Selepas kamu pergi, ada satu semburat luka yang menganga di ulu hatiku. Kamu pergi tinggalkan luka. Tak seperti saat aku mengenalmu, katamu kamu takkan lukai aku. Justrunya, kamu lah yang paling menikam jauh ke dalam sanubari. Iya. Kamu. Yang telah tinggal lebih dari satu putaran bumi terhadap matahari didalam hariku. Kamu. Yang telah menyembunyikan separuh jiwaku selama lebih dari ratusan hari. Kamu. Yang pergi tanpa kata bersama yang baru.
Mungkin, dia mampu berikan sesuatu yang selama ini selalu aku abaikan. Mungkin, dia lebih mampu temani rumit pikiranmu kala deadline kerjamu mengejar. Mungkin, dia lebih menarik bagimu daripada aku yang selama ini kamu amati. Tak mengapa. Pergilah. Dan. Jangan kembali.
Mataku menatap jauh, pada saat-saat kamu berusaha mencariku, menggapaiku, memilikiku, hari dimana kamu berusaha untuk menjadikan aku kekasihmu. Yang nyatanya, sekarang kamu lepas begitu saja. Kawanku menanggapi, syukur aku terlepas dari jeratmu. Mereka tak pernah sukai tentangmu. Namun tentu, hatiku tetap terluka. Memang ada patah hati yang tak menyakitkan?
Aku mencoba mencari, kesalahan apa yang telah kuperbuat hingga kamu berlaku seperti ini? Aku telah melakukan apa memangnya? Aku menyalahi hidupku. Merutuki wujudku. Mencaci bentukku. Memaki nafasku. Bahkan. Sampai pada kenyataan bahwa aku memang tidak diinginkan. Bahkan oleh jiwa yang sempat merendahkan dirinya untuk mengejarku. Kamu.
Tapi, ada suatu bait yang membantuku. Membantu mencari kembali nafas yang sempat menghilang. Dia, bait yang berusaha menyembuhkan ku. Dia, menari di pemakaman jiwaku dan berkata bahwa kematian adalah jalan lain menuju surga. Patah hati adalah jalan lain menuju bahagia. Setiap ada tangis, akan ada tawa. Setiap ada duka, akan ada suka. Setiap ada jatuh, akan ada saatnya untuk bangun. Dan aku, memilih untuk bangun. Aku memilih untuk menyegarkan jiwaku. Dengan puisi, dengan kata, dengan syair, dengan tulisan. Aku memilih untuk hidup kembali. Untuk menemukan, untuk ditemukan.
Jika suatu saat, dia menemukan seseorang yang menarik. Dan kamu dilupakan waktu. Jangan berlari kembali padaku. Jangan mencari sesuatu yang hanya kamu cadangkan. Karena jika itu terjadi, dan kamu menangis bersimpuh dihadapanku. Meminta maaf, memohon aku membuka hatiku, hanya ada satu jawabanku. "Maaf, kamu siapa?"
-Bagi mereka-mereka yang dikecewakan rasa
Komentar
Posting Komentar