Langsung ke konten utama

Sebuket Krisan Putih

Aku... Aku ini apa? Ah sial! Kenapa aku tak pernah bisa bertemu denganmu? Jujur saja aku sangat ingin bertemu denganmu. Sial! Sial! Sial! Aaaaaargh!

Tepat tanggal 20 Oktober 2016, aku mendapat pesan Line dari seseorang yang memberi tahu aku mendapatkan sebuah bunga dari seseorang. Ya... Si Pluviophile yang memberikannya padaku. Dengan perasaan bingung, ga percaya, kaget, campur aduk sama perasaan seneng. For the first time ada acara flowers day aku dapat bunga. Sesaat setelah sampai kampus, aku mendapati bunga itu. Tiga bunga krisan putih yang ditata rapi dalam buket bunga beserta dua cokelat dan secarik kertas. Aku tersenyum membaca kertasnya. Aku memang manja. Tapi sungguh aku bahagia mendapatkan bunga putih itu. Putih adalah sesutu yang suci bagiku. Meskipun sepertinya aku lebih cocok dengan warna hitam.

Aku mengucapkan terima kasih padanya, tentu aku bingung apa yang harus aku katakan. Aku telah melukai hatinya dan aku tetap mendapatkan bunga darinya, pantaskah itu? Sungguh aku malu. Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin? Ah sial! Aku semakin tak karuan.

Hey... Mungkin aku belum bisa bersamamu. Atau aku memang tak pernah tercipta untukmu? Maaf... Maafkan aku yang selalu menyakiti hatimu. Aku ingin kamu bahagia, for I already fell in love with you in the beginning. Tapi sepertinya waktu dan keadaan tak pernah mendukung kita. Maafkan aku. Aku minta maaf. I'm so sorry. I Love You. And I didn't mean to say what I said. Berbahagialah... Tolong jangan bosan dengan hujan itu... Tunggu aku yang menggantikannya. Terima kasih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bilamana

Pada suatu malam yang kudus, aku melepas penatku dipelukmu. Peluh membanjir, kita berenang dalam kesunyian. Bibir kita gemetar, meliuk saling merengut tak ingin lepas. Sementara mata kita kunci untuk tetap terpejam. Agar? Nafas liar kita semakin memburu! Kupekerjakan kamu, supaya badanku tetap hangat. Kubiarkan kamu melenguh dan menikmati. Tapi tak kubiarkan kamu melayang. Kujaga tetap pada aturannya. Biar kudapati tanya di wajahmu. Aku senang bikin kamu bingung. Langit dimalam itu mendung, bekas hujan tadi sore masih menyelinap di jendela. Memberi kamar kita yang sepetak kedinginan yang luar biasa. Itulah mengapa aku rapatkan badanku padamu. Dan itulah alasan kamu menjadi lebih liar daripada biasa. Kita diatas, kita dibawah. Saling mencumbu, saling tersenyum. Lucu. Saat kulihat wajahmu yang penuh peluh tetap bersikukuh untuk menyerang. Kubiarkan kamu berbuat sesuka. Ini malam kita. Malam yang mungkin tak dapat kita temui lagi. Semakin cepat kau bergerak semakin keras lenguhanku. G...

Serendipity

Hari ini, aku selesai menonton suatu film yang sejak malam tak sempat aku selesaikan. Serendipity. Atau dalam bahasa Indonesia nya, Kebetulan. Filmnya menarik, bikin baper. Hahaha. Makna yang aku dapat dari film tersebut adalah, selalu ada cara. Even  kemungkinannya sangat kecil dan hampir tidak mungkin. Tapi, itulah takdir. Sebetulnya dalam pemikiranku, kebetulan itu tidak ada. Takdir adalah sesuatu yang mutlak yang telah dirancang Tuhan dengan indahnya. Ya... Sesederhana dan serumit itu.  Well,  lupakan film itu. Blog ini bukan tukang review  film ko hahaha. Merujuk pada kata kebetulan. Aku selalu merasa kecil kala merenung bagaimana Tuhan mempertemukan aku dengan setiap orang hadir di hidupku. Entah untuk tinggal atau hanya mampir. Kebetulan aku bertemu dengannya. Kebetulan aku berkenalan dengannya. Dan kebetulan kita saling menyakiti. Hahahaha. Itu salah. Itu bukan kebetulan deh. Aku pernah merasakan suatu kebetulan yang amat sangat menyenangkan. Dimana ...

Smile

Today, as I woke up (due to my fever, I sleep a lot ehe) I checked on my phone. Wondering if I get your message. But nothing. So I check on Instagram. And... that's it. Now I know the reason behind all of it. I'm not mad at you nor blame you. It's me. I know it. Finally, you could set yourself free. I smiled. I supposed to feel broken right? But I am not. I am happy for you. Seeing you smile like that with her kinda make me reminisce about us. Yes. We only existed in the past.  Jangan tanya kenapa aku tak mengirimimu pesan, aku cukup sadar diri untuk tidak merusak kebahagiaan mu. Tulisan ini bahkan aku tulis dengan perasaan yang bersalah pada special lady  mu. Sampaikan maafku padanya jika suatu saat nanti kamu membacanya. Rindu? benar, aku rindu. Kamu pun cukup sering kan aku ganggu dengan pesan marahku karena kamu tak pernah mengabariku? Sekarang aku punya alasan mengapa aku tak boleh menghubungi mu lagi. Tolong. Buat aku untuk tidak menghubungimu, apapun yang terjad...