenung bagaimana Tuhan mempertemukan aku dengan setiap orang hadir di hidupku. Entah untuk tinggal atau hanya mampir. Kebetulan aku bertemu dengannya. Kebetulan aku berkenalan dengannya. Dan kebetulan kita saling menyakiti. Hahahaha. Itu salah. Itu bukan kebetulan deh. Aku pernah merasakan suatu kebetulan yang amat sangat menyenangkan. Dimana ...

Smile

Today, as I woke up (due to my fever, I sleep a lot ehe) I checked on my phone. Wondering if I get your message. But nothing. So I check on Instagram. And... that's it. Now I know the reason behind all of it. I'm not mad at you nor blame you. It's me. I know it. Finally, you could set yourself free. I smiled. I supposed to feel broken right? But I am not. I am happy for you. Seeing you smile like that with her kinda make me reminisce about us. Yes. We only existed in the past.  Jangan tanya kenapa aku tak mengirimimu pesan, aku cukup sadar diri untuk tidak merusak kebahagiaan mu. Tulisan ini bahkan aku tulis dengan perasaan yang bersalah pada special lady  mu. Sampaikan maafku padanya jika suatu saat nanti kamu membacanya. Rindu? benar, aku rindu. Kamu pun cukup sering kan aku ganggu dengan pesan marahku karena kamu tak pernah mengabariku? Sekarang aku punya alasan mengapa aku tak boleh menghubungi mu lagi. Tolong. Buat aku untuk tidak menghubungimu, apapun yang terjad...