Langsung ke konten utama

Postingan

Antara

Jadi, kamu masih berusaha untuk mengejarku. Memintaku kembali menjadi seseorang yang dulu kamu kenal. Menjadi aku, yang dulu bisa kamu atur semaumu. Menjadi aku, yang dulu mati-matian mencintaimu dan berusaha sebisaku mempertahankan kamu tetap bersamaku. Aku tertawa. Licik. Itu yang kupikirkan tentangmu. Aku merasa kenapa aku bisa sebodoh itu, menjatuhkan diriku untukmu? Tapi itu dulu, sekarang pikiran itu tak pernah ada lagi. Justru aku berterimakasih padamu, karena mu aku tahu bahwa ada beberapa hal yang memang tidak akan bisa kita miliki sekuat apapun kita berusaha dan berdoa. Ada ketentuan-ketentuan Tuhan yang tak bisa kita, sebagai manusia, hanya manusia, kita langgar. Aku jadi belajar untuk lebih menghargai diriku sendiri, mencinta diriku sendiri, agar orang juga tahu, seberapa berharganya diriku. Kamu berteriak, seakan aku manusia paling jahat karena telah memalingkan wajahku darimu. Telah melangkahkan kakiku menjauhimu. Telah memutuskan untuk melepas tali yang mengikat, dianta...

Rain

Sore kemarin, hujan turun. Tidak deras, tidak juga gerimis. Secukupnya. Aku langsung rebah dikursi yang ada di Ruang Tamu rumahku. Memandang titik air yang dengan sukarela menjatuhkan diri dari langit, dan menggenang di pelataran teras rumahku. Hujan kali ini tanpa gemuruh marah dewa Zeus. Dan aku suka. Rasanya sunyi menjadi tempat istirahat yang baik. Mataku terpejam. Menikmati suasana yang sudah agak susah kudapat ini. Ritme hujan, sunyinya rumah, dengan sedikit tarikan nafas Danilla, memenuhi ruang singgahku kali ini. Ah. Indah. Mataku terpekur melihat notifikasi Line pagi kemarin. Kamu muncul disana. Muncul kembali. Entah tujuannya apa. Aku bimbang. Meragu. Haruskah kuterima kamu kembali? Sedang rasaku telah meluap pada seseorang diluar sana. Meskipun tak tersampaikan, tapi aku tak ingin munafik, rasa ini ada untuk dia. Hingga, akhirnya aku terima kamu. Bukan untuk kembali. Hanya untuk mempertegas, rasaku sudah bukan lagi untukmu. Begitulah pikirku. Kamu berkata pagi ini, padaku...

Stargazing

Kembali. Kutulis tentangmu... Tanganku gatal ingin menumpahkan semua yang ada dibenakku. Entah kenapa, jarak selalu berhasil membawa rindu kembali menjerit. Iya. Hatiku memang masih merindumu. Kamu keberatan? Jalanan macet kali ini, kepalaku pusing melihat lalu lalang kendaraan berikut orang yang berjalan keseberang. Kukencangkan lagu yang sedang mengalun. Dan bernyanyi sepenuh jiwaku. Biar gundah tak betah. Lalu kubuka notifikasi yang biasa ku biarkan. Kulihat kamu berbincang. Lalu aku penasaran. Dan aku terluka mengetahuimu memeluk dusta. Ya. Ternyata, perasaan tak semudah itu menguap. Sisa malam ini, kutulis tentang luka yang perih kau rasa. Membayang apa yang harus kamu alami, tanpa aku bisa berbuat apa. Pikirku harus tetap jernih, selama aku hanya mampu berempati, beginilah doaku. Kudoakan senyummu selalu tersungging, senang pun susah. Aku tahu, kamu jiwa yang tak sepatah itu untuk merapuh. Sekali boleh saja. Kamu manusia. Menangis tak mengapa. Lelaki boleh begitu. Hanya untuk ...

Dan (Lagi)

Harapan. Aku benci berharap. Harapanku hanya memberi luka bagiku, tak lebih. Sedih. Harapan. Aku benci berharap. Harapanku hanya membunuhku secara perlahan. Memyakitkan. Seharusnya aku tahu, aku tak bisa bersandar pada sesiapa. Kenapa dengan bodohnya aku bisa berpikir bahwa aku bisa seperti yang lainnya? Seharusnya aku sadar diri, aku tak seharusnya berharap seseorang akan mencintaiku, seperti aku mencintai mereka. Seharusnya aku mawas diri, siapa aku? Tenang, yang menyakitiku bukan kalian. Tapi harapanku sendiri. Seharusnya. Aku tak pernah berusaha membuka diri pada sesiapapun. Seharusnya aku tetap sendiri saja. Dengan segala penatku. Siapa tahu, aku takkan tersakiti lagi. Siapa tahu? Jadi, kubiarkan air membasah dimataku. Menggenang. Dan jatuh turum ke wajahku. Kubiarkan ia membasuh luka. Supaya setidaknya kering dan tak menyakitkan lagi. Kembalilah, pada dirimu sendiri. For no one could save you, except yourself.

Detuk Detik

Tuk... Tuk.. Tuk... Kembali kulihat jam yang betah menempel di dinding. Waktu semakin larut, begitupula aku, yang semakin larut meluruh padamu. Semakin kukencangkan genggamanku pada jemarimu, takut-takut terlepas. Asap yang kau kepulkan dari mulutmu menyerbuku, yang serta merta kamu kibas ke sudut lain. Dengan jemarimu, kamu cubit pipiku sebelah, yang kanan. Lalu tersenyum. Lalu aku jatuh. Ya. Jatuh semakin jatuh pada pelukmu. Selama berbulan ini, sengaja kuhabiskan waktu denganmu banyak-banyak. Tak peduli jika aku harus rebutan kursi di Damri, jika itu bisa membuatku melena disisimu. Tak peduli jika harus kutahan kantukku, jika itu bisa menemanimu sedetik lebih lama. Tak peduli jika harus ku abaikan pulangku, jika itu bisa menabung rinduku. Iya. Kamu. Yang akhir-akhir ini buat pikirku tak lepas dari sosokmu. Segala hal kecil yang kamu perbuat. Entah minuman kesukaanku yang selalu sengaja kau beli dari minimarket. Atau step motor yang segera kamu turunkan sebelum kita melintasi rayan...

Bilamana

Pada suatu malam yang kudus, aku melepas penatku dipelukmu. Peluh membanjir, kita berenang dalam kesunyian. Bibir kita gemetar, meliuk saling merengut tak ingin lepas. Sementara mata kita kunci untuk tetap terpejam. Agar? Nafas liar kita semakin memburu! Kupekerjakan kamu, supaya badanku tetap hangat. Kubiarkan kamu melenguh dan menikmati. Tapi tak kubiarkan kamu melayang. Kujaga tetap pada aturannya. Biar kudapati tanya di wajahmu. Aku senang bikin kamu bingung. Langit dimalam itu mendung, bekas hujan tadi sore masih menyelinap di jendela. Memberi kamar kita yang sepetak kedinginan yang luar biasa. Itulah mengapa aku rapatkan badanku padamu. Dan itulah alasan kamu menjadi lebih liar daripada biasa. Kita diatas, kita dibawah. Saling mencumbu, saling tersenyum. Lucu. Saat kulihat wajahmu yang penuh peluh tetap bersikukuh untuk menyerang. Kubiarkan kamu berbuat sesuka. Ini malam kita. Malam yang mungkin tak dapat kita temui lagi. Semakin cepat kau bergerak semakin keras lenguhanku. G...

Sesap

Hanya ada disudut ini, menatap, meliput, merekam. Segala apa yang terjadi. Maju mundur manusia yang berlalu lalang di hadapku. Ada yang tersenyum, ada yang melamun, ada yang tertawa, ada yang bekerja, ada yang menganggur, ada yang sekedar duduk dan menyesap sebatang rokok dengan bara yang menyala, ada yang memasak, ada yang sibuk dengan gawai yang mereka pegang, ada yang hanya sekedar numpang bernapas. Banyak. Lalu, aku hanya disini. Masih disini, disudut. Dengan kabel yang tercolok ke gawaiku. Memperhatikan. Setiap-setiap mata yang berkerut, setiap-setiap mulut yang bersuara, setiap-setiap tangan yang bercengkrama. Dunia ini, bukan milikku. Aku hanya menumpang disini. Menumpang apa? Menitipkan hati. Hati siapa? Hatiku tentunya. Pada siapa? Pada dia. Yang tengah duduk dengan gawainya. Pada dia yang dengan semua kerendahan hatinya mau menerima serpihan jiwaku. Pada dia yang dengan segala kebaikannya merengkuh semua rapuhku. Lalu sekarang dia sedang tersenyum saat dia dapati aku mem...