Langsung ke konten utama

Sesaat

Sesaat aku terdiam. Pandanganku terkunci, pada senyum di wajahnya. Senyum yang dapat melelehkan hati gadis yang melihatnya. Raut wajahnya yang sarat kelakian. Matanya yang terbingkai sebuah kacamata berframe hitam. Rambutnya yang tebal dan berantakan. Oh, jangan lupa, bulu matanya yang panjang. Sulam bulu mata dimana dia? Bikin kesal!

Seumur hidupku, aku selalu mencari, melepas, mencari, melepas, dan akhirnya aku menemukan. Sesuatu yang entah bagaimana bisa begitu pas dijemariku. Genggamannya. Suara yang begitu menyenangkan hatiku. Suaranya. Peluk yang tak hanya menghangatkan tapi mengamankan. Rangkulannya. Ya. Dia. Dia. Dia.

Tanpa puji, tanpa rayu. Dia berhasil. Berhasil apa? Menelanjangi hatiku. Menelanjangi semua masa laluku. Dan menerawang semua masa depanku. Aku penasaran, sepertinya dia cenayang yang menyamar!

Entah, hanya dengan tanyanya aku bisa selancar itu menjelaskan apa yang kurasa. Yang selama ini selalu kututup rapat dari siapapun. Hanya dengan sedikit senyumnya, aku bisa dengan semudah itu memberikan jiwaku. Jiwaku. Padanya. Ah. Dia memang licik!

Dalam waktu yang sesingkat itu, dia sudah tahu apapun kebiasaanku. Minuman apa yang sering kubeli saat menyambangi minimarket, makanan apa yang kusenangi saat waktu senggang, seledri yang selalu kuhindari hampir disemua masakan, lagu yang selalu mengiringi setiap saatku, jadwal bulananku, makanan apa yang tidak boleh kumakan saat tamu bulananku datang (dia lebih strict daripada Ibuku soal makanan ini), bagaimana cara membujukku yang malas makan, bagaimana cara untuk menghadapi semua mood swing ku. Dan entah bagaimana caranya dia melakukan semua hal itu dalam waktu yang amat sangat singkat. Seakan dia sudah mengenali setiap sel yang ada ditubuhku. Dia. Menarik.

Suatu malam, obrolan kita menjadi sangat serius. Tentang rencana aku menjalani hidup. Dan revisi dari rencana dia, yang menyertakan aku. Aku terkejut. Aku ada disetiap rencana yang sedang dia usahakan. Ingin menangis, tapi tak tahu tangisan itu untuk apa. Terharu, untuk kali ini, ada seseorang yang benar-benar menginginkan aku ada disetiap saat hidupnya. Pantaskah aku mendapatkannya?

Untuk sesaat, pandanganku masih terkunci. Pada sorot terbingkai sebuah kacamata itu. Tatapannya begitu lembut, dan senyumnya melebar saat kulingkarkan lengkanku dilengannya. Dan dia menggenggam tanganku. Tanpa ragu.

Aku jatuh cinta. Akhirnya.

Padamu.

Entah akan berapa lamakah waktuku bersamamu, sesaat kah atau selamanya kah. Yang ku tahu, aku selalu ingin pulang kepadamu. Aku selalu ingin melihat senyum itu. Aku selalu ingin mendengar nyanyianmu. Syukurlah, Tuhan memberikan jalan untukku pulang di waktu yang tepat. Sebelum aku terlalu jauh menjalani cinta yang tak semestinya. Pulangku, padamu.

-For The First Time

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bilamana

Pada suatu malam yang kudus, aku melepas penatku dipelukmu. Peluh membanjir, kita berenang dalam kesunyian. Bibir kita gemetar, meliuk saling merengut tak ingin lepas. Sementara mata kita kunci untuk tetap terpejam. Agar? Nafas liar kita semakin memburu! Kupekerjakan kamu, supaya badanku tetap hangat. Kubiarkan kamu melenguh dan menikmati. Tapi tak kubiarkan kamu melayang. Kujaga tetap pada aturannya. Biar kudapati tanya di wajahmu. Aku senang bikin kamu bingung. Langit dimalam itu mendung, bekas hujan tadi sore masih menyelinap di jendela. Memberi kamar kita yang sepetak kedinginan yang luar biasa. Itulah mengapa aku rapatkan badanku padamu. Dan itulah alasan kamu menjadi lebih liar daripada biasa. Kita diatas, kita dibawah. Saling mencumbu, saling tersenyum. Lucu. Saat kulihat wajahmu yang penuh peluh tetap bersikukuh untuk menyerang. Kubiarkan kamu berbuat sesuka. Ini malam kita. Malam yang mungkin tak dapat kita temui lagi. Semakin cepat kau bergerak semakin keras lenguhanku. G...

Serendipity

Hari ini, aku selesai menonton suatu film yang sejak malam tak sempat aku selesaikan. Serendipity. Atau dalam bahasa Indonesia nya, Kebetulan. Filmnya menarik, bikin baper. Hahaha. Makna yang aku dapat dari film tersebut adalah, selalu ada cara. Even  kemungkinannya sangat kecil dan hampir tidak mungkin. Tapi, itulah takdir. Sebetulnya dalam pemikiranku, kebetulan itu tidak ada. Takdir adalah sesuatu yang mutlak yang telah dirancang Tuhan dengan indahnya. Ya... Sesederhana dan serumit itu.  Well,  lupakan film itu. Blog ini bukan tukang review  film ko hahaha. Merujuk pada kata kebetulan. Aku selalu merasa kecil kala merenung bagaimana Tuhan mempertemukan aku dengan setiap orang hadir di hidupku. Entah untuk tinggal atau hanya mampir. Kebetulan aku bertemu dengannya. Kebetulan aku berkenalan dengannya. Dan kebetulan kita saling menyakiti. Hahahaha. Itu salah. Itu bukan kebetulan deh. Aku pernah merasakan suatu kebetulan yang amat sangat menyenangkan. Dimana ...

Smile

Today, as I woke up (due to my fever, I sleep a lot ehe) I checked on my phone. Wondering if I get your message. But nothing. So I check on Instagram. And... that's it. Now I know the reason behind all of it. I'm not mad at you nor blame you. It's me. I know it. Finally, you could set yourself free. I smiled. I supposed to feel broken right? But I am not. I am happy for you. Seeing you smile like that with her kinda make me reminisce about us. Yes. We only existed in the past.  Jangan tanya kenapa aku tak mengirimimu pesan, aku cukup sadar diri untuk tidak merusak kebahagiaan mu. Tulisan ini bahkan aku tulis dengan perasaan yang bersalah pada special lady  mu. Sampaikan maafku padanya jika suatu saat nanti kamu membacanya. Rindu? benar, aku rindu. Kamu pun cukup sering kan aku ganggu dengan pesan marahku karena kamu tak pernah mengabariku? Sekarang aku punya alasan mengapa aku tak boleh menghubungi mu lagi. Tolong. Buat aku untuk tidak menghubungimu, apapun yang terjad...