Langsung ke konten utama

Pamit

Pada akhirnya, aku hanya mampu pamit. Mengenalmu untuk beberapa waktu membuatku amat sangat senang. Maaf, aku banyak merepotkanmu. Percayalah, aku sangat menikmati saat-saat berbincang denganmu. Entah itu percakapan serius atau tidak. Entah itu percakapan berat atau ringan. Berbincang denganmu rasanya membuatku tak ingin menyudahinya. Dan senang karena kamu selalu antusias membalas, juga menunggu postinganku. Kuharap, kamu tak pernah bosan menanti tulisanku.

Ingat, angin malam takkan pernah baik untukmu. Tapi sepertinya itu kesenanganmu ya? Tak mengapa, yang penting jaketmu jangan sampai lepas menghangatkanmu. Aku khawatir, nanti tidak ada yang mengingatkanmu bahwa angin malam tak pernah baik. Namun, kamu sudah cukup dewasa untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk.

Ah, aku tahu. Aku hanya seorang penyusup yang minta ditemani untuk beberapa saat. Karena aku tahu, aku tak pernah bisa lebih dari sekedar kawan untukmu. Dan itu sudah lebih dari cukup bagiku. Menjadi seseorang yang menerima balasan darimu saja sudah amat sangat membuatku senang. Aku berharap suatu saat nanti, aku bisa lebih mengenalmu. Kamu orang yang baik. Sangat baik. Maaf jika ada tutur atau canda yang tak menyenangkan untukmu.

Malam ini, seperti biasa aku kepayahan untuk memejamkan mata barang sedetikpun. Melangkah pergi darimu rasanya sangat berat untukku. Namun, semakin lama aku bersamamu, semakin ingin aku lebih mengenalmu. Bahkan kadang aku mengira-ngira namamu siapa. Hahaha. Maaf. Tapi tenang, aku sudah bukan sesiapamu. Aku takkan pula mengganggu waktumu. Kuharap aku masih tetap menjadi kawanmu.

Hey, tetaplah menjadi baik. Dan semoga, nanti aku akhirnya bisa tahu namamu. Aku masih berharap untuk bisa membaca semua tulisanmu. Seperti kamu yang selalu membaca tulisanku. Aku juga ingin menunggu kamu membuat postingan, kau tahu? Hahaha

Selamat malam.

Semoga lekas sembuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bilamana

Pada suatu malam yang kudus, aku melepas penatku dipelukmu. Peluh membanjir, kita berenang dalam kesunyian. Bibir kita gemetar, meliuk saling merengut tak ingin lepas. Sementara mata kita kunci untuk tetap terpejam. Agar? Nafas liar kita semakin memburu! Kupekerjakan kamu, supaya badanku tetap hangat. Kubiarkan kamu melenguh dan menikmati. Tapi tak kubiarkan kamu melayang. Kujaga tetap pada aturannya. Biar kudapati tanya di wajahmu. Aku senang bikin kamu bingung. Langit dimalam itu mendung, bekas hujan tadi sore masih menyelinap di jendela. Memberi kamar kita yang sepetak kedinginan yang luar biasa. Itulah mengapa aku rapatkan badanku padamu. Dan itulah alasan kamu menjadi lebih liar daripada biasa. Kita diatas, kita dibawah. Saling mencumbu, saling tersenyum. Lucu. Saat kulihat wajahmu yang penuh peluh tetap bersikukuh untuk menyerang. Kubiarkan kamu berbuat sesuka. Ini malam kita. Malam yang mungkin tak dapat kita temui lagi. Semakin cepat kau bergerak semakin keras lenguhanku. G...

CodeName

Hur många gånger måste jag berätta för dig? Om det inte är med mitt kodnamn. Då är historien inte rätt. Jag låter dig veta det hela tiden. Det är därför jag använder mitt kodnamn, kanske förstår du det. Du vet historien bakom namnet. Du frågar mig vad skulle jag ha? Jag vill inte ha någonting. Det gör bara ont för att veta det faktum. Att jag inte visste vad du ville ha. Vad du vet. Som om du inte ville ha mig, men du fortsätter att dra mig. Jag vet att vi inte kunde vara tillsammans. Eftersom detta bara är ensidigt. Men vad vill du ha? Jag saknar dig. Jag gör verkligen. - SeRa

Pernikahan

Marriage. Aku kadang ngeri mendengar kata ini. Bagiku pernikahan bukanlah suatu tujuan. Karena, dalam pikiranku, pernikahan adalah sesuatu yang tidak sesakral itu. Kenapa? Mungkin karena aku ada didalam sesuatu yang mereka sebut perceraian. Didalam artiku, pernikahan yang se-kramat itu bisa hancur hanya karena pihak lain yang mungkin dirasa lebih menggoda. Jadi, untuk apa menikah jika kita tetap menganut pada prinsip "jodoh siapa yang tahu"? Sampai sekarang, aku masih tidak mengerti kenapa teman-teman ku bersikeras ingin menikah muda. Pasalnya, untuk menikah, buatku, bukan hanya perkara menghalalkan pacaran. Bukan hanya menghalalkan "ena-ena". Bukan hanya menghalalkan kontak fisik yang selama ini mereka damba. Lebih dari itu, sesiap apa kamu untuk mengurus orang lain yang katanya kamu sayangi? Salut, pada mereka yang memutuskan untuk menikah muda. Berani sekali. Di usia yang bisa dibilang belum matang berpikir dan pengalaman berkomunikasi yang pastinya sedikit leb...