2022, sudah sekian lama semenjak terakhir kali aku bercerita disini. Dunia sudah berubah. Aku sudah berubah. Benarkah? Kadang aku bertanya, mengapa semua sekarang terasa berbeda. Aku kah yang berubah, atau dunia kah yang tak sama. Atau semua sama saja sebenarnya hanya aku yang menjadi terlalu perasa? Entahlah, biarkan semua berjalan semestinya.
2022
Banyak sekali yang terjadi, pahit maupun manis ataupun asam semua kutelan sendiri. Tiada tempat berbagi maupun bercerita. Aku memang manusia gagal sosial. Aku terlalu banyak merepotkan kolegaku dengan masalahku. Tandanya, aku adalah seorang manusia yang gagal. Menyedihkan.
Blog ini bangkit dari mati suri, tapi akan kembali mati. Hanya sekedar menyapa tuk terakhir kalinya kepada pembaca setia (yang sudah tak setia lagi). Kita ikhlaskan blog ini untuk terbengkalai, sehingga menjadi relik (dih sok penting). Hahaha.
Aku masih terjebak, tak tahu cara keluar dan tak tahu cara terlepas. Masih dalam benang kusut sama yang semakin mengikat dan semakin menyesakkan. Kukira semua semudah itu, melepas dan meninggalkan. Nyatanya, saat kau sadar kau tak punya sesiapapun untuk pulang, kau akan kembali mengikatkan benang itu kuat-kuat karena kau takut sendiri. Kau tak mau sendiri. Kau tak ingin sendiri. Berjuta kali berusaha melepas, pada akhirnya kau sadar, kau tak mungkin bertahan sendirian dengan semua kondisimu. Kau sadar, kau lemah dan tak berguna dan tak ada yang menyukaimu dan tak ada yang akan memahami kondisimu dan kau hanya akan diam dipojokkan menunggui ajalmu menjemput.
Sepanjang hidupku aku selalu menawarkan diri untuk menjadi berguna. Agar aku merasa diingini, dicintai, dikasihi, diperhatikan. Sepanjang hidupku aku mencari validasi dari orang-orang yang aku sayangi, tak peduli bahwa itu akan menghancurkanku suatu saat nanti. Aku akan selalu mengejar dan terus mengejar afeksi dari orang-orang terdekat, atau bahkan dari orang yang tak kukenal. Hanya agar aku bisa merasa lebih bermakna walaupun sedikit. Menyedihkan. Memang.
Pada akhirnya aku menyakiti diriku sendiri, dan menghancurkan afeksi yang kubangun dengan orang-orang itu karena aku berusaha untuk lebih berguna. Mendorong diriku keluar dari jalur yang mereka bilang semestinya. Aku adalah produk gagal yang dengan sadar untuk kesekian kalinya merusak diriku jauh jauh lagi. Aku tak pernah cukup untuk siapapun. Tak pernah bisa memenuhi ekspektasi mereka barang sedikitpun, karena aku memang hanyalah kegagalan.
Setelah kesekian juta kalinya, aku selalu mengeluh disini. Karena aku tak boleh berkata sedikitpun tentang apapun yang terjadi. Entah indah entah buruk, aku harus menerima semuanya sendiri seperti semestinya. Dan begitulah aku merusak diriku dari luar dan dari dalam. Meleburkan semua yang ada di diriku menjadi apapun yang mereka mau, dan tetap ditinggalkan. Bodoh.
Ini benar-benar tulisan terakhirku. Aku lelah melebur diriku menjadi apa yang mereka mau. Selalu. Lelah menodai tulisan-tulisanku dengan amarah yang meluap tak tersalurkan. Aku lelah terus menerus mengisi hati dan pikiranku dengan kebencian yang aku pendam. Aku lelah mencekoki diriku dengan kemauan-kemauan mereka yang terus menekan eksistensiku. Sekarang, biarlah aku melebur tuk terakhir kalinya dan menjadi apa yang mereka mau. Entah untuk hidup atau mati, yang jelas, eksistensiku sudah hilang dari semenjak lalu. Aku tak bisa menemukan dirinya kembali. Bahkan diriku sendiri sangat malu dan meninggalkan aku. Sendiri. Kembali, menyedihkan.
Selamat tinggal, semoga kamu selalu bahagia selalu. Semoga, dunia selalu berbaik hati padamu.
Tuhan memberkati.
Komentar
Posting Komentar