Langsung ke konten utama

Tjinta

Beberapa bulan ini, aku merasa lelah. Hatiku lemah sekali rasanya. Apapun yang ku perbuat, selalu dan selalu saja salah. Bukan salah, tapi kurang. Terkadang aku merasa, hidup ini tidak adil. Tapi selalu dan selalu aku segera sadar dan memohon ampun pada Tuhan atas rasa tidak bersyukur ini. Namun kali ini, Tuhan... Boleh kah aku bercerita?

Aku lahir dari sebuah keluarga yang luar biasa. Aku memiliki Ibu yang luar biasa hebat. Kuyakinkan padamu, takkan ada wanita hebat seperti Ibuku. Yang memeluk dan merengkuh keempat anaknya dengan penuh kasih dan cinta. Yang rela mengorbankan waktu yang ia miliki demi keempat hati kecilnya. Dan aku sangat berterima kasih padamu Tuhan, malaikat milikku tak seperti yang lainnya. Ia terlalu sempurna untuk menjadi seorang manusia. Aku mencintainya.

Selang waktu, usianya semakin bertambah. Beliau tak lagi muda, pun perasaannya semakin rapuh. Dan aku sadar betul akan hal ini. Hanya saja... Bu... Aku mohon, kali ini dengarkan sekali saja ucapanku.

Ibu mendidikku menjadi seseorang yang mandiri. Aku harus mampu mengerjakan segala bentuk kerjaan dengan kemampuanku. Dan aku amat sangat berterima kasih, sampai sekarangpun aku selalu berusaha melakukan segalanya dengan semua kemampuanku. Tapi, bolehkah aku sedikit manja kali ini Bu? Aku merasa lelah dengan dunia ini. Lelah dengan semua kefanaan ini. Aku merasa muak. Muak sekali hingga rasanya air mataku telah kering dan hatiku hampa. Aku tak mampu merasa apapun lagi. Pengkhianatan, cinta, sahabat, dunia, kuliah, keluarga, kerja, uang, semuanya bercampur dalam kepalaku Bu. Aku ingin berteriak saja rasanya. Aku ingin pulang dan memelukmu. Tapi, tiap kali aku lihat wajah kusutmu aku urungkan niatku, aku memaksakan diriku untuk kembali memikul bebanku sendiri. Dan itu terjadi berulang kali. Hingga mau pecah rasanya kepalaku Bu!

Singkat cerita, adik kecilku sekarang sudah tumbuh dewasa. Dia akan segera masuk perguruan tinggi. Segala upaya aku lakukan untuk membantumu, bantuan finansial maupum tenaga aku kerahkan. Jika hasilnya memang tak memuaskan, kenapa kita harus bersedih hati Bu? Adik ku bukan lagi anak manja yang harus selalu kita urusi Bu, biarkan dia mandiri menentukkan segala masa depannya. Topik pembicaraan kita akhir-akhir ini tak pernah lepas dari masalah kuliah adik. Aku paham, Ibu takut dia tak kuliah. Tapi kami sebagai kakaknya juga sudah membantu sebisa kami, jikalau pada akhirnya hasilnya tak sesuai harapan kita... Biarlah Tuhan yang mengambil alih usaha dan doa kita. Dia lebih mengetahui apa-apa yang tidak kita ketahui Bu. Bukan bermaksud menggurui Bu. Aku hanya ingin meringankan beban pikiranmu yang tak lagi sesegar dulu. Kalau bisa, ingin ku ambil alih semua bebanmu sehingga kau mampu beristirahat dan menikmati hari tua mu Bu.

Hingga kemarin, aku menangis sesenggukan di jalanan dekat rumah. Ditemani angin malam yang menusuk tubuhku. Hatiku mencelos mendengar Ibu yang berbicara pada adik bahwa aku telah menjadi gadis yang tak berguna selama ini. Iya Bu, aku tahu aku memang banyak merepotkan. Tapi untuk kali ini saja, kenapa aku harus selalu salah di matamu? Bukannya semua kemauan Ibu selalu aku turuti? Dari mulai aku harus bersekolah dimana, hingga aku harus menikah dengan pria seperti apa. Apa lagi yang kurang Bu? Kenapa hidupku banyak tekanan? Belum lagi studiku selesai, rasanya aku sudah lelah sekali Bu. Ingin rasanya aku mengalungkan tali tambang yang tergantung di langit-langit rumah kita ke leherku, atau menyayatkan pisau daging milik Ayah ke urat nadi ku, atau meminum obat tidur satu botol penuh agar lelahku berkuang. Tapi selalu aku urungkan, karena aku selalu ingat aku belum mampu sedikitnya membalas jasamu yang telah menjadikan aku seperti ini.

Bu, bolehkah aku sekadar bersandar di pelukanmu dan memintamu mengelus kepalaku seraya berkata "kamu berhasil melewati ini semua gadis kecilku, sedikit lagi usahamu maka semua terbayar sudah" dan semua rasa ketidak adilan yang kurasa akhir-akhir ini akan menguap. Mengepul hilang dengan segala resah dan lelahku. Tapi kuurungkan, wajah rentamu sedang tertidur kelelahan.

Bu...

Aku menyayangimu.

Terima kasih karena telah menjadi Ibuku.

Cinta di dalam hidupku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bilamana

Pada suatu malam yang kudus, aku melepas penatku dipelukmu. Peluh membanjir, kita berenang dalam kesunyian. Bibir kita gemetar, meliuk saling merengut tak ingin lepas. Sementara mata kita kunci untuk tetap terpejam. Agar? Nafas liar kita semakin memburu! Kupekerjakan kamu, supaya badanku tetap hangat. Kubiarkan kamu melenguh dan menikmati. Tapi tak kubiarkan kamu melayang. Kujaga tetap pada aturannya. Biar kudapati tanya di wajahmu. Aku senang bikin kamu bingung. Langit dimalam itu mendung, bekas hujan tadi sore masih menyelinap di jendela. Memberi kamar kita yang sepetak kedinginan yang luar biasa. Itulah mengapa aku rapatkan badanku padamu. Dan itulah alasan kamu menjadi lebih liar daripada biasa. Kita diatas, kita dibawah. Saling mencumbu, saling tersenyum. Lucu. Saat kulihat wajahmu yang penuh peluh tetap bersikukuh untuk menyerang. Kubiarkan kamu berbuat sesuka. Ini malam kita. Malam yang mungkin tak dapat kita temui lagi. Semakin cepat kau bergerak semakin keras lenguhanku. G...

Serendipity

Hari ini, aku selesai menonton suatu film yang sejak malam tak sempat aku selesaikan. Serendipity. Atau dalam bahasa Indonesia nya, Kebetulan. Filmnya menarik, bikin baper. Hahaha. Makna yang aku dapat dari film tersebut adalah, selalu ada cara. Even  kemungkinannya sangat kecil dan hampir tidak mungkin. Tapi, itulah takdir. Sebetulnya dalam pemikiranku, kebetulan itu tidak ada. Takdir adalah sesuatu yang mutlak yang telah dirancang Tuhan dengan indahnya. Ya... Sesederhana dan serumit itu.  Well,  lupakan film itu. Blog ini bukan tukang review  film ko hahaha. Merujuk pada kata kebetulan. Aku selalu merasa kecil kala merenung bagaimana Tuhan mempertemukan aku dengan setiap orang hadir di hidupku. Entah untuk tinggal atau hanya mampir. Kebetulan aku bertemu dengannya. Kebetulan aku berkenalan dengannya. Dan kebetulan kita saling menyakiti. Hahahaha. Itu salah. Itu bukan kebetulan deh. Aku pernah merasakan suatu kebetulan yang amat sangat menyenangkan. Dimana ...

Smile

Today, as I woke up (due to my fever, I sleep a lot ehe) I checked on my phone. Wondering if I get your message. But nothing. So I check on Instagram. And... that's it. Now I know the reason behind all of it. I'm not mad at you nor blame you. It's me. I know it. Finally, you could set yourself free. I smiled. I supposed to feel broken right? But I am not. I am happy for you. Seeing you smile like that with her kinda make me reminisce about us. Yes. We only existed in the past.  Jangan tanya kenapa aku tak mengirimimu pesan, aku cukup sadar diri untuk tidak merusak kebahagiaan mu. Tulisan ini bahkan aku tulis dengan perasaan yang bersalah pada special lady  mu. Sampaikan maafku padanya jika suatu saat nanti kamu membacanya. Rindu? benar, aku rindu. Kamu pun cukup sering kan aku ganggu dengan pesan marahku karena kamu tak pernah mengabariku? Sekarang aku punya alasan mengapa aku tak boleh menghubungi mu lagi. Tolong. Buat aku untuk tidak menghubungimu, apapun yang terjad...