Seseorang melabeli ku sebagai Hujan. Mungkin karena aku selalu membawa perasaan melankolis pada seseorang, terlebih pada mereka yang telah kupatahkan hatinya. Atau mungkin juga karena kedatanganku banyaknya tidak disukai orang, ahahaha aku tak tahu. Terlalu banyak probabilitas yang ada di dunia ini.
Hujan.
Hujan, selalu memberikanku perasaan takjub. Selalu ingin membuatku menari di bawahnya dengan air mata yang takkan siapapun sadari, meskipun akhirnya aku akan demam haha. Hujan bukan sesuatu yang aku benci. Tapi bukan juga sesuatu yang aku sukai. Terkadang aku selalu merasa hujan itu basah, becek, kotor, dingin, lama, dan bikin jemuran ga kering-kering. Tapi terkadang aku selalu mendapati diriku menatap hujan lebih dari sejam, hanya untuk menghirup aroma tanah yang aneh tapi menyenangkan, hanya untuk mengingat momen yang sudah lalu, hanya untuk meneteskan air mata yang selama beberapa pekan aku simpan sendiri. Hujan memang rumit. Atau aku yang rumit? Atau memang aku rumit seperti hujan? Hahaha
Hujan.
Benarkah aku seperti hujan? Kurasa tidak. Aku lebih merasa mirip dengan badai. Penghancur. Sudah banyak kan hati yang aku remukkan? Termasuk mungkin kamu, yang setia membaca posting-an ga jelas ku ini. Aku lebih merasa badai lebih cocok dengan ku. Aku yang tak pernah merasa cocok berada di manapun, aku yang tak pernah diharapkan kehadirannya. Dan aku yang selamanya hanya bisa menghancurkan.
Hurricane...
Pernah mendengar lagu nya Halsey? Aku merasa lagu itu menyindirku haha,
"... I'm a Wanderess
I'm a One Night Stand
Don't belong to no city
Don't belong to no man
I'm the Violence in the pouring Rain
I'm a Hurricane..."
...and yes baby, I'm a Hurricane :)
Komentar
Posting Komentar