Hi! Selamat malam. Errrr, saya bingung sejujurnya bagaimana harus memulai. Tapi saya yakin kamu mengerti, atau mungkin suatu saat nanti.
Saya pergi, untuk kembali. Alasannya, itu kamu. Saya tidak bisa meninggalkanmu. Lebih tepatnya tidak ingin. Namun sepertinya dunia belum mengizinkan kita sekedar berbicara, apalagi bersua. Dunia memang kejam, cinta. Namun aku selalu yakin. Tuhan memiliki rencana dan jalan yang lebih indah untuk kita. Saya ikhlas jikalau akhirnya kita tak bersatu. Saya tidak akan menyesali perasaan ini. Galau, mungkin sedikit. Lebih kepada sadar diri. Bagaimana mampu berharap secara pasti pada dunia yang sementara ini? Saya hanya mampu berusaha. Mengusahakan kamu tetap dalam genggaman. Mengusahakan saya tetap dalam hati kamu. Mengusahakan impian kita berdua tak hanya sebatas lamunan belaka. Saya sangat menyayangi kamu. Terlebih sangat mencintai kamu. Tapi jika Tuhan tahu kamu takkan bahagia dengan saya, saya bisa apa? Meskipun dimatamu saya temukan rumah saya. Jikalau Tuhan ingin kamu lebih berbahagia dengan yang lain. Maka akan saya terima. Saya sadar betul kebahagiaanmu merupakan kebahagiaan saya juga.
Kamu... Itu kamu. Yang selalu ada di hati saya. Entah seberapa banyak pun lelaki yang berusaha mendekati. Entah seberapa banyak puisi yang saya terima. Saya tidak tertarik. Saya tertarik pada kamu. Yang menyimpan hati saya rapat-rapat di jiwamu.
Tetap... Itu kamu. Yang ada di hati saya.
Semoga, kita dapat berjumpa dan berbincang. Sekedar membicarakan perihal tanggal pernikahan kita, atau saya terima undangan pernikahan mu.
Saya menyayangi kamu. Iya. Itu kamu.
-From A to A-
Komentar
Posting Komentar