Langsung ke konten utama

Stranger Things

Dan, pada akhirnya aku menghampa menunggu kabar. Tak jua aku menemukan titik terang. Inikah jawabnya? Inikah akhirnya? Jika benar, mari, kita sudahi temu ini. Agar tak ada luka menyembunyi jadi suka. Agar tak ada harap berpura hilang ingatan.

Kita memang sepasang asing, bertemu dalam lintas waktu tak terarah. Belum tentu mau menjadi harap. Belum tentu suka menjadi cinta.

Kita memang sepasang asing, yang senang mempelajari satu sama lain. Belum tentu pikir kita sama. Belum tentu ingin kita satu.

Kita memang sepasang asing, yang jatuh pada pelukan kata. Belum tentu makna kita serupa. Belum tentu arti kita selaras.

Kita memang sepasang asing, bersama dalam ketidakpastian rasa. Belum tentu ucap kita harmoni. Belum tentu tulis kita sejiwa.

Ya... Kita memang sepasang asing. Dan entah bagaimana, aku menemukan diriku menatap langit yang menaungi sama denganmu. Serasa, kamu juga sedang menikmati apa yang sedang kurasa. Padahal, aku tak tahu, bagaimana perasaanmu? Aku tak hapal, bagaimana inginmu? Aku tak mengerti, bagaimana pikiranmu?

Mungkin, aku memang seharusnya tetap pergi darimu. Agar rasaku tak jadi bebanmu. Tapi, entah, ada satu titik dihatiku, yang tetap berharap kamu rasakan getaran sama. Entah. Mungkin aku terlalu terbawa perasaanku. Maafkan aku.

Kamu, membuatku merasa menjadi seseorang yang susah tidur kala tak mendengar kabarmu. Kamu, membuatku percaya bahwa cinta itu memang ada. Ah, barangkali, cinta ini belum begitu tulus. Tapi sungguh, aku tak bisa berhenti mengatakan apa yang aku rasa padamu. Sungguh.

Jika, jawabanmu memang tidak. Tolong, pergi saja dan jangan pernah kembali. Jangan tolehkan lagi harapan itu padaku.

Jika, jawabanmu memang iya. Tolong, setidaknya, berikan aku tanda bahwa rasa ini bukan hanya aku yang ingin. Tolong katakan padaku bahwa kamupun merasakannya.

Terima kasih. Selamat malam. Semoga angin malam ini tidak melukaimu.

-Ra

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bilamana

Pada suatu malam yang kudus, aku melepas penatku dipelukmu. Peluh membanjir, kita berenang dalam kesunyian. Bibir kita gemetar, meliuk saling merengut tak ingin lepas. Sementara mata kita kunci untuk tetap terpejam. Agar? Nafas liar kita semakin memburu! Kupekerjakan kamu, supaya badanku tetap hangat. Kubiarkan kamu melenguh dan menikmati. Tapi tak kubiarkan kamu melayang. Kujaga tetap pada aturannya. Biar kudapati tanya di wajahmu. Aku senang bikin kamu bingung. Langit dimalam itu mendung, bekas hujan tadi sore masih menyelinap di jendela. Memberi kamar kita yang sepetak kedinginan yang luar biasa. Itulah mengapa aku rapatkan badanku padamu. Dan itulah alasan kamu menjadi lebih liar daripada biasa. Kita diatas, kita dibawah. Saling mencumbu, saling tersenyum. Lucu. Saat kulihat wajahmu yang penuh peluh tetap bersikukuh untuk menyerang. Kubiarkan kamu berbuat sesuka. Ini malam kita. Malam yang mungkin tak dapat kita temui lagi. Semakin cepat kau bergerak semakin keras lenguhanku. G...

CodeName

Hur många gånger måste jag berätta för dig? Om det inte är med mitt kodnamn. Då är historien inte rätt. Jag låter dig veta det hela tiden. Det är därför jag använder mitt kodnamn, kanske förstår du det. Du vet historien bakom namnet. Du frågar mig vad skulle jag ha? Jag vill inte ha någonting. Det gör bara ont för att veta det faktum. Att jag inte visste vad du ville ha. Vad du vet. Som om du inte ville ha mig, men du fortsätter att dra mig. Jag vet att vi inte kunde vara tillsammans. Eftersom detta bara är ensidigt. Men vad vill du ha? Jag saknar dig. Jag gör verkligen. - SeRa

Pernikahan

Marriage. Aku kadang ngeri mendengar kata ini. Bagiku pernikahan bukanlah suatu tujuan. Karena, dalam pikiranku, pernikahan adalah sesuatu yang tidak sesakral itu. Kenapa? Mungkin karena aku ada didalam sesuatu yang mereka sebut perceraian. Didalam artiku, pernikahan yang se-kramat itu bisa hancur hanya karena pihak lain yang mungkin dirasa lebih menggoda. Jadi, untuk apa menikah jika kita tetap menganut pada prinsip "jodoh siapa yang tahu"? Sampai sekarang, aku masih tidak mengerti kenapa teman-teman ku bersikeras ingin menikah muda. Pasalnya, untuk menikah, buatku, bukan hanya perkara menghalalkan pacaran. Bukan hanya menghalalkan "ena-ena". Bukan hanya menghalalkan kontak fisik yang selama ini mereka damba. Lebih dari itu, sesiap apa kamu untuk mengurus orang lain yang katanya kamu sayangi? Salut, pada mereka yang memutuskan untuk menikah muda. Berani sekali. Di usia yang bisa dibilang belum matang berpikir dan pengalaman berkomunikasi yang pastinya sedikit leb...