Langsung ke konten utama

Unspoken words

Tepat 5 Mei 2017, aku mendapatkan kabar dari temanku. Dia bilang, kamu sudah tak ada lagi di dunia ini. Aku gemetar, sedikit percaya tapi menolak untuk mempercayai semua. Kamu? Dari semua makhluk bumi yang ada di dunia ini, kamu telah pergi? Umur memang siapa yang tau kan ya, but... Still, it's hard to accept the fact you were no longer with us... With me to be precise. Here's a little secret I kept to myself, hopefully it lighter up my burden...

Aku memulai job training di salah satu kantor pelayanan pajak di kotaku. Memilih kesana agar aku bisa dekat dengan rumah, dan izin yang tidak susah karena dibantu kakak dan temannya. Penat, hubunganku dengan kekasih ku yang tidak berjalan baik. Gugup, aku datang ke tempat jobtre lebih awal. Dan yang menyambutku ternyata adalah orang yang akan duduk disampingku selama sebulan. Tapi itu bukan kamu, hehehe. Beberapa hari beradaptasi, aku mulai terbiasa. Orang-orang kantor ku ternyata sangat ramah dan baik sehingga aku sangat terbantu. Suasana di kantor sudah layaknya di rumah, mereka menganggapku seperti anak dan sodara sendiri. Bahkan aku sampai sempat akan dijodohkan dengan orang yang duduk di sebelah, untungnya dia udah mau nikah hahaja. Hingga, seminggu setelah kedatanganku, kamu berjalan masuk dari pintu yang berhadapan dengan ku. Mata kita bertemu, dan kamu tersenyum.

Pandangan pertama kita, hanya terjadi beberapa waktu. Lalu aku kembali pada kerjaanku dan kamu sibuk dengan urusanmu pada ketua seksi divisi pengolahan data dan informasi tempatku berada. Aku larut dalam kerjaanku sampai... Kamu datang dan 'mampir' ke mejaku, aku masih ingat dengan sangat jelas percakapan pertama kita...

Tris : eh, baru ya mbak?
T : iya pak *senyum canggung*
Tris : magang disini apa gimana?
T : iya pak lagi job training ada tugas dari kampus.
Tris : oh, kuliah dimana emang?
T : Unpad pak
Tris : wih, semester?
T : tujuh pak
Tris : wah, angkatan 2013 nih
T : hehehe *senyum canggung pake banget*
Tris : gausah panggil bapak ya, kita cuman beda setahun ko. Kamu kelahiran 1995 kan?

Belum sempat menjawab, seseorang masuk dan mengajakmu berbicara. Kamu hanya tersenyum dan melambai sebentar padaku. Aku kembali sibuk dengan kerjaan didepanku hingga eaktu istirahat pun datang. Anak SMK yang tengah magang berbarengan dengan ku di divisi PDI ini mengajakku makan bersama. Karena aku juga tak punya tujuan, akhirnya aku dan 3 teman kuliahku mengikuti anak-anak SMK tersebut ke sebuah ruangan. Yang ternyata adalah ruangan arsip. Ketika hendak makan, muncullah kamu dari seberang ruangan. Ruang arsip ini adalah ruang penghubung tempatmu bekerja dengan lorong keluar. Kamu melihatku, dan tersernyum. Aku dan semua yang sedang makan tersenyum padamu sambil menawari makan, kamu menjawab "ikutan dong" sambil berlalu ke mesjid di belakang kantor.

Makan siang selesai, aku yang kebetulan berhalangan shalat lalu memutuskan untuk diam sejenak karena temanku Feti sedang ingin tidur di ruangan yang sejuk itu. Lalu kamu kembali, dengan wajah sedikit basah karena air wudlu.

Tris : eh ko udahan?
Anak SMK : yaudah lah pak, kan udah kita makan.
Tris : eh padahal aku mau ikutan. Eh kamu *menunjukku* kita ketemu lagi ya
T : hehe iya pak *aku tertawa kikuk*
Tris : lain kali ikutan dong kalo makan bareng
T : boleh pak, bawa bekal jangan lupa ya kita piknik di sini *jawabku sekenanya sambil berusaha menghindari menatapmu aku berpura-pura sibuk dengan layar handphoneku*
Tris : yah saya gabisa masak
T : yah minta istrinya masakin pak
Tris : haha belum nikah, pacar aja gapunya
Anak SMK : *tertawa keras*
T : yaudah masakin Ibu deh pak
Tris : saya kan merantau disini, keluarga jauh di Jawa
T : yaudah beli nasi uduk pak
Tris : hahahaha kamu ya, pinter banget jawabnya. Yasudah, saya mau ke kantin dulu. Dan kamu jangan manggil pak ya. *selorohmu sambil pergi lagi*

Sepeninggalanmu, aku jadi bulan-bulanan temanku. Mereka menggodaku, menjodoh-jodohkan aku denganmu. Lalu aku hanya tertawa. Mood ku sedang tidak baik, mantan kekasihku membuat ulah lagi. Dia bilang gamau berpisah denganku, tapi selalu saja mengekangku. Aneh memang. Bahkan ketika chatnya telat kubalas sepersekian detik, dia akan membanjiri gawai ku sengan rentetan pesan penanda perang. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke ruanganku saja. Dan mengerjakan separuh kerjaanku yang tertunda. Sambil iseng, aku menyimpan id line ku di sticky notes dan menempel nya di komputer yang kugunakan agar jika ada orang kantor yang membutuhkanku aku tak perlu susah mencariku.

Hari-hariku semenjak mengenalmu jadi sedikit berbeda. Ya, aku jadi sering digoda orang kantor ku karena kamu yang jadi sering berkunjung ke ruanganku dan hanya menyapaku sambil senyum. Ketika berpapasan denganmu, terkadang kamu bercanda mengajakku sesekali jalan-jalan denganmu. Tahukah kamu, sekalipun kamu bercanda ada setengah bahkan tiga perempat bagian hatiku ingin ajakanmu itu tidak bercanda?

Hingga, ketika waktu jobtreku tinggal seminggu, aku sakit. Untungnya, kerjaan di kantor sudah selesai semua. Hingga aku memberi kabar pada ketua seksi divisi ku bahwa aku tidak bisa masuk kantor. Aku pun berencana tidur seharian, sampai ketika sore itu aku melihat namamu muncul di notifikasi LINE ku.

Trisna Kurniawan has added you by your ID.

Antara sadar dan tidak aku melihat pesanmu.

One missed call from Trisna Kurniawan.

Aku melongo, darimana kamu tahu id line ku? Akhirnya aku kirimi kamu pesan, kamu langsung membalas. Kita bertukar pesan singkat hari itu. Dan kamu memaksaku untuk masuk kantor setelah tau masa jobtre ku hanya kurang dari seminggu. Dan dalam sisa waktu itu kamu sering sekali menggangguku. Tetiba duduk dikursi ku saat pagi aku datang ke kantor. Mengajakku ke berbagai tempat dan memintaku menjadi tour guide bagimu. Sampai akhirnya hari terakhirku jobtre selesai, aku berpamitan dengan semua karyawab kantor dan mereka malah memintaku kerja disana yang berakhir dengan aku aamiin-i. Ketika aku hendak pulang, kamu muncul dan langsung berlari ke arahku. Memintaku membalas setiap pesanmu jika aku sudah tak ke kantor nanti. Aku hanya tertawa. Lalu kamu memintaku tak memanggilnya bapak seperti yang selalu kulakukan. Akhirnya, aku memanggilmu mas. Mas Trisna. Kamu terlihat senang dengan ucapanku, dan memintaku berjanji untuk mengantarmu membeli gawai baru.

Waktu berjalan, beberapa minggu berlalu semenjak aku terakhir mengunjungi kantor pelayanan pajak di Garut tersebut. Aku dan Feti temanku berencana untuk meminta tanda tangan dan membuat surat pengantar telah selesai melakukan magang di kantor tersebut. Berangkatlah kami kesana, Feti lalu memintaku untuk mengantarnya ke ruanganmu. Kepada kamu, untuk menanyakan beberapa hal. Yang secara kebetulan kita bertemu di lorong. Kamu yang terperangah melihatku tak berjilbab, lucu sekali ekspresimu. Dengan sengaja kamu berkata "Ya Allah aku kira bidadari, taunya Tieya. Sempet pangling aku tadi. Ayo kapan kita kemana?" lalu aku hanya menanggapi "chat aja jarang, ini lagi ngajak main" dan kamu tertawa sambil meminta maaf, berkata gawai mu sudah terlalu jadul dan tak bisa membuka LINE. Setelah lama berbincang, kamipun pamit dan kamu memintaku untuk membalas pesanmu. Aku hanya tertawa.

Beberapa bulan berlalu, dan kamu tak pernah mengirimiku pesan yang kamu minta untuk aku balas. Aku tahu, kamu tak pernah benar-benar serius memintaku membalas pesanmu. Aku pun sudah beranjak melupakanmu... Hingga... Tepat jumat lalu, temanku Yusti memberitahuku kabar tentangmu. Ketika membaca pesan LINE Yusti di grup, ada sesuatu yang mencelos dari hatiku. Lubang yang telah kamu buat secara sempurna kini hancur bersama hatiku, aku merasa hampa. Tak mampu menangis dan menunjukkan ekspresi. Pun perasaanku sudah lama menghilang. Hanya saja, kemarahanku padamu tak beralasan, aku kira kamu tak pernah berniat serius padaku. Ternyata... Kamu telah tiada semenjak Februari lalu...

Selamat tinggal mas Tris, semoga amal ibadahmu diterima Allah SWT. Kamu baik, maafkan aku dan semua kata-kata yang belum sempat kita ucapkan. Maafkan aku, yang tak mampu memenuhi janjiku untuk menemanimu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bilamana

Pada suatu malam yang kudus, aku melepas penatku dipelukmu. Peluh membanjir, kita berenang dalam kesunyian. Bibir kita gemetar, meliuk saling merengut tak ingin lepas. Sementara mata kita kunci untuk tetap terpejam. Agar? Nafas liar kita semakin memburu! Kupekerjakan kamu, supaya badanku tetap hangat. Kubiarkan kamu melenguh dan menikmati. Tapi tak kubiarkan kamu melayang. Kujaga tetap pada aturannya. Biar kudapati tanya di wajahmu. Aku senang bikin kamu bingung. Langit dimalam itu mendung, bekas hujan tadi sore masih menyelinap di jendela. Memberi kamar kita yang sepetak kedinginan yang luar biasa. Itulah mengapa aku rapatkan badanku padamu. Dan itulah alasan kamu menjadi lebih liar daripada biasa. Kita diatas, kita dibawah. Saling mencumbu, saling tersenyum. Lucu. Saat kulihat wajahmu yang penuh peluh tetap bersikukuh untuk menyerang. Kubiarkan kamu berbuat sesuka. Ini malam kita. Malam yang mungkin tak dapat kita temui lagi. Semakin cepat kau bergerak semakin keras lenguhanku. G...

CodeName

Hur många gånger måste jag berätta för dig? Om det inte är med mitt kodnamn. Då är historien inte rätt. Jag låter dig veta det hela tiden. Det är därför jag använder mitt kodnamn, kanske förstår du det. Du vet historien bakom namnet. Du frågar mig vad skulle jag ha? Jag vill inte ha någonting. Det gör bara ont för att veta det faktum. Att jag inte visste vad du ville ha. Vad du vet. Som om du inte ville ha mig, men du fortsätter att dra mig. Jag vet att vi inte kunde vara tillsammans. Eftersom detta bara är ensidigt. Men vad vill du ha? Jag saknar dig. Jag gör verkligen. - SeRa

Pernikahan

Marriage. Aku kadang ngeri mendengar kata ini. Bagiku pernikahan bukanlah suatu tujuan. Karena, dalam pikiranku, pernikahan adalah sesuatu yang tidak sesakral itu. Kenapa? Mungkin karena aku ada didalam sesuatu yang mereka sebut perceraian. Didalam artiku, pernikahan yang se-kramat itu bisa hancur hanya karena pihak lain yang mungkin dirasa lebih menggoda. Jadi, untuk apa menikah jika kita tetap menganut pada prinsip "jodoh siapa yang tahu"? Sampai sekarang, aku masih tidak mengerti kenapa teman-teman ku bersikeras ingin menikah muda. Pasalnya, untuk menikah, buatku, bukan hanya perkara menghalalkan pacaran. Bukan hanya menghalalkan "ena-ena". Bukan hanya menghalalkan kontak fisik yang selama ini mereka damba. Lebih dari itu, sesiap apa kamu untuk mengurus orang lain yang katanya kamu sayangi? Salut, pada mereka yang memutuskan untuk menikah muda. Berani sekali. Di usia yang bisa dibilang belum matang berpikir dan pengalaman berkomunikasi yang pastinya sedikit leb...