Langsung ke konten utama

Guess

Menjadi seorang Tieya Aulia, mungkin bagi beberapa orang itu mudah. Hanya perlu mengikuti semua alur yang ada dan menjadi manusia yang berguna. Tentu, hidupku akan menjadi sebegitu mulusnya pabila aku menuruti semua kemauan orang di sekitarku. Aku tak memiliki pilihan. Mau pun tak mau aku harus melakukannya. Tanpa mereka sadari, aku juga seonggok jiwa yang memiliki duniaku sendiri. Tak peduli, semua akan menuntutku patuh pada apa-apa yang mereka kehendaki. Ketika aku salah, makian sudah menjadi hal yang harus mau aku terima. Apabila aku melakukan sesuatu yang benar, ya memang itu sudah seperti seharusnya. Tak perlu ada apresiasi yang berarti, karena memang itu sudah menjadi kewajibanku.

Mungkin, yang selama ini aku cari adalah penerimaan. Bahwa tak mengapa aku gagal, tak mengapa jika terkadang aku ingin memilih jalanku sendiri, tak salah jika aku bersimpuh kelelahan dan berusaha untuk meyakinkan ku bahwa menangis adalah suatu hal yang manusiawi. Mungkin hanya sekedar itu. Tapi, dimana ciptaan Tuhan yang mau melakukan hal itu untukku?

Seyogyanya, semua hanya ingin dimengerti, tanpa ingin mengerti aku. Asalkan apa yang mereka butuh dariku sudah terpenuhi, mereka tak perlu bersusah menanyakan kabarku yang tertatih sendiri. Ya. Aku harus selalu terbiasa sendiri, tapi, bukankah aku juga manusia seperti kalian yang terkadang membutuhkan peluk setulus itu?

Mereka kadang lupa bahwa aku juga memiliki perasaan. Mereka terkadang lupa bahwa aku juga butuh dimengerti. Mereka terkadang lupa bahwa merekalah yang menjanjikan ku harapan. Mereka terkadang lupa atas semua tanggung jawab mereka.

Seringkali aku mendapatkan jawaban "Kamu boleh menangis semaumu" "Kamu boleh mengeluh apapun kepadaku" "Kamu boleh manja ke aku" "Kamu ga harus nanggung semuanya sendiri ko. Ada aku disini" "Aku bakalan selalu nerima kamu apa adanya"

But, guess what? None of them ever working out in the end. Ketika aku mulai menggantungkan harapanku, dan hidupku pada mereka. Mereka hanya akan berkata "Kamu jangan nangis" "Kan udah aku bilang kamu gaboleh sedih" "Aduh maaf aku lagi sibuk" "Kamu juga ngerti kan aku lagi sibuk" "Ya kamu jangan manja dong, ngegangtungin hidup kamu di orang lain"

Lucu ya hidup aku ini?

Jadi? Pada dasarnya aku tidak boleh egois kan? Aku tak boleh marah, semena-mena apapun orang memperlakukan ku. Aku tak boleh meminta bantuan, aku harus menyelesaikan semuanya sendiri. Aku tak boleh menangis. Aku harus selalu mau mengalah, sebagaimanapun kuatnya perasaan ku ingin mempertahankan pendapatku.

Jadi?

Aku ini robot ya? Hehe...

):)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bilamana

Pada suatu malam yang kudus, aku melepas penatku dipelukmu. Peluh membanjir, kita berenang dalam kesunyian. Bibir kita gemetar, meliuk saling merengut tak ingin lepas. Sementara mata kita kunci untuk tetap terpejam. Agar? Nafas liar kita semakin memburu! Kupekerjakan kamu, supaya badanku tetap hangat. Kubiarkan kamu melenguh dan menikmati. Tapi tak kubiarkan kamu melayang. Kujaga tetap pada aturannya. Biar kudapati tanya di wajahmu. Aku senang bikin kamu bingung. Langit dimalam itu mendung, bekas hujan tadi sore masih menyelinap di jendela. Memberi kamar kita yang sepetak kedinginan yang luar biasa. Itulah mengapa aku rapatkan badanku padamu. Dan itulah alasan kamu menjadi lebih liar daripada biasa. Kita diatas, kita dibawah. Saling mencumbu, saling tersenyum. Lucu. Saat kulihat wajahmu yang penuh peluh tetap bersikukuh untuk menyerang. Kubiarkan kamu berbuat sesuka. Ini malam kita. Malam yang mungkin tak dapat kita temui lagi. Semakin cepat kau bergerak semakin keras lenguhanku. G...

CodeName

Hur många gånger måste jag berätta för dig? Om det inte är med mitt kodnamn. Då är historien inte rätt. Jag låter dig veta det hela tiden. Det är därför jag använder mitt kodnamn, kanske förstår du det. Du vet historien bakom namnet. Du frågar mig vad skulle jag ha? Jag vill inte ha någonting. Det gör bara ont för att veta det faktum. Att jag inte visste vad du ville ha. Vad du vet. Som om du inte ville ha mig, men du fortsätter att dra mig. Jag vet att vi inte kunde vara tillsammans. Eftersom detta bara är ensidigt. Men vad vill du ha? Jag saknar dig. Jag gör verkligen. - SeRa

Pernikahan

Marriage. Aku kadang ngeri mendengar kata ini. Bagiku pernikahan bukanlah suatu tujuan. Karena, dalam pikiranku, pernikahan adalah sesuatu yang tidak sesakral itu. Kenapa? Mungkin karena aku ada didalam sesuatu yang mereka sebut perceraian. Didalam artiku, pernikahan yang se-kramat itu bisa hancur hanya karena pihak lain yang mungkin dirasa lebih menggoda. Jadi, untuk apa menikah jika kita tetap menganut pada prinsip "jodoh siapa yang tahu"? Sampai sekarang, aku masih tidak mengerti kenapa teman-teman ku bersikeras ingin menikah muda. Pasalnya, untuk menikah, buatku, bukan hanya perkara menghalalkan pacaran. Bukan hanya menghalalkan "ena-ena". Bukan hanya menghalalkan kontak fisik yang selama ini mereka damba. Lebih dari itu, sesiap apa kamu untuk mengurus orang lain yang katanya kamu sayangi? Salut, pada mereka yang memutuskan untuk menikah muda. Berani sekali. Di usia yang bisa dibilang belum matang berpikir dan pengalaman berkomunikasi yang pastinya sedikit leb...