Langsung ke konten utama

Jawaban

Hej, ada beberapa kesalahan yang aku buat. Mungkin menyakiti hatimu. Aku pergi darimu, bukan karena seseorang. Apapun yang membuatku menulis beberapa postingan terakhir, itu hanya apa yang sedang ku reka ketika mengunjungi beberapa kedai kopi. Aku merasa sedih jika kamu merasa bahwa pergi ku karena aku lebih memilih seseorang yang selain kamu. Padahal, hatiku masih saja memilihmu, sekalipun kamu entah berada dimana.

Tapi, jika memang aku telah menyakiti hatimu, aku meminta maaf. Tiada maksudku begitu. Pergi ku adalah, untuk membuatmu rindu padaku. Betapa inginnya aku berkata aku rindu padamu, rindu mengganggumu dengan semua rengekan kekanakan ku. Seharusnya kamu tahu itu. Tapi mungkin, semua yang sudah kukatakan padamu tak sampai makna nya. Tak mengapa. Aku yang salah. Aku meminta maaf.

Jika benar itu jawabanmu, maka aku menerimanya dengan perasaan yang teramat lapang. Setidaknya, aku sudah tahu apa jawaban dari semua tanyaku sebelumnya. Sekali lagi, aku meminta maaf. Jika ada perkataan ku yang menyakiti hatimu. Terima kasih karena telah memberiku jawaban. Aku takkan merubah perasaanku padamu. Aku jatuh cinta. Dan itu mutlak. Pamitku kala itu, inginnya aku kamu mencegah. Tapi aku terlalu egois untuk berharap ini itu pada kamu.

Jika benar pesanmu itu untukku, Aku sudah mendengarkan senandungmu. Aku sudah tahu maksudmu. Ada satu hal yang perlu kamu tahu, aku memang sudah menemukan seseorang yang membuatku merasa bahagia, jauh kedalam lubuk hatiku. Membuatku merasa lengkap dan istimewa. Jika kamu penasaran siapa dia, tolong sekarang kamu pergi ke cermin terdekat, atau gunakan kamera depan gawaimu. Ya. Itu kamu.

Mungkin, apa yang kukatakan disini terasa seperti omong kosong bagimu. Tapi ini, jujur dari dalam hatiku. SeRa merindukan kamu. SeRa rindu berbicara denganmu. Bolehkah SeRa kembali egois menginginkanmu hanya untuk SeRa? Ah, mungkin sekarang semua sudah terlambat, tak mengapa, dari awal memang itulah yang ingin aku katakan padamu. SeRa menginginkan kamu.

Mungkin, jika berkenan, jika kamu mengerti dan paham apa maksud dari tulisan ini, bolehkah SeRa kembali mengajakmu untuk menikmati secangkir kopi dikala hujan?

Ingatlah, pergiku bukan karena sesiapapun. Pergikku, karena aku ingin kamu tahu bahwa aku takut membebanimu dengan perasaanku. 

Aku masih menunggu balasanmu.


-SeRa, yang hatinya sedang berhambur membaca pesanmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bilamana

Pada suatu malam yang kudus, aku melepas penatku dipelukmu. Peluh membanjir, kita berenang dalam kesunyian. Bibir kita gemetar, meliuk saling merengut tak ingin lepas. Sementara mata kita kunci untuk tetap terpejam. Agar? Nafas liar kita semakin memburu! Kupekerjakan kamu, supaya badanku tetap hangat. Kubiarkan kamu melenguh dan menikmati. Tapi tak kubiarkan kamu melayang. Kujaga tetap pada aturannya. Biar kudapati tanya di wajahmu. Aku senang bikin kamu bingung. Langit dimalam itu mendung, bekas hujan tadi sore masih menyelinap di jendela. Memberi kamar kita yang sepetak kedinginan yang luar biasa. Itulah mengapa aku rapatkan badanku padamu. Dan itulah alasan kamu menjadi lebih liar daripada biasa. Kita diatas, kita dibawah. Saling mencumbu, saling tersenyum. Lucu. Saat kulihat wajahmu yang penuh peluh tetap bersikukuh untuk menyerang. Kubiarkan kamu berbuat sesuka. Ini malam kita. Malam yang mungkin tak dapat kita temui lagi. Semakin cepat kau bergerak semakin keras lenguhanku. G...

CodeName

Hur många gånger måste jag berätta för dig? Om det inte är med mitt kodnamn. Då är historien inte rätt. Jag låter dig veta det hela tiden. Det är därför jag använder mitt kodnamn, kanske förstår du det. Du vet historien bakom namnet. Du frågar mig vad skulle jag ha? Jag vill inte ha någonting. Det gör bara ont för att veta det faktum. Att jag inte visste vad du ville ha. Vad du vet. Som om du inte ville ha mig, men du fortsätter att dra mig. Jag vet att vi inte kunde vara tillsammans. Eftersom detta bara är ensidigt. Men vad vill du ha? Jag saknar dig. Jag gör verkligen. - SeRa

Pernikahan

Marriage. Aku kadang ngeri mendengar kata ini. Bagiku pernikahan bukanlah suatu tujuan. Karena, dalam pikiranku, pernikahan adalah sesuatu yang tidak sesakral itu. Kenapa? Mungkin karena aku ada didalam sesuatu yang mereka sebut perceraian. Didalam artiku, pernikahan yang se-kramat itu bisa hancur hanya karena pihak lain yang mungkin dirasa lebih menggoda. Jadi, untuk apa menikah jika kita tetap menganut pada prinsip "jodoh siapa yang tahu"? Sampai sekarang, aku masih tidak mengerti kenapa teman-teman ku bersikeras ingin menikah muda. Pasalnya, untuk menikah, buatku, bukan hanya perkara menghalalkan pacaran. Bukan hanya menghalalkan "ena-ena". Bukan hanya menghalalkan kontak fisik yang selama ini mereka damba. Lebih dari itu, sesiap apa kamu untuk mengurus orang lain yang katanya kamu sayangi? Salut, pada mereka yang memutuskan untuk menikah muda. Berani sekali. Di usia yang bisa dibilang belum matang berpikir dan pengalaman berkomunikasi yang pastinya sedikit leb...