Langsung ke konten utama

Itu Kamu.

Hi! Selamat malam. Errrr, saya bingung sejujurnya bagaimana harus memulai. Tapi saya yakin kamu mengerti, atau mungkin suatu saat nanti.
Saya pergi, untuk kembali. Alasannya, itu kamu. Saya tidak bisa meninggalkanmu. Lebih tepatnya tidak ingin. Namun sepertinya dunia belum mengizinkan kita sekedar berbicara, apalagi bersua. Dunia memang kejam, cinta. Namun aku selalu yakin. Tuhan memiliki rencana dan jalan yang lebih indah untuk kita. Saya ikhlas jikalau akhirnya kita tak bersatu. Saya tidak akan menyesali perasaan ini. Galau, mungkin sedikit. Lebih kepada sadar diri. Bagaimana mampu berharap secara pasti pada dunia yang sementara ini? Saya hanya mampu berusaha. Mengusahakan kamu tetap dalam genggaman. Mengusahakan saya tetap dalam hati kamu.  Mengusahakan impian kita berdua tak hanya sebatas lamunan belaka. Saya sangat menyayangi kamu. Terlebih sangat mencintai kamu. Tapi jika Tuhan tahu kamu takkan bahagia dengan saya, saya bisa apa? Meskipun dimatamu saya temukan rumah saya. Jikalau Tuhan ingin kamu lebih berbahagia dengan yang lain. Maka akan saya terima. Saya sadar betul kebahagiaanmu merupakan kebahagiaan saya juga.
Kamu... Itu kamu. Yang selalu ada di hati saya. Entah seberapa banyak pun lelaki yang berusaha mendekati. Entah seberapa banyak puisi yang saya terima. Saya tidak tertarik. Saya tertarik pada kamu. Yang menyimpan hati saya rapat-rapat di jiwamu.
Tetap... Itu kamu. Yang ada di hati saya.
Semoga, kita dapat berjumpa dan berbincang. Sekedar membicarakan perihal tanggal pernikahan kita, atau saya terima undangan pernikahan mu.
Saya menyayangi kamu. Iya. Itu kamu.



-From A to A-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bilamana

Pada suatu malam yang kudus, aku melepas penatku dipelukmu. Peluh membanjir, kita berenang dalam kesunyian. Bibir kita gemetar, meliuk saling merengut tak ingin lepas. Sementara mata kita kunci untuk tetap terpejam. Agar? Nafas liar kita semakin memburu! Kupekerjakan kamu, supaya badanku tetap hangat. Kubiarkan kamu melenguh dan menikmati. Tapi tak kubiarkan kamu melayang. Kujaga tetap pada aturannya. Biar kudapati tanya di wajahmu. Aku senang bikin kamu bingung. Langit dimalam itu mendung, bekas hujan tadi sore masih menyelinap di jendela. Memberi kamar kita yang sepetak kedinginan yang luar biasa. Itulah mengapa aku rapatkan badanku padamu. Dan itulah alasan kamu menjadi lebih liar daripada biasa. Kita diatas, kita dibawah. Saling mencumbu, saling tersenyum. Lucu. Saat kulihat wajahmu yang penuh peluh tetap bersikukuh untuk menyerang. Kubiarkan kamu berbuat sesuka. Ini malam kita. Malam yang mungkin tak dapat kita temui lagi. Semakin cepat kau bergerak semakin keras lenguhanku. G...

CodeName

Hur många gånger måste jag berätta för dig? Om det inte är med mitt kodnamn. Då är historien inte rätt. Jag låter dig veta det hela tiden. Det är därför jag använder mitt kodnamn, kanske förstår du det. Du vet historien bakom namnet. Du frågar mig vad skulle jag ha? Jag vill inte ha någonting. Det gör bara ont för att veta det faktum. Att jag inte visste vad du ville ha. Vad du vet. Som om du inte ville ha mig, men du fortsätter att dra mig. Jag vet att vi inte kunde vara tillsammans. Eftersom detta bara är ensidigt. Men vad vill du ha? Jag saknar dig. Jag gör verkligen. - SeRa

Pernikahan

Marriage. Aku kadang ngeri mendengar kata ini. Bagiku pernikahan bukanlah suatu tujuan. Karena, dalam pikiranku, pernikahan adalah sesuatu yang tidak sesakral itu. Kenapa? Mungkin karena aku ada didalam sesuatu yang mereka sebut perceraian. Didalam artiku, pernikahan yang se-kramat itu bisa hancur hanya karena pihak lain yang mungkin dirasa lebih menggoda. Jadi, untuk apa menikah jika kita tetap menganut pada prinsip "jodoh siapa yang tahu"? Sampai sekarang, aku masih tidak mengerti kenapa teman-teman ku bersikeras ingin menikah muda. Pasalnya, untuk menikah, buatku, bukan hanya perkara menghalalkan pacaran. Bukan hanya menghalalkan "ena-ena". Bukan hanya menghalalkan kontak fisik yang selama ini mereka damba. Lebih dari itu, sesiap apa kamu untuk mengurus orang lain yang katanya kamu sayangi? Salut, pada mereka yang memutuskan untuk menikah muda. Berani sekali. Di usia yang bisa dibilang belum matang berpikir dan pengalaman berkomunikasi yang pastinya sedikit leb...