Langsung ke konten utama

Dari SeRa untuk kamu


Nyaman itu, bisakah dibeli bahkan oleh waktu? Kurasa tidak, bahkan kenyamanan tidak bisa dibeli oleh wujud. Sungguh, aku merasa bahwa aku bisa menerima kenyamanan itu dengan berbincang denganmu. Tapi, aku tahu aku tak boleh berharap padamu. Aku bukan sesiapamu. Aku bukan nyamanmu.

Dengan begitulah aku mulai kembali percaya bahwa manusia adalah hal yang layak untuk dicintai. Aku merasa bahwa siapapun kamu, dimanapun kamu berada, bagaimanapun wujudmu, aku telah dijatuh cintakan padamu. Apakah kamu keberatan? Jika kamu berkeberatan, aku akan pergi. Aku takkan tega mengganggu semua kedamaian hatimu.

Hanya ada satu yang perlu kamu tahu, aku menyukaimu untuk semua yang ada di dirimu. Meskipun wujudmu disembunyikan Tuhan dariku. Bolehkah aku sedikit berharap bahwa aku akan bisa membahagiakan kamu? Kamu membuatku merasa bahwa aku boleh memiliki harapan. Karena itu, aku selalu merasa senang dengan semua perlakuanmu, perkataanmu.

Jika kamu memang tidak berkenan, aku akan pergi dan membawa semua perasaanku yang tak tuntas padamu. Semua rasa rindu yang tak bisa kubayar lunas. Biar itu menjadi tanggunganku. 

Ah... Hujan malam ini membuat nafasku tercekat. Aku masih merindukanmu. Dan selalu berharap bahwa kita bisa berbincang seperti sedia kala.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bilamana

Pada suatu malam yang kudus, aku melepas penatku dipelukmu. Peluh membanjir, kita berenang dalam kesunyian. Bibir kita gemetar, meliuk saling merengut tak ingin lepas. Sementara mata kita kunci untuk tetap terpejam. Agar? Nafas liar kita semakin memburu! Kupekerjakan kamu, supaya badanku tetap hangat. Kubiarkan kamu melenguh dan menikmati. Tapi tak kubiarkan kamu melayang. Kujaga tetap pada aturannya. Biar kudapati tanya di wajahmu. Aku senang bikin kamu bingung. Langit dimalam itu mendung, bekas hujan tadi sore masih menyelinap di jendela. Memberi kamar kita yang sepetak kedinginan yang luar biasa. Itulah mengapa aku rapatkan badanku padamu. Dan itulah alasan kamu menjadi lebih liar daripada biasa. Kita diatas, kita dibawah. Saling mencumbu, saling tersenyum. Lucu. Saat kulihat wajahmu yang penuh peluh tetap bersikukuh untuk menyerang. Kubiarkan kamu berbuat sesuka. Ini malam kita. Malam yang mungkin tak dapat kita temui lagi. Semakin cepat kau bergerak semakin keras lenguhanku. G...

Serendipity

Hari ini, aku selesai menonton suatu film yang sejak malam tak sempat aku selesaikan. Serendipity. Atau dalam bahasa Indonesia nya, Kebetulan. Filmnya menarik, bikin baper. Hahaha. Makna yang aku dapat dari film tersebut adalah, selalu ada cara. Even  kemungkinannya sangat kecil dan hampir tidak mungkin. Tapi, itulah takdir. Sebetulnya dalam pemikiranku, kebetulan itu tidak ada. Takdir adalah sesuatu yang mutlak yang telah dirancang Tuhan dengan indahnya. Ya... Sesederhana dan serumit itu.  Well,  lupakan film itu. Blog ini bukan tukang review  film ko hahaha. Merujuk pada kata kebetulan. Aku selalu merasa kecil kala merenung bagaimana Tuhan mempertemukan aku dengan setiap orang hadir di hidupku. Entah untuk tinggal atau hanya mampir. Kebetulan aku bertemu dengannya. Kebetulan aku berkenalan dengannya. Dan kebetulan kita saling menyakiti. Hahahaha. Itu salah. Itu bukan kebetulan deh. Aku pernah merasakan suatu kebetulan yang amat sangat menyenangkan. Dimana ...

Smile

Today, as I woke up (due to my fever, I sleep a lot ehe) I checked on my phone. Wondering if I get your message. But nothing. So I check on Instagram. And... that's it. Now I know the reason behind all of it. I'm not mad at you nor blame you. It's me. I know it. Finally, you could set yourself free. I smiled. I supposed to feel broken right? But I am not. I am happy for you. Seeing you smile like that with her kinda make me reminisce about us. Yes. We only existed in the past.  Jangan tanya kenapa aku tak mengirimimu pesan, aku cukup sadar diri untuk tidak merusak kebahagiaan mu. Tulisan ini bahkan aku tulis dengan perasaan yang bersalah pada special lady  mu. Sampaikan maafku padanya jika suatu saat nanti kamu membacanya. Rindu? benar, aku rindu. Kamu pun cukup sering kan aku ganggu dengan pesan marahku karena kamu tak pernah mengabariku? Sekarang aku punya alasan mengapa aku tak boleh menghubungi mu lagi. Tolong. Buat aku untuk tidak menghubungimu, apapun yang terjad...