Langsung ke konten utama

Hej, från den här sidan!

Hej! Maaf kalau aku baru sempat menulis lagi setelah sekian lama aku tak menyapamu. Bagaimana harimu? Ku harap semua tetap berjalan lancar. Ah, apa kau merindukanku? hahaha ku harap begitu, aku sangat merindukanmu.

Sejak terakhir kali aku menulis, ada banyak yang terjadi. Kini, aku tak lagi memikirkan tekanan-tekanan yang selama ini aku rasakan. Aku berusaha menerimanya, memeluknya dan berteman dengannya. Aku juga sudah banyak berbicara dengan ibuku, dimediasi kakakku sehingga tidak ada lagi kesalahpahaman diantara kita berdua.

Aku rindu berbicara hal yang tidak penting denganmu. Tapi keputusanku sudah bulat dan aku tidak akan berusaha mencarimu lagi. Biar rasaku jadi urusanku saja.

Lalu, apa alasanku tetap menulis di sini padahal kamu pasti bisa membacanya? Tak ada. Aku hanya ingin kamu tetap menunggu dan membaca tulisanku. Perasaan yang timbul saat kamu tahu ada yang menunggumu itu luar biasa, kau tahu?

Ah, kemarin malam aku sempat bertemu dengan teman baruku. Dia mengajakku untuk berusaha menikmati kopi yang selalu menjadi kesukaannya. Ternyata memang tidak seburuk itu, malah aku jatuh cinta pada minuman itu. Berbincang dengan orang yang asyik dan semua pengalaman baru itu membuatku merasa nyaman. Aku memang senang mendengarkan, melihat semua ekspresi yang tertuang di wajah orang bercerita, mendengar hal baru dan tentu... pengetahuan yang baru juga sangat mengasyikan. Itukah yang kamu rasakan ketika aku selalu bercerita ini itu padamu?

Beberapa teman bertanya padaku, apa yang membuatku akhirnya memutuskan untuk tidak menjalin hubungan lebih dengan orang lain. Aku hanya bisa menjawab bahwa aku belum menemukan seseorang yang tepat. Meski pada kenyataannya, aku hanya tidak ingin berharap dan terluka oleh harapanku sendiri. Aku tidak ada masalah berbicara dengan semua orang yang berusaha untuk menjadi temanku, dekat denganku, tapi tidak ingin berusaha mempercayai sesiapapun lagi.

Ah, Aku harus pergi. Sampai berjumpa di lain waktu!



-Ra

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bilamana

Pada suatu malam yang kudus, aku melepas penatku dipelukmu. Peluh membanjir, kita berenang dalam kesunyian. Bibir kita gemetar, meliuk saling merengut tak ingin lepas. Sementara mata kita kunci untuk tetap terpejam. Agar? Nafas liar kita semakin memburu! Kupekerjakan kamu, supaya badanku tetap hangat. Kubiarkan kamu melenguh dan menikmati. Tapi tak kubiarkan kamu melayang. Kujaga tetap pada aturannya. Biar kudapati tanya di wajahmu. Aku senang bikin kamu bingung. Langit dimalam itu mendung, bekas hujan tadi sore masih menyelinap di jendela. Memberi kamar kita yang sepetak kedinginan yang luar biasa. Itulah mengapa aku rapatkan badanku padamu. Dan itulah alasan kamu menjadi lebih liar daripada biasa. Kita diatas, kita dibawah. Saling mencumbu, saling tersenyum. Lucu. Saat kulihat wajahmu yang penuh peluh tetap bersikukuh untuk menyerang. Kubiarkan kamu berbuat sesuka. Ini malam kita. Malam yang mungkin tak dapat kita temui lagi. Semakin cepat kau bergerak semakin keras lenguhanku. G...

CodeName

Hur många gånger måste jag berätta för dig? Om det inte är med mitt kodnamn. Då är historien inte rätt. Jag låter dig veta det hela tiden. Det är därför jag använder mitt kodnamn, kanske förstår du det. Du vet historien bakom namnet. Du frågar mig vad skulle jag ha? Jag vill inte ha någonting. Det gör bara ont för att veta det faktum. Att jag inte visste vad du ville ha. Vad du vet. Som om du inte ville ha mig, men du fortsätter att dra mig. Jag vet att vi inte kunde vara tillsammans. Eftersom detta bara är ensidigt. Men vad vill du ha? Jag saknar dig. Jag gör verkligen. - SeRa

Pernikahan

Marriage. Aku kadang ngeri mendengar kata ini. Bagiku pernikahan bukanlah suatu tujuan. Karena, dalam pikiranku, pernikahan adalah sesuatu yang tidak sesakral itu. Kenapa? Mungkin karena aku ada didalam sesuatu yang mereka sebut perceraian. Didalam artiku, pernikahan yang se-kramat itu bisa hancur hanya karena pihak lain yang mungkin dirasa lebih menggoda. Jadi, untuk apa menikah jika kita tetap menganut pada prinsip "jodoh siapa yang tahu"? Sampai sekarang, aku masih tidak mengerti kenapa teman-teman ku bersikeras ingin menikah muda. Pasalnya, untuk menikah, buatku, bukan hanya perkara menghalalkan pacaran. Bukan hanya menghalalkan "ena-ena". Bukan hanya menghalalkan kontak fisik yang selama ini mereka damba. Lebih dari itu, sesiap apa kamu untuk mengurus orang lain yang katanya kamu sayangi? Salut, pada mereka yang memutuskan untuk menikah muda. Berani sekali. Di usia yang bisa dibilang belum matang berpikir dan pengalaman berkomunikasi yang pastinya sedikit leb...