Dan, pada akhirnya aku menghampa menunggu kabar. Tak jua aku menemukan titik terang. Inikah jawabnya? Inikah akhirnya? Jika benar, mari, kita sudahi temu ini. Agar tak ada luka menyembunyi jadi suka. Agar tak ada harap berpura hilang ingatan.
Kita memang sepasang asing, bertemu dalam lintas waktu tak terarah. Belum tentu mau menjadi harap. Belum tentu suka menjadi cinta.
Kita memang sepasang asing, yang senang mempelajari satu sama lain. Belum tentu pikir kita sama. Belum tentu ingin kita satu.
Kita memang sepasang asing, yang jatuh pada pelukan kata. Belum tentu makna kita serupa. Belum tentu arti kita selaras.
Kita memang sepasang asing, bersama dalam ketidakpastian rasa. Belum tentu ucap kita harmoni. Belum tentu tulis kita sejiwa.
Ya... Kita memang sepasang asing. Dan entah bagaimana, aku menemukan diriku menatap langit yang menaungi sama denganmu. Serasa, kamu juga sedang menikmati apa yang sedang kurasa. Padahal, aku tak tahu, bagaimana perasaanmu? Aku tak hapal, bagaimana inginmu? Aku tak mengerti, bagaimana pikiranmu?
Mungkin, aku memang seharusnya tetap pergi darimu. Agar rasaku tak jadi bebanmu. Tapi, entah, ada satu titik dihatiku, yang tetap berharap kamu rasakan getaran sama. Entah. Mungkin aku terlalu terbawa perasaanku. Maafkan aku.
Kamu, membuatku merasa menjadi seseorang yang susah tidur kala tak mendengar kabarmu. Kamu, membuatku percaya bahwa cinta itu memang ada. Ah, barangkali, cinta ini belum begitu tulus. Tapi sungguh, aku tak bisa berhenti mengatakan apa yang aku rasa padamu. Sungguh.
Jika, jawabanmu memang tidak. Tolong, pergi saja dan jangan pernah kembali. Jangan tolehkan lagi harapan itu padaku.
Jika, jawabanmu memang iya. Tolong, setidaknya, berikan aku tanda bahwa rasa ini bukan hanya aku yang ingin. Tolong katakan padaku bahwa kamupun merasakannya.
Terima kasih. Selamat malam. Semoga angin malam ini tidak melukaimu.
-Ra
Komentar
Posting Komentar