Aku, Hujan, dan Dia.
Malam ini, malam lainnya yang kuhabiskan sendirian di kostanku tercinta. Aku memang makhluk anti sosial ya? haha. Hujan mengguyur tanah Jatinangor sudah dari hampir 2 jam yang lalu. Sepi, aku hanya diam di depan PC ku sembari mendengarkan lagu secara acak. Suara powerful nya Katy Perry pun mengalun. Wide Awake. Seketika itu aku terdiam dan secara sengaja memencet tombol reply di ujung layar gawaiku. Aku termangu di depan layar komputerku sambil sesekali ikut bernyanyi sama teh Katy. Tidak ada perasaan ingin menangis namun malamku ini seketika sendu dengan suara rintik hujan. Jadi aku memutuskan untuk menulis sesuatu di laman pribadiku ini.
Sembari menulis tulisan ini, aku meraih salah satu buku novel yang berjejer rapi di mejaku (sombong amat mejanya rapi, ketauan jarang dipake belajar ehehehe), dan tetiba sesuatu jatuh dari sala satu halaman di novel Sesuatu Yang Tertunda nya kak Sky Nakama. Lalu aku coba meraihnya, dan fyuuuh itu adalah... secarik kertas foto. Terlihat aku dan seseorang dari masa laluku berpose sambil mengenakan jersey-nya Manchester United. Lalu aku tersenyum. Sialnya... setelah ku lepas tombol reply nya teh Katy, malah lagu nya yang lain menyusul dan memaksa aku mendengarnya. Ya... sekarang gilirannya The One That Got Away-nya Katy Perry (lagi) yang membuatku tersenyum masam. Aku tatap foto itu lekat, lalu memutuskan untuk menyimpannya di tumpukkan koran. Berharap besok pagi fotonya menghilang hehe, tapi aku tau itu gakkan kejadian.
Dia... seseorang yang telah mengisi hatiku lebih dari satu tahun lamanya. Menemaniku dan semua sifat jelekku. Ah... that good ol' times. Bukan perasaan galau yang menghampiriku, aku hanya bahagia telah melepasnya agar dia bisa lebih menemukan kebahagiaan selain aku. Hanya saja, mungkin malam ini aku sedikit rindu karena kami sudah lama tidak berjumpa maupun berhubungan di media sosial. Seakan kami adalah dua orang makhluk hidup yang tak saling mengenal padahal dulu bersusah payah saling membahagiakan. Hehe. Kuharap dia lebih berbahagia tanpa kehadiranku. Aku teringat terakhir kalinya kami masih berhubungan lewat media sosial LINE. Itupun tidak berjalan dengan baik karena dia tiba-tiba menumpahkan semua perasaan gusar dan marah juga kecewanya padaku tanpa sebab yang pasti. Kamu masih sama seperti dulu, ingin dimengerti tanpa pernah berusaha menjelaskan perasaaanmu pada orang lain. Dan sejak saat itu dia pun memutuskan untuk mem-block aksesku pada akun LINE nya. Tak mengapa. Hal seperti ini bukan pertama kalinya untukku. Dia sudah melakukan hal ini lebih dari 3 kali seumur hidupku. Dan aku hanya pasrah dengan kemauannya. Ups, jadi curhat hehe.
Jadi begitulah malam ku tertanggal 27 Februari 2017. Semoga kamu yang ada di tulisan ini membaca entri ini dan memahami bahwa ada beberapa hal yang memang harus dijelaskan agar orang lebih bisa memahamimu.
Sekian.
Senin, 27 Februari 2017.
Jatinangor basah, bukan aku yang menangis tapi.
Komentar
Posting Komentar