Ah... Nostalgia ini tak membunuhku. Justru menggelitik, kala ingat tahun yang telah lalu. Saat aku menggenggam hatinya.
Angin, aku ceritakan sebuah kisah paling rahasia. Ya. Dia adalah seorang lelaki, dengan rambut gondrong. Mirip sarang tawon. Perawakannya kurus, tinggi dan berkaca mata. Hidungnya bangir asal kau tahu saja, dan itu sering membuatku kesal karena dia akan menyombongkannya padaku. Cih. Tapi dia baik, manis, dan misterius.
Kebanyakan orang selalu salah menilainya, atau memang langkah yang ia tempuh salah? Aku tak tahu. Yang ku tahu dia pecinta yang setia. Mungkin. Aku tak tahu. Yang ku tahu lagi dia pecinta hujan, makhluk-makhluk yang menemukan ketenangan dalam rintihan tangis dewa langit.
Lain kali kalau kau punya waktu, hubungi dia! Kau akan tertawa mendengar logat bicaranya. Renyah tawanya pun tak pernah hilang dalam percakapannya. Tapi seberapa lama pun aku mencoba memahaminya, aku tak pernah bisa. Apa karena aku bukan air hujan yang turun membasahi bumi sehingga aku tak mampu menenangkannya?
...
Mungkin, apa yang kuperbuat dulu bukanlah sesuatu yang baik. Terlebih aku pernah menyakiti hatinya, meninggalkan luka yang begitu tertancap dalam jiwanya. Maafkan aku. Dan sialnya, dia tetap berbicara dengan ku seakan tak pernah ada peristiwa hatinya terluka olehku. Aku jadi malu, dan canggung tiap kali berbicara dengannya. Takut-takut kehadiranku mengingatkannya pada luka. Sungguh, maafkan aku.
...
Seseorang pernah berkata padaku, ketika dia yang telah kau lukai tetap berbicara padamu layaknya seorang teman maka dia benar-benar mencintaimu. Ya... Mungkin dia benar mencintaiku, tapi aku merasa aku tak pantas mendapatkannya. He deserve better than me. Aku tak ingin torehkan jiwanya luka lebih dari ini. Tapi aku sangat berterima kasih padanya, karena telah mencintaiku sedemikian rupa. Maaf jika aku tak mampu menghubungimu, bukan tak mau, tapi aku malu dan takut. Aku malu karena aku telah melukai seseorang yang begitu tulus dan aku takut menorehkan kembali luka di hatinya. Maaf karena aku tlah menjadi pecundang selama ini, maaf aku tak memiliki keberanian untuk mengucapkan ini dari lama.
...
Pada kamu, lelaki gondrong (yang sekarang tak pernah gondrong lagi sejak aku omeli)... Berbahagialah, temukan wanita yang lebih pantas menyandang gelar Ratu di hatimu. Tersenyumlah, cari wanita yang mampu menenangkan jiwamu seperti hujan. Carilah seseorang yang bisa menemani mu menikmati hujan dengan secangkir cokelat panas dan buku yang menarik. Dasar kutu buku. Doaku selalu menyertaimu, Ryuuza-kun.
...
Dan percayalah bahwa aku akan selalu bahagia bisa berbincang denganmu, sekalipun hanya sekejap. Aku juga menyayangimu.
...
Dan meskipun malam ini tak turun hujan, semoga kamu tetap menemukan ketenangan dalam sunyi nya malam. Bersuka cita lah.
...
-From your beauty little queen. Tehe.
Komentar
Posting Komentar