Beberapa bulan ini, aku merasa lelah. Hatiku lemah sekali rasanya. Apapun yang ku perbuat, selalu dan selalu saja salah. Bukan salah, tapi kurang. Terkadang aku merasa, hidup ini tidak adil. Tapi selalu dan selalu aku segera sadar dan memohon ampun pada Tuhan atas rasa tidak bersyukur ini. Namun kali ini, Tuhan... Boleh kah aku bercerita?
Aku lahir dari sebuah keluarga yang luar biasa. Aku memiliki Ibu yang luar biasa hebat. Kuyakinkan padamu, takkan ada wanita hebat seperti Ibuku. Yang memeluk dan merengkuh keempat anaknya dengan penuh kasih dan cinta. Yang rela mengorbankan waktu yang ia miliki demi keempat hati kecilnya. Dan aku sangat berterima kasih padamu Tuhan, malaikat milikku tak seperti yang lainnya. Ia terlalu sempurna untuk menjadi seorang manusia. Aku mencintainya.
Selang waktu, usianya semakin bertambah. Beliau tak lagi muda, pun perasaannya semakin rapuh. Dan aku sadar betul akan hal ini. Hanya saja... Bu... Aku mohon, kali ini dengarkan sekali saja ucapanku.
Ibu mendidikku menjadi seseorang yang mandiri. Aku harus mampu mengerjakan segala bentuk kerjaan dengan kemampuanku. Dan aku amat sangat berterima kasih, sampai sekarangpun aku selalu berusaha melakukan segalanya dengan semua kemampuanku. Tapi, bolehkah aku sedikit manja kali ini Bu? Aku merasa lelah dengan dunia ini. Lelah dengan semua kefanaan ini. Aku merasa muak. Muak sekali hingga rasanya air mataku telah kering dan hatiku hampa. Aku tak mampu merasa apapun lagi. Pengkhianatan, cinta, sahabat, dunia, kuliah, keluarga, kerja, uang, semuanya bercampur dalam kepalaku Bu. Aku ingin berteriak saja rasanya. Aku ingin pulang dan memelukmu. Tapi, tiap kali aku lihat wajah kusutmu aku urungkan niatku, aku memaksakan diriku untuk kembali memikul bebanku sendiri. Dan itu terjadi berulang kali. Hingga mau pecah rasanya kepalaku Bu!
Singkat cerita, adik kecilku sekarang sudah tumbuh dewasa. Dia akan segera masuk perguruan tinggi. Segala upaya aku lakukan untuk membantumu, bantuan finansial maupum tenaga aku kerahkan. Jika hasilnya memang tak memuaskan, kenapa kita harus bersedih hati Bu? Adik ku bukan lagi anak manja yang harus selalu kita urusi Bu, biarkan dia mandiri menentukkan segala masa depannya. Topik pembicaraan kita akhir-akhir ini tak pernah lepas dari masalah kuliah adik. Aku paham, Ibu takut dia tak kuliah. Tapi kami sebagai kakaknya juga sudah membantu sebisa kami, jikalau pada akhirnya hasilnya tak sesuai harapan kita... Biarlah Tuhan yang mengambil alih usaha dan doa kita. Dia lebih mengetahui apa-apa yang tidak kita ketahui Bu. Bukan bermaksud menggurui Bu. Aku hanya ingin meringankan beban pikiranmu yang tak lagi sesegar dulu. Kalau bisa, ingin ku ambil alih semua bebanmu sehingga kau mampu beristirahat dan menikmati hari tua mu Bu.
Hingga kemarin, aku menangis sesenggukan di jalanan dekat rumah. Ditemani angin malam yang menusuk tubuhku. Hatiku mencelos mendengar Ibu yang berbicara pada adik bahwa aku telah menjadi gadis yang tak berguna selama ini. Iya Bu, aku tahu aku memang banyak merepotkan. Tapi untuk kali ini saja, kenapa aku harus selalu salah di matamu? Bukannya semua kemauan Ibu selalu aku turuti? Dari mulai aku harus bersekolah dimana, hingga aku harus menikah dengan pria seperti apa. Apa lagi yang kurang Bu? Kenapa hidupku banyak tekanan? Belum lagi studiku selesai, rasanya aku sudah lelah sekali Bu. Ingin rasanya aku mengalungkan tali tambang yang tergantung di langit-langit rumah kita ke leherku, atau menyayatkan pisau daging milik Ayah ke urat nadi ku, atau meminum obat tidur satu botol penuh agar lelahku berkuang. Tapi selalu aku urungkan, karena aku selalu ingat aku belum mampu sedikitnya membalas jasamu yang telah menjadikan aku seperti ini.
Bu, bolehkah aku sekadar bersandar di pelukanmu dan memintamu mengelus kepalaku seraya berkata "kamu berhasil melewati ini semua gadis kecilku, sedikit lagi usahamu maka semua terbayar sudah" dan semua rasa ketidak adilan yang kurasa akhir-akhir ini akan menguap. Mengepul hilang dengan segala resah dan lelahku. Tapi kuurungkan, wajah rentamu sedang tertidur kelelahan.
Bu...
Aku menyayangimu.
Terima kasih karena telah menjadi Ibuku.
Cinta di dalam hidupku.
Komentar
Posting Komentar