Siang ini, aku masih dirumahnya. Menunggui dia yang sedang terlelap. Lelakiku begitu manja. Manja sekali. Hanya saja, dia berlaku manja padaku seorang. Entah kenapa, tanpaku, dia selalu menjadi lelaki yang kuat. Mungkin berpura kuat. Tapi denganku, dia selalu ingin dirawat. Ingin aku perhatikan. Gemas.
Ditengah tidurnya dia terbangun, mencari aku yang duduk di ruang sebelah. Dia menghampiriku dan menidurkan kepalanya di pangkuanku. Seraya menggerutu kemana aku pergi. Aku hanya tertawa. Semakin senang menggodanya, aku tanya dia "kalo suatu saat nanti aku pergi, kamu mau cari aku ga?" dia segera membuka matanya, lalu menerawang mataku. Seraya membalas "mau pergi kemana?" lalu aku tertawa melihat wajah linglungnya, aku jawab "ya kemana aja" lalu dia langsung menganggukan kepalanya beberapa kali menandakan bahwa ya dia akan mencariku. Aku tertawa geli, seraya mengelus rambutnya. Dan dia kembali pada lelapnya. Aku menatap matanya yang tertutup lekat. Dan tersenyum. Seraya menghela napas. Berapa lama lagi aku mampu menjaganya? Mataku segera kualihkan pada jendela di depanku. Biru. Langit cerah hari ini yang kudapat. Dan dia yang begitu menyenangiku.
Lelap. Aku beranjak. Mengemasi barangku dan menutup pintu rumahnya. Segera menuju kendaraan yang sengaja kupesan melalui aplikasi. Selang beberapa menit, langit mulai meleleh. Begitipula tangis di pipiku. Permintaan Ibu untuk menikahi lelaki pilihannya membuat punggungku terasa berat selama 2 bulan ini. Aku menutup telingaku, dan menutup kebenaran darinya. Aku memalingkan wajahnya dari luka untuk sesaat. Hatiku selalu menjerit tatkala ciumnya berlandas dikeningku. Bebanku memberat tatkala tangannya yang besar menggenggam erat tanganku. Setiap kali kata "Aku Sayang Kamu" terlontar, setiap kali itu juga patahan hatiku semakin patah.
Panggilanmu di nomor ku sudah bersarang lebih dari ratusan. Segala bentuk pesan teks kamu kirim padaku. Tapi... Kamu tahu... Aku takkan mampu membalasnya. Mereka tak mengubur ponsel milikku bersamaku.
-Simfoni setelah semua Keheningan
Komentar
Posting Komentar