Langsung ke konten utama

Postingan

Tuhan Lebih Tahu

Pagi ini, dingin mendera ku. Rasanya aku nyaman sekali berselimut. Tanpa tahu apa yang akan terjadi, pagi ini aku mengucap syukur dan terima kasih pada Tuhanku. Atas hidup yang masih bisa kujalani. Siang ini, tangisku tak berhenti. Rasanya, aku kehilangan arahku lagi. Kata-kata yang kudengar dari seseorang yang amat kukasihi, berputar di kepalaku. Menjadi semacam anthem di kepalaku. Aku tersenyum dalam tangisku. Berharap bahwa ini hanya mimpi, atau beliau sedang mengerjaiku lewat acara Jebakan Betmen. Haha. Harapan hanya harapan. Disini aku diam, merebahkan tubuhku dikursi menghadap langit. Air mataku terus mengalir tanpa bisa ku berbuat. Tangisku sudah sedikit reda. Namun timbul sesak yang menghambat di paru ku. Aku tertegun. Ingin ku bertanya, ingin ku mengadu, ingin ku ... Ah sudahlah... Mataku kembali basah. Namun ku redam. Biarlah sesak. Tak mengapa. Sekejap lagi, derita ku usai sudah. Tuhan, kau lebih tahu kenapa aku memilih ini.

Untukmu, Untuk Kalian

Aku ingin melupa. Pernah menjadi bagian manis dalam pahit ini. Tolong... Biarkan saja aku tidur. Biar... Tak ada aku pun semua normal, bukan? Lalu kali ini, aku merasa dirampas. Peganganku... Pedomanku... Semua hilang tak berbejak... Lelahku tak jadi penat kalian... Tapi sakit mu menjadi luka yang menganga di benakku. Bilamana, aku memang tak dibiarkan ingin... Tak mengapa, biar saja aku tidur. Toh aku memang lebih suka tidur. Dalam tidurku, aku bisa menjadi siapa aku mau. Sekalipun akhir ini, mimpi ku selalu busuk. Tak apa. Setidaknya. Sakitku dimimpi tak berbekas, pun aku kan lupa ketika mimpi yang manis hadir. Jadi... Ingin kalian kan penuh... Aku hanya akan tidur. Tak usah risau. Kalian lebih senang ketika aku tak ganggu kan? Tidur. Tidurlah.

Sebiji Pisah

Kubisikkan pada malam, kutitipkan, rindu, bahwasanya mulai detik ini tugasku telah usai. Kuikhlaskan. Aku yakin aku telah amat sangat menyakitinya. Tapi itu untuk kebaikannya. Ku doa pada Tuhan, beri ia seseorang yang patut mencintanya sepantasnya. Jangan biar ia merasa sepi barang senapas pun. Bahagia nya bagaimanapun telah, adalah, dan tetap menjadi bahagia ku. Selalu, dan selalu. Berbahagialah. Cinta. Rindu ini semakin menjemu. Daya ku tak berupaya. Peluhku telah beku dengan dingin yang memabukkan. Aku merindunya. Merindu terlelap dalam dekap hangatnya. Menatap lentik bulu yang berderet rapi di matanya. Merasakan lembut dengkurnya. Dan mengecup bibirnya yang tertelungkup. Mencuri cium yang melenakan jiwaku. Jika tak begini, aku akan selalu tuntut ia berubah menjadi mau ku. Padahal di tubuhnya ada jiwa dan pemikiran bebas yang selalu ia liarkan. Jika tak begini, aku akan selalu ingin diamkan ia supaya selaras dengan tuturku. Padahal di hatinya ada cinta yang tak perlu ditakluk unt...

Losing

I have lost. To my own battle. I've lost you. And on this wasteland. I keep on searching. For your traces. Under realization, I'm the one who left. And on this traumatic road. I keep on shouting how hurt I am. Without hesitation. That I may hurt you already. And on this suburban town. I kept on hitting my chest. As it won't stop bleeding. In hope you know the truth. I have lost. I have been lost. And I tried to draw you back. From the grave I threw you in. I have lost. I have been lost. And I try to miss you back. In the moment I fell in love with you.

10 April 2018

Selamat Ulang Tahun! Semoga di umur yang semakin tua ini, semua menjadi lebih jelas untukku. Menjadi pacuan bahwa aku dikejar waktu untuk menikah. Hahaha. Tahun ini, sama seperti tahun sebelumnya. Tak ada kue dan lilin yang bisa kutiup. Tak ada surprise yang benar-benar mengejutkan untukku. Dan tentu, air mata tetap mengalir, sayangnya bukan karena bahagia. Ya, seperti tahun-tahun yang telah lewat. Inginku, hanya sederhana, meniup kue ulang tahun seperti perayaan ulang tahun pada lazimnya. Namun apa daya, tak ada seorangpun yang ingin direpotkan membeli kue untukku. Haha. Setidak-tidaknya, tahun ini, aku tak dirumah dan nelangsa karena tak satupun ingat ulang tahun ku. Setidak-tidaknya, tahun ini, ada seseorang yang menepati janjinya untuk mengucapkan ulang tahun padaku. Setidak-tidaknya, tahun ini, aku tak lagi jadi gadis cengeng yang berharap lebih. Ya, lebih kepada penerimaan diri. Jadi, sebelum waktu berlalu, aku buat ini untukku sendiri. Sebagai pengingat, siapa diriku dima...

Monster

Pernahkah kamu merasa, bahwa kamu tak sendiri, tapi selalu merasa kesepian? Kesepian itu, temanku sejak dahulu. Sekalipun ada beberapa yang mengaku menjadi temanku, aki tak pernah benar-benar merasa ditemani. Karena pada dasarnya, kesepian bukanlah berarti kami sendiri. Namun jika harus memilih, aku lebih memilih sendiri dan sepi, daripada berteman namun tetap kesepian. Hehehe. Sedari kecil, aku selalu diajarkan untuk tak menunjukkan emosiku. Semarah apapun aku tak boleh mengekspresikannya. Sesedih apapun aku tak boleh menangis. Ibuku akan selalu melarangnya. Dan aku selalu mencoba menahannya. Akhirnya, aku selalu tumbang saat malam menjelang. Kala sunyi, tetes air selalu meleleh disudur mataku. Membasahi pipiku. Saat-saat seperti itu, aku harus menahan suaraku agar tak didengar siapapun, terlebih Ibyku, aku takut dimarahi lagi. Itu beranjak sampai sekarang. Aku tak pernah benar-benar menunjukkan emosiku pada siapapun. Aku menjadi seseorang yang sangat manipulatif. Ketika aku marah d...

Pernikahan

Marriage. Aku kadang ngeri mendengar kata ini. Bagiku pernikahan bukanlah suatu tujuan. Karena, dalam pikiranku, pernikahan adalah sesuatu yang tidak sesakral itu. Kenapa? Mungkin karena aku ada didalam sesuatu yang mereka sebut perceraian. Didalam artiku, pernikahan yang se-kramat itu bisa hancur hanya karena pihak lain yang mungkin dirasa lebih menggoda. Jadi, untuk apa menikah jika kita tetap menganut pada prinsip "jodoh siapa yang tahu"? Sampai sekarang, aku masih tidak mengerti kenapa teman-teman ku bersikeras ingin menikah muda. Pasalnya, untuk menikah, buatku, bukan hanya perkara menghalalkan pacaran. Bukan hanya menghalalkan "ena-ena". Bukan hanya menghalalkan kontak fisik yang selama ini mereka damba. Lebih dari itu, sesiap apa kamu untuk mengurus orang lain yang katanya kamu sayangi? Salut, pada mereka yang memutuskan untuk menikah muda. Berani sekali. Di usia yang bisa dibilang belum matang berpikir dan pengalaman berkomunikasi yang pastinya sedikit leb...