Langsung ke konten utama

Akhirnya

Wah! Malam ini aku senang, akhirnya, AKHIRNYA! Aku dapat membaca salah satu tulisanmu. Tuhan, tulisanmu apik sekali. Sangat jelas bahwa kamu sudah banyak menulis dan berlatih dibanding aku yang amat amatiran ini. Hahaha.

Malam ini juga, banyak yang terjadi semenjak aku memutuskan untuk tak pernah lagi mengganggumu. Tapi setidaknya, aku sudah memberikan beberapa kenangan untukmu agar ingat bahwa ada aku yang mungkin saja tidak secara kusadari telah kagum pada sosokmu. Dan... Aku jatuh cinta pada tulisanmu. 

Untuk kamu tahu, pola tidurku masih saja buruk. Bahkan memburuk mungkin karena tidak ada kamu yang membujukku untuk tidur. Tidak ada kamu yang akan merengut jika aku masih saja membalas pesanmu kala subuh sudah menjelang. Haha. Tapi aku masih selalu menyempatkan diriku untuk tidur dan mengistirahatkan batin serta ragaku. Meskipun tak seberapa. Hahaha.

Tapi setidaknya kini aku sedang berusaha untuk mengubah pola pikirku. Sekalipun kita sudah tidak pernah berbincang kembali, aku selalu tahu bahwa kita masih terhubung dibawah langit yang sama. Meskipun masalahku masih menumpuk setinggi itu, aku selalu berpikiran bahwa kamu masih ada disana dan berkata bahwa apapun yang terjadi, aku pasti bisa. Aku masih merasa bahwa kamu masih ada disini untuk sekedar mendengarkan aku cerita hal-hal perintilan sepele atau bahkan peristiwa besar yang terjadi.

Ah hujan telah reda, aku harus segera pergi mencari sesuatu untuk kumakan dan memuaskan nafsu makanku yang lumayan berangsur pulih akhir-akhir ini sebelum malam makin malam, dan hujan kembali turun.

Pulanglah. Angin malam itu tak pernah baik untukmu.

By the way, bagaimana keadaanmu? Sudah sehat kan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bilamana

Pada suatu malam yang kudus, aku melepas penatku dipelukmu. Peluh membanjir, kita berenang dalam kesunyian. Bibir kita gemetar, meliuk saling merengut tak ingin lepas. Sementara mata kita kunci untuk tetap terpejam. Agar? Nafas liar kita semakin memburu! Kupekerjakan kamu, supaya badanku tetap hangat. Kubiarkan kamu melenguh dan menikmati. Tapi tak kubiarkan kamu melayang. Kujaga tetap pada aturannya. Biar kudapati tanya di wajahmu. Aku senang bikin kamu bingung. Langit dimalam itu mendung, bekas hujan tadi sore masih menyelinap di jendela. Memberi kamar kita yang sepetak kedinginan yang luar biasa. Itulah mengapa aku rapatkan badanku padamu. Dan itulah alasan kamu menjadi lebih liar daripada biasa. Kita diatas, kita dibawah. Saling mencumbu, saling tersenyum. Lucu. Saat kulihat wajahmu yang penuh peluh tetap bersikukuh untuk menyerang. Kubiarkan kamu berbuat sesuka. Ini malam kita. Malam yang mungkin tak dapat kita temui lagi. Semakin cepat kau bergerak semakin keras lenguhanku. G...

CodeName

Hur många gånger måste jag berätta för dig? Om det inte är med mitt kodnamn. Då är historien inte rätt. Jag låter dig veta det hela tiden. Det är därför jag använder mitt kodnamn, kanske förstår du det. Du vet historien bakom namnet. Du frågar mig vad skulle jag ha? Jag vill inte ha någonting. Det gör bara ont för att veta det faktum. Att jag inte visste vad du ville ha. Vad du vet. Som om du inte ville ha mig, men du fortsätter att dra mig. Jag vet att vi inte kunde vara tillsammans. Eftersom detta bara är ensidigt. Men vad vill du ha? Jag saknar dig. Jag gör verkligen. - SeRa

Pernikahan

Marriage. Aku kadang ngeri mendengar kata ini. Bagiku pernikahan bukanlah suatu tujuan. Karena, dalam pikiranku, pernikahan adalah sesuatu yang tidak sesakral itu. Kenapa? Mungkin karena aku ada didalam sesuatu yang mereka sebut perceraian. Didalam artiku, pernikahan yang se-kramat itu bisa hancur hanya karena pihak lain yang mungkin dirasa lebih menggoda. Jadi, untuk apa menikah jika kita tetap menganut pada prinsip "jodoh siapa yang tahu"? Sampai sekarang, aku masih tidak mengerti kenapa teman-teman ku bersikeras ingin menikah muda. Pasalnya, untuk menikah, buatku, bukan hanya perkara menghalalkan pacaran. Bukan hanya menghalalkan "ena-ena". Bukan hanya menghalalkan kontak fisik yang selama ini mereka damba. Lebih dari itu, sesiap apa kamu untuk mengurus orang lain yang katanya kamu sayangi? Salut, pada mereka yang memutuskan untuk menikah muda. Berani sekali. Di usia yang bisa dibilang belum matang berpikir dan pengalaman berkomunikasi yang pastinya sedikit leb...