Aku... selalu berakhir dengan perasaan kecewa. Karena tak didengar. Karena diabaikan. Tapi pada akhirnya aku justru hanya melukai diriku sendiri. Menyimpan luka dalam harapanku sendiri. Terkadang ingin kutinggalkan saja semua. Kembali kepada kesendirianku. Dan tak ingin ku buka pintu hatiku untuk siapapun agar tak terluka kembali. Namun... meski lunglai aku tetap menggenggamnya. Sakit. Iya. Kecewa. Tentu. Lalu aku akan dengan bodoh memikirkan semua kejelekan ku, keburukan ku. Yang ujungnya... aku menahan tangisku sendiri. Kadang ingin ku teriakan. Pergi saja. Cari siapapun yang mampu memperlakukanmu lebih manusiawi daripada aku. Namun aku takut kehilangan. Aku takut sendiri lagi. Takut tenggelam dalam gelap dunia yang kubuat sendiri.
Pada kamu... maafkan jika aku hanya mampu menemani mu sampai sini. Bukan karena ku tak cinta lagi. Bukan karena ku tak sayang lagi. Tapi aku butuh berevolusi menjadi lebih baik lagi. Maafkan aku jika harus meninggalkan mu... membiarkan mu sendiri. Aku tak tahu jalan mana lagi yang harus kupertahankan untuk bisa bersamamu. Aku takkan mampu memenuhi impianmu. Maafkan aku mengecewakanmu. Pergilah. Tidurlah. Kembali ke dalam mimpimu. Ya.. kamu... yang membuat cerita ini. Jadilah yang dia inginkan. Jadilah yang dia mau. Karena itu tugasmu. Mengertinya. Bukan mengerti dirimu. Karena aku menyayanginya... lebih dari pada aku menyayangimu... diriku sendiri.
Dengan sayang
-pembuat cerita-
Komentar
Posting Komentar