Damn... Malam ini dingin... Tapi aku justru sengaja diam di balkon kamar ku. Membiarkan angin yang terlalu sejuk ini menerpa setiap inci tubuhku. Air mata tetiba mengalir, tanpa permisi. Dan ada yang perih di sekitar dadaku, hati kah itu?
Lalu kupaksakan menengadah, menyaksikan hamparan karpet biru tua di hadapanku... Gelap... Biru nya gelap. Hanya ada beberapa bintang malam ini, jaraknya pun berjauhan. Gabisa deketan aja gitu? Air mataku tetap mengalir, diiringi Mimpi nya kak Isyana Sarasvati yang mengalun sendu.
Malam ini... Hatiku berteriak. Mencaci. Menari. Mengutuk. Bersulang. Mendendam. Berbahagia. Berulang-ulang hingga akhir yang tak ku tahui.
Dulu, aku ingin sekali menjadi bintang. Supaya selalu dapat menemani mu. Supaya selalu dapat menghiasi malam mu. Tanpa ku sadari, menjadi bintang berarti aku takkan tergapai oleh mu, kan? Tanpa ku sadari, menjadi bintang berarti aku takkan bisa mendekati mu, kan?
Dulu, aku akan bersinar sekuat yanng ku bisa untukmu. Agar kamu selalu tahu bahwa aku ada disini untukmu. Dulu, aku akan bersorak kala matahari pamit pulang dan menyerahkan semua kuasanya pada malam karena aku tau aku akan bertemu denganmu.
Namun kini... Aku sadar... Aku takkan pernah bisa menggapai mu. Dan kau pun, bahagia dengan angin malam yang senantiasa menyentuh lembut wajahmu.
Ya... Tanpa sadar aku telah menjauhkan diriku, darimu yang selama ini mencuri perhatianku. Dan dengan sadar, aku kini menangisimu. Berharap dapat memutar waktu dan berusaha selalu ada untukmu. Tapi aku hanyalah bintang, yang berada jauh dari jangkauanmu.
Ternyata, sesuatu tak pernah selalu seindah kelihatannya, ya?
Komentar
Posting Komentar