Langsung ke konten utama

Amnesia

Selepas kamu pergi, ada satu semburat luka yang menganga di ulu hatiku. Kamu pergi tinggalkan luka. Tak seperti saat aku mengenalmu, katamu kamu takkan lukai aku. Justrunya, kamu lah yang paling menikam jauh ke dalam sanubari. Iya. Kamu. Yang telah tinggal lebih dari satu putaran bumi terhadap matahari didalam hariku. Kamu. Yang telah menyembunyikan separuh jiwaku selama lebih dari ratusan hari. Kamu. Yang pergi tanpa kata bersama yang baru.

Mungkin, dia mampu berikan sesuatu yang selama ini selalu aku abaikan. Mungkin, dia lebih mampu temani rumit pikiranmu kala deadline kerjamu mengejar. Mungkin, dia lebih menarik bagimu daripada aku yang selama ini kamu amati. Tak mengapa. Pergilah. Dan. Jangan kembali.

Mataku menatap jauh, pada saat-saat kamu berusaha mencariku, menggapaiku, memilikiku, hari dimana kamu berusaha untuk menjadikan aku kekasihmu. Yang nyatanya, sekarang kamu lepas begitu saja. Kawanku menanggapi, syukur aku terlepas dari jeratmu. Mereka tak pernah sukai tentangmu. Namun tentu, hatiku tetap terluka. Memang ada patah hati yang tak menyakitkan?

Aku mencoba mencari, kesalahan apa yang telah kuperbuat hingga kamu berlaku seperti ini? Aku telah melakukan apa memangnya? Aku menyalahi hidupku. Merutuki wujudku. Mencaci bentukku. Memaki nafasku. Bahkan. Sampai pada kenyataan bahwa aku memang tidak diinginkan. Bahkan oleh jiwa yang sempat merendahkan dirinya untuk mengejarku. Kamu.

Tapi, ada suatu bait yang membantuku. Membantu mencari kembali nafas yang sempat menghilang. Dia, bait yang berusaha menyembuhkan ku. Dia, menari di pemakaman jiwaku dan berkata bahwa kematian adalah jalan lain menuju surga. Patah hati adalah jalan lain menuju bahagia. Setiap ada tangis, akan ada tawa. Setiap ada duka, akan ada suka. Setiap ada jatuh, akan ada saatnya untuk bangun. Dan aku, memilih untuk bangun. Aku memilih untuk menyegarkan jiwaku. Dengan puisi, dengan kata, dengan syair, dengan tulisan. Aku memilih untuk hidup kembali. Untuk menemukan, untuk ditemukan.

Jika suatu saat, dia menemukan seseorang yang menarik. Dan kamu dilupakan waktu. Jangan berlari kembali padaku. Jangan mencari sesuatu yang hanya kamu cadangkan. Karena jika itu terjadi, dan kamu menangis bersimpuh dihadapanku. Meminta maaf, memohon aku membuka hatiku, hanya ada satu jawabanku. "Maaf, kamu siapa?"

-Bagi mereka-mereka yang dikecewakan rasa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bilamana

Pada suatu malam yang kudus, aku melepas penatku dipelukmu. Peluh membanjir, kita berenang dalam kesunyian. Bibir kita gemetar, meliuk saling merengut tak ingin lepas. Sementara mata kita kunci untuk tetap terpejam. Agar? Nafas liar kita semakin memburu! Kupekerjakan kamu, supaya badanku tetap hangat. Kubiarkan kamu melenguh dan menikmati. Tapi tak kubiarkan kamu melayang. Kujaga tetap pada aturannya. Biar kudapati tanya di wajahmu. Aku senang bikin kamu bingung. Langit dimalam itu mendung, bekas hujan tadi sore masih menyelinap di jendela. Memberi kamar kita yang sepetak kedinginan yang luar biasa. Itulah mengapa aku rapatkan badanku padamu. Dan itulah alasan kamu menjadi lebih liar daripada biasa. Kita diatas, kita dibawah. Saling mencumbu, saling tersenyum. Lucu. Saat kulihat wajahmu yang penuh peluh tetap bersikukuh untuk menyerang. Kubiarkan kamu berbuat sesuka. Ini malam kita. Malam yang mungkin tak dapat kita temui lagi. Semakin cepat kau bergerak semakin keras lenguhanku. G...

Serendipity

Hari ini, aku selesai menonton suatu film yang sejak malam tak sempat aku selesaikan. Serendipity. Atau dalam bahasa Indonesia nya, Kebetulan. Filmnya menarik, bikin baper. Hahaha. Makna yang aku dapat dari film tersebut adalah, selalu ada cara. Even  kemungkinannya sangat kecil dan hampir tidak mungkin. Tapi, itulah takdir. Sebetulnya dalam pemikiranku, kebetulan itu tidak ada. Takdir adalah sesuatu yang mutlak yang telah dirancang Tuhan dengan indahnya. Ya... Sesederhana dan serumit itu.  Well,  lupakan film itu. Blog ini bukan tukang review  film ko hahaha. Merujuk pada kata kebetulan. Aku selalu merasa kecil kala merenung bagaimana Tuhan mempertemukan aku dengan setiap orang hadir di hidupku. Entah untuk tinggal atau hanya mampir. Kebetulan aku bertemu dengannya. Kebetulan aku berkenalan dengannya. Dan kebetulan kita saling menyakiti. Hahahaha. Itu salah. Itu bukan kebetulan deh. Aku pernah merasakan suatu kebetulan yang amat sangat menyenangkan. Dimana ...

Smile

Today, as I woke up (due to my fever, I sleep a lot ehe) I checked on my phone. Wondering if I get your message. But nothing. So I check on Instagram. And... that's it. Now I know the reason behind all of it. I'm not mad at you nor blame you. It's me. I know it. Finally, you could set yourself free. I smiled. I supposed to feel broken right? But I am not. I am happy for you. Seeing you smile like that with her kinda make me reminisce about us. Yes. We only existed in the past.  Jangan tanya kenapa aku tak mengirimimu pesan, aku cukup sadar diri untuk tidak merusak kebahagiaan mu. Tulisan ini bahkan aku tulis dengan perasaan yang bersalah pada special lady  mu. Sampaikan maafku padanya jika suatu saat nanti kamu membacanya. Rindu? benar, aku rindu. Kamu pun cukup sering kan aku ganggu dengan pesan marahku karena kamu tak pernah mengabariku? Sekarang aku punya alasan mengapa aku tak boleh menghubungi mu lagi. Tolong. Buat aku untuk tidak menghubungimu, apapun yang terjad...