Langsung ke konten utama

Mencari

Siang ini, aku masih dirumahnya. Menunggui dia yang sedang terlelap. Lelakiku begitu manja. Manja sekali. Hanya saja, dia berlaku manja padaku seorang. Entah kenapa, tanpaku, dia selalu menjadi lelaki yang kuat. Mungkin berpura kuat. Tapi denganku, dia selalu ingin dirawat. Ingin aku perhatikan. Gemas.

Ditengah tidurnya dia terbangun, mencari aku yang duduk di ruang sebelah. Dia menghampiriku dan menidurkan kepalanya di pangkuanku. Seraya menggerutu kemana aku pergi. Aku hanya tertawa. Semakin senang menggodanya, aku tanya dia "kalo suatu saat nanti aku pergi, kamu mau cari aku ga?" dia segera membuka matanya, lalu menerawang mataku. Seraya membalas "mau pergi kemana?" lalu aku tertawa melihat wajah linglungnya, aku jawab "ya kemana aja" lalu dia langsung menganggukan kepalanya beberapa kali menandakan bahwa ya dia akan mencariku. Aku tertawa geli, seraya mengelus rambutnya. Dan dia kembali pada lelapnya. Aku menatap matanya yang tertutup lekat. Dan tersenyum. Seraya menghela napas. Berapa lama lagi aku mampu menjaganya? Mataku segera kualihkan pada jendela di depanku. Biru. Langit cerah hari ini yang kudapat. Dan dia yang begitu menyenangiku.

Lelap. Aku beranjak. Mengemasi barangku dan menutup pintu rumahnya. Segera menuju kendaraan yang sengaja kupesan melalui aplikasi. Selang beberapa menit, langit mulai meleleh. Begitipula tangis di pipiku. Permintaan Ibu untuk menikahi lelaki pilihannya membuat punggungku terasa berat selama 2 bulan ini. Aku menutup telingaku, dan menutup kebenaran darinya. Aku memalingkan wajahnya dari luka untuk sesaat. Hatiku selalu menjerit tatkala ciumnya berlandas dikeningku. Bebanku memberat tatkala tangannya yang besar menggenggam erat tanganku. Setiap kali kata "Aku Sayang Kamu" terlontar, setiap kali itu juga patahan hatiku semakin patah.

Panggilanmu di nomor ku sudah bersarang lebih dari ratusan. Segala bentuk pesan teks kamu kirim padaku. Tapi... Kamu tahu... Aku takkan mampu membalasnya. Mereka tak mengubur ponsel milikku bersamaku.

-Simfoni setelah semua Keheningan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bilamana

Pada suatu malam yang kudus, aku melepas penatku dipelukmu. Peluh membanjir, kita berenang dalam kesunyian. Bibir kita gemetar, meliuk saling merengut tak ingin lepas. Sementara mata kita kunci untuk tetap terpejam. Agar? Nafas liar kita semakin memburu! Kupekerjakan kamu, supaya badanku tetap hangat. Kubiarkan kamu melenguh dan menikmati. Tapi tak kubiarkan kamu melayang. Kujaga tetap pada aturannya. Biar kudapati tanya di wajahmu. Aku senang bikin kamu bingung. Langit dimalam itu mendung, bekas hujan tadi sore masih menyelinap di jendela. Memberi kamar kita yang sepetak kedinginan yang luar biasa. Itulah mengapa aku rapatkan badanku padamu. Dan itulah alasan kamu menjadi lebih liar daripada biasa. Kita diatas, kita dibawah. Saling mencumbu, saling tersenyum. Lucu. Saat kulihat wajahmu yang penuh peluh tetap bersikukuh untuk menyerang. Kubiarkan kamu berbuat sesuka. Ini malam kita. Malam yang mungkin tak dapat kita temui lagi. Semakin cepat kau bergerak semakin keras lenguhanku. G...

Serendipity

Hari ini, aku selesai menonton suatu film yang sejak malam tak sempat aku selesaikan. Serendipity. Atau dalam bahasa Indonesia nya, Kebetulan. Filmnya menarik, bikin baper. Hahaha. Makna yang aku dapat dari film tersebut adalah, selalu ada cara. Even  kemungkinannya sangat kecil dan hampir tidak mungkin. Tapi, itulah takdir. Sebetulnya dalam pemikiranku, kebetulan itu tidak ada. Takdir adalah sesuatu yang mutlak yang telah dirancang Tuhan dengan indahnya. Ya... Sesederhana dan serumit itu.  Well,  lupakan film itu. Blog ini bukan tukang review  film ko hahaha. Merujuk pada kata kebetulan. Aku selalu merasa kecil kala merenung bagaimana Tuhan mempertemukan aku dengan setiap orang hadir di hidupku. Entah untuk tinggal atau hanya mampir. Kebetulan aku bertemu dengannya. Kebetulan aku berkenalan dengannya. Dan kebetulan kita saling menyakiti. Hahahaha. Itu salah. Itu bukan kebetulan deh. Aku pernah merasakan suatu kebetulan yang amat sangat menyenangkan. Dimana ...

Smile

Today, as I woke up (due to my fever, I sleep a lot ehe) I checked on my phone. Wondering if I get your message. But nothing. So I check on Instagram. And... that's it. Now I know the reason behind all of it. I'm not mad at you nor blame you. It's me. I know it. Finally, you could set yourself free. I smiled. I supposed to feel broken right? But I am not. I am happy for you. Seeing you smile like that with her kinda make me reminisce about us. Yes. We only existed in the past.  Jangan tanya kenapa aku tak mengirimimu pesan, aku cukup sadar diri untuk tidak merusak kebahagiaan mu. Tulisan ini bahkan aku tulis dengan perasaan yang bersalah pada special lady  mu. Sampaikan maafku padanya jika suatu saat nanti kamu membacanya. Rindu? benar, aku rindu. Kamu pun cukup sering kan aku ganggu dengan pesan marahku karena kamu tak pernah mengabariku? Sekarang aku punya alasan mengapa aku tak boleh menghubungi mu lagi. Tolong. Buat aku untuk tidak menghubungimu, apapun yang terjad...